
batampos – Lonjakan harga cabai di Batam dalam beberapa bulan terakhir mulai memukul pedagang makanan. Harga cabai yang tembus Rp80 ribu – Rp90 ribu per kilogram membuat biaya membengkak, sementara mereka tak bisa serta-merta menaikkan harga jual makanan.
Pantauan Batam Pos di pasar-pasar tradisional, harga cabai merah keriting kini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp55 ribu.
“Ini sudah menyiksa kami yang usaha makanan. Cabai bahan utama sambal. Harga naik, tapi kalau jualan dinaikkan, pelanggan lari,” kata Rum, pemilik warung makan di kawasan Sekupang, Kamis (11/12).
Baca Juga: Imigrasi Batam Buka Layanan Paspor di Golden City Bengkong dan Mal Botania 2
Pemilik warung mengaku serba salah. Mereka terpaksa menahan harga menu agar pelanggan tetap datang, namun konsekuensinya margin keuntungan semakin tipis.
“Sebulan ini biaya belanja dapur naik terus. Kami belum berani naikkan harga lauk. Kalau dinaikkan seribu saja pelanggan protes,” tambah Lina.
Ia mengakui, kebutuhan cabai dalam sehari bisa mencapai 2–3 kilogram. Dengan harga saat ini, total biaya sambal naik hampir dua kali lipat.
Sejumlah pedagang di pasar mengonfirmasi pasokan cabai dari Jawa dan Sumatera sedang berkurang. Cuaca buruk menyebabkan hasil panen menurun, sementara distribusi juga terkendala.
“Barang sedikit masuk Batam. Suplai dari Jawa juga tidak serutin biasanya. Makanya harga naik semua,” kata Rahmat, pedagang cabai di Pasar Fanindo.
Pedagang rumah makan khawatir harga cabai semakin liar menjelang Natal dan Tahun Baru, saat permintaan masakan meningkat.“Kalau naik lagi, kami bingung mau bagaimana. Naikkan harga tak bisa, kurangi sambal nanti pelanggan komplain. Serba salah,” kata Lina.
Para pelaku usaha makanan berharap pemerintah segera melakukan intervensi, seperti menambah pasokan atau menggelar operasi pasar untuk menekan harga cabai.“Kami hanya ingin harga kembali stabil. Bahan pokok ini tidak bisa diganti,” pungkasnya.
Baca Juga: Tidak Laik untuk Angkutan, Bentor Dilarang di Jalan Raya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, sebelumnya mengatakan bahwa sebagian besar kebutuhan cabai di Batam masih dipasok dari luar daerah seperti Mataram, Yogyakarta, Sumatera Utara, Aceh, dan Padang. Namun, karena daerah-daerah tersebut juga mengalami penurunan produksi, dampaknya terasa langsung terhadap kenaikan harga di Batam.
“Masalah harga cabai ini bukan hanya terjadi di Batam, tapi hampir di seluruh Indonesia. Karena itu, solusi yang paling realistis adalah memperkuat produksi sendiri,” ujar Mardanis.
Ia juga membandingkan harga cabai di Jakarta yang menyentuh 70 ribu per kg, sementara untuk cabai merah besar Rp 80 ribu per kg, bawang merah 50 ribu per kg.
Sementara itu, untuk produksi cabai merah di Batam yang baru panen hanya 100 kg per hari, sehingga belum bisa intervensi harga. Sementara di sisi kebutuhan di Batam untuk cabai merah di angka 15-20 ton per hari.
Saat ini pihaknya telah mengembangkan 15 ha cabe merah namun tanam tidak serentak, sehingga panen pun tidak serentak. Lahan cabai merah tersebut akan terus dikembangkan guna mengurangi kekertgantungan cabai merah dari luar daerah serta menekan harga cabai di pasaran.
“Produksi kita memang belum bisa menutupi seluruh kebutuhan Batam yang mencapai 10 hingga 15 ton per hari. Tapi dengan gerakan ini, setidaknya kita mulai menyiapkan pondasi agar tidak terus bergantung pada pasokan luar,” jelasnya. (*)



