
batampos – Kota Batam lagi-lagi diposisikan sebagai etalase keberhasilan tata kelola kawasan industri di Indonesia. Di tengah kompetisi daerah merebut investasi dan memperkuat fondasi ekonomi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, datang belajar langsung ke BP Batam. Fokusnya jelas: memahami bagaimana Batam mengakselerasi investasi hingga melampaui target dan membangun ekosistem kawasan yang kompetitif.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad menerima kunjungan kerja Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian, Rabu (21/1), di Ruang Rapat Lantai 8 Gedung Annex BP Batam. Pertemuan yang berlangsung di sela agenda Rapat Kerja Nasional APKASI itu membahas strategi penguatan investasi, pengelolaan kawasan industri, hingga tata kelola layanan dasar seperti air bersih.
Amsakar menjelaskan, transformasi Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) yang kini menunjukkan kinerja signifikan. Sepanjang 2025, realisasi investasi Batam mencapai Rp68,9 triliun, atau sekitar 115 persen dari target Rp60 triliun.
“Capaian investasi melampaui target IKU. Angka kemiskinan dan pengangguran juga menunjukkan tren menurun, selaras dengan perbaikan indikator kesejahteraan,” katanya.
Keberhasilan tersebut tak lepas dari sinergi antara BP Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Integrasi kebijakan antara otorita kawasan dan pemerintah daerah dinilai mempercepat proses perizinan, memperjelas arah pembangunan, serta menciptakan kepastian bagi investor. Model koordinasi inilah yang jadi salah satu perhatian utama rombongan Batu Bara.
Baharuddin Siagian menyampaikan apresiasinya atas capaian Batam dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai Batam memiliki keunggulan komparatif yang relevan untuk dijadikan benchmark pengembangan kawasan industri di Batu Bara.
“Kami melihat perubahan Batam yang luar biasa. Kami ingin berdiskusi dan melihat peluang di kawasan industri, pelabuhan, dan pengelolaan layanan,” kata dia.
Kabupaten Batu Bara sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan industri strategis di pesisir timur Sumatera Utara, dengan dominasi industri pengolahan aluminium dan oleokimia, serta potensi besar di sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan perdagangan. Namun, penguatan ekosistem kawasan, mulai dari konektivitas hingga tata kelola layanan dasar, dinilai menjadi prasyarat untuk meningkatkan daya saing investasi.
Dalam diskusi tersebut, Amsakar juga memaparkan peran BP Batam dalam pengelolaan air bersih sebagai regulator sekaligus eksekutor melalui kemitraan strategis dengan swasta. Skema ini dinilai mampu meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan air bagi sekitar 1,3 juta penduduk Batam. Model tata kelola ini turut menjadi perhatian Batu Bara dalam merancang sistem pelayanan air bagi kawasan industrinya.
Selain itu, pembahasan berkembang pada peluang konektivitas logistik antarwilayah. Batu Bara berharap terbangun jalur distribusi barang yang terhubung langsung dengan pelabuhan internasional di Batam. Dengan lima pelabuhan penumpang dan tiga pelabuhan kargo, Batam dinilai memiliki infrastruktur yang mendukung arus logistik regional dan internasional. (*)



