Jumat, 16 Januari 2026

Mahir Berkuda Sekaligus Memanah

spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos – Panahan berkuda atau horseback archery merupakan olahraga tradisional dari Turki. Olahraga tersebut sudah diakui UNESCO sebagai warisan kebudayaan, lho. Nggak hanya bermanfaat untuk melatih fisik, panahan berkuda juga melatih fokus, kepemimpinan, serta respons dalam menyikapi kuda yang ditunggangi. Ada Arsa Wening Arrosyad dan Arum Nazlus Shobah, duo kakak beradik yang kompak berprestasi dalam olahraga panahan berkuda. Yuk, kenalan sama mereka! (elv/c12/lai)

Foto-Foto: Arsa Wening dan Arum Nazlus Untuk Zetizen

Arum Nazlus Shobah, 14 tahun

Gadis berusia 14 tahun itu terinspirasi belajar panahan berkuda karena sang kakak, Arsa. Ketika kakaknya dilatih, otomatis Arum turut diberi busur sendiri. ’’Waktu itu masih kelas II SD, jadi belum serius berlatih. Nah, selama pandemi ini, ayah mengarahkan Arum untuk fokus menguasai berkuda,’’ ungkapnya. Sebagaimana Arsa, dia memulai latihannya dengan busur tradisional.

Arum dilatih kakak iparnya yang juga pernah mendapat Juara 2 Dunia Horseback Archery 2019 di Iran. Melihat kemampuan riding yang berkembang pesat, pelatih menyarankan Arum untuk berlatih horseback archery. ’’Kalau akhir pekan, aku pergi ke stable untuk berlatih. Seminggu bisa dua kali latihan berkuda. Ayah memberikan Arum kuda yang lucu, tapi tinggi. Namanya Ashariah. Kuda itu jadi temanku di kala bosan,’’ tuturnya.

Arum sempat ingin berhenti. Sebab, di tiap pertandingan yang bertemu dengan kakaknya, dia selalu kalah. Apalagi sekitar 2018, belum banyak anak perempuan seumuran Arum yang berlatih tradisional horsebow. ’’Sebagai pemanah berkuda wanita dan berhijab, tentu nggak mudah untuk bergerak secara fleksibel. Baju yang aku pakai harus didesain khusus agar lincah saat berkuda dan memanah,’’ terang Arum.

Well, panahan berkuda memang nggak mudah dan risikonya tinggi. Buat kamu yang mau belajar, harus sabar dan mengutamakan keselamatan. Semangat!

Penghargaan Arum Nazlus Shobah, 14 tahun

Arsa Wening Arrosyad, 16 tahun

Arsa, sapaan akrabnya, menekuni panahan berkuda sejak belajar memanah dengan menggunakan busur tradisional. Meski saat itu masih duduk di bangku SD, Arsa menjadi salah seorang anak Indonesia yang menguasai panahan tradisional. Dia bahkan mengikuti turnamen pada kategori dewasa, lho! Arsa kemudian mulai belajar berkuda pada 2019. Dia memberi nama kudanya Wening. Setelah belajar intensif di training center KPBI, barulah Arsa belajar horseback archery.

Siswa kelas IX itu tinggal di asrama sekolah. Dia pulang empat kali dalam setahun. Jadwal latihan Arsa praktis hanya saat libur atau ada turnamen dan mendapatkan izin dari sekolah. ’’Kebetulan barusan punya jadwal rutin dua minggu sekali. Ada lima kuda Arsa yang dibawa ke sekolah dan jadi fasilitas pelatihan untuk murid-murid,’’ tuturnya.

Tentu, belajar panahan berkuda sejak kecil menimbulkan rasa jenuh di titik tertentu. Namun, ayah Arsa selalu punya cara kreatif agar bisa terus konsisten dalam berlatih. Misalnya, dua kali mengirim Arsa ke Turki untuk belajar.

’’Menjadi atlet bukan bagian dari cita-citaku. Sebagai penggiat panahan berkuda, olahraga ini mendidikku untuk memiliki jiwa leadership, tanggung jawab, serta peduli sekitar,’’ ungkapnya. Selain panahan berkuda, Arsa gemar bermain voli, futsal dan aktif ikut Pramuka. Dia bakal ikut Jambore Internasional Pramuka di Korea Selatan tahun depan. Wah!

’’Aku punya target untuk memecahkan rekor juara dunia panahan berkuda termuda sebelum berusia 17 tahun,’’ harap Arsa.

Untuk mewujudkannya, dia rajin mengikuti kompetisi internasional. Bagi Arsa, prestasi adalah bonus. Kalau mahir dan apa adanya, kompetisi bisa dijalani tanpa beban. (***)

Penghargaan Arsa Wening Arrosyad, 16 tahun

                                                                                                                                                          “Manfaat Berkuda dan Memanah yang Kian Digemari”

Reporter : Vany Aliffia
Editor : Agnes Dhamayanti

Olahraga memanah disertai berkuda memang tak sepopuler seperti olahraga lainnya. Padahal manfaat dari kedua olahraga ini sangat bagus untuk kesehatan tubuh, lho!! Gerakan tubuh yang dilakukan saat memanah ber­manfaat untuk tubuh bagian atas tubuh. Namun, apa aja sih manfaat dari olahraga sunah ini menurut pendapat dari teman – teman zets? Yuk Simak!! (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Abed Nego Hutasoit
Politeknik Negeri Batam
@hutasoittabed

Menurutku manfaat dari olahraga berkuda ini mungkin seperti bersepeda tapi pastinya jauh lebih menantang. Nah, selain melatih untuk mengontrol apapun yang dipegang, keseimbangan juga perlu dilatih dan butuh daya tahan pada saat menaiki kuda. Dan manfaat dari memanah adalah dapat meningkatkan koordinasi antara mata dan tangan serta keseimbangan, meningkatkan kesabaran, fokus, dan membangun kepercayaan diri. (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Rosa Dwi Putri Sinaga
Politeknik Negeri Batam
@rsdwip.sng

Berlatih tak hanya berkuda dan memanah, namun juga berkuda sambil memanah. Sejumlah persiapan harus dilakukan seperti menggunakan helm, sepatu noots khusus berkuda, pelatih atau infrastruktur yang akan membimbing selama di lapangan. Jika dilakukan dengan benar dan rajin berlatih, maka keduanya bisa dilakukan bersama-sama yang disebut olahraga berkuda sambil memanah. Adapun manfaat dari kedua olahraga ini adalah meningkatkan konsentrasi dan melatih kedisiplinan jika dilakukan dengan tepat. (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Suci Evita Sari
Politeknik Negeri Batam
@sucievita

Olahraga menunggang kuda serta memanah belakangan ini sedang menjadi tren. Sayangnya ditengah hobi berkuda yang terbilang cukup bergengsi ini kerap kali dipandang sebelah mata. Kebanyakan orang menganggap berkuda dan memanah hanyalah sebuah kegiatan hiburan. Tetapi ada manfaatnya, lho. Olahraga ini bisa mengendalikan emosi dari kuda yang ditunggangi serta dapat membangun kekuatan otot yang dimulai dari menarik panah yang memberikan tekanan pada otot dan digunakan untuk memastikan pundak tetap stabil. (*)

Update