Jumat, 3 April 2026

Masuk Singapura semakin Mudah

spot_img

Berita Terkait

spot_img

 

batampos – Singapura memasuki babak baru pekan depan. Hampir semua pembatasan terkait Covid-19 dicabut. Baik itu untuk aktivitas di dalam negeri maupun kedatangan internasional. Mulai 1 April, Singapura akan hidup berdampingan dengan virus SARS-CoV-2 tersebut.

’’(Pemerintah) melonggarkan pembatasan perjalanan akan menghubungkan kembali Singapura dengan dunia,’’ ujar Perdana Menteri (PM) Singapura, Lee Hsien Loong, dalam pidatonya, Kamis (24/3) seperti dikutip Agence France-Presse.

Mulai 31 Maret pukul 23.59, program jalur perjalanan tervaksinasi (VTL) di Singapura akan dihapus. Singapura berganti mengadopsi aturan yang jauh lebih sederhana.

Semua pelancong yang sudah mendapat vaksin lengkap, baik itu orang dewasa maupun anak-anak 12 tahun ke bawah, bisa masuk Singapura tanpa karantina. Mereka cukup menunjukkan bukti negatif Covid-19 sebelum keberangkatan. Tidak perlu lagi mengajukan izin masuk dan menggunakan transportasi yang ditunjuk seperti saat program VTL berlaku.
Kuota harian kedatangan turis asing juga dihapuskan.

Mereka tidak akan mendapatkan peringatan lewat aplikasi. Tes antigen (ART) saat tiba di Singapura juga dihapus. Intinya, ke Singapura sudah semudah sebelum pandemi, asalkan sudah divaksin lengkap dan negatif Covid-19.

Namun, untuk yang belum divaksin sama sekali atau yang belum lengkap, rata-rata tidak boleh masuk. Itu termasuk pemegang kartu kunjungan jangka panjang dan jangka pendek.

Pengecualian diberlakukan jika memang sakit dan tidak memungkinkan divaksin, atau mereka yang memiliki persetujuan masuk yang sah dengan beberapa alasan seperti belas kasih. Kelompok ini harus menunjukkan bukti negatif Covid-19 dua hari sebelum keberangkatan, tetap diminta isolasi selama 7 hari dan menjalani tes PCR setelah masa karantina.
Para pelancong yang negaranya masuk dalam daftar terlarang tidak bisa datang ke Singapura. Namun, sejauh ini belum ada negara yang masuk dalam daftar tersebut.

’’Kebijakan ini akan memberikan dorongan yang sa-ngat dibutuhkan untuk bisnis, khususnya sektor pariwisata. Ia juga akan membantu Singapura merebut kembali posisinya sebagai pusat bisnis dan penerbangan,’’ tegas Lee.

Singapura termasuk negara yang menerapkan kebijakan ketat terkait pandemi. Pandemi juga membuat Singapura mengalami resesi terburuk pada 2020.

Mulai Selasa (29/3), penduduk Singapura tak perlu lagi memakai masker di luar ruangan. Tapi, di dalam ruangan, masker tetap diwajibkan, termasuk saat naik transportasi umum. Batasan untuk berkumpul berdekatan juga naik dari 5 orang menjadi 10 orang.

Kapasitas pekerja yang di-perbolehkan di kantor naik dari 50 persen menjadi 75 persen. Pertunjukan langsung seperti menyanyi di kafe kini diperbolehkan lagi. Acara-acara seperti pesta ulang tahun, pesta perayaan pernikahan, dan lain sebagainya diperbolehkan. Dalam satu meja maksimal 10 orang dan jarak antarmeja 1 meter.

Khusus untuk Malaysia, ada perlakuan istimewa. Sebab, setiap hari ada ribuan warga Malaysia yang pergi pulang ke Singapura untuk bekerja.

Mereka yang sudah divaksin lengkap bisa lewat jalur darat tanpa tes Covid-19 ataupun karantina. Kendaraan yang digunakan bebas. Baik itu bus yang disediakan khusus ataupun kendaraan pribadi.

’’Ini akan memberikan kontribusi pada upaya pemulihan yang berdampak positif bagi perekonomian dan penghidupan masyarakat kedua negara,’’ ujar Perdana Menteri Malaysia Isamil Sabri Yaakob.

Malaysia rencananya juga mulai membuka perbatasan per 1 April. Bedanya, uji Covid-19 di Malaysia dilakukan sebelum keberangkatan dan pasca kedatangan. Sedangkan karantina tidak diperlukan lagi.

Sejumlah warga Singapura tengah menikmati suasana di patung Merlion, Kamis (24/3). Singapura mencabut kebijakan VTL untuk mendongkrak sektor bisnis terutama pariwisata. Kebijakan pemerintah Singapura ini diharapkan juga mendongkrak pariwisata Kepri.

Selain itu, pengunjung jangka pendek ke Singapura tidak lagi harus menunjukan bukti konfirmasi pemesanan hotel atau pembayaran selama di Singapura. Juga tak harus menunjukan tiket feri pulang pergi.

Namun, yang memasuki Singapura dalam jangka pendek tetap diwajibkan untuk membeli asuransi perjalanan, dengan pertanggungan minimum SGD 30 ribu. Hal ini demi berjaga-jaga jika harus mendapatkan perawatan medis akibat Covid-19 selama di Singapura.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar, mengaku belum mendapatkan edaran resmi terkait kebijakan ini. ”Melalui beberapa media sudah, tapi resminya dalam bentuk aturan atau surat edaran belum,” kata dia, Kamis (24/3/2022).

Tapi, jika memang kabar penghapusan kuota itu valid, Buralimar mengatakan itu sangat memberikan dampak besar terhadap pariwisata di Kepri.

”Sebab tidak satu atau dua pelabuhan saja bisa beroperasi. Tapi semuanya sudah bisa, pastinya jumlah kunjungan wisman akan meningkat,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, ia mengatakan Gubernur Kepri Ansar Ahmad terus melobi pemerintah pusat untuk memberikan diskresi aturan terhadap Kepri. Ada beberapa aturan yang sedang di lobi oleh Ansar untuk memudahkan mendatang-kan wisman ke Kepri. ”Saat ini sudah bebas visa, ditambah VoA,” ujarnya.

Ke depan, jumlah negara yang masuk dalam VoA akan ditambah lagi. Sehingga, dapat meningkatkan jumlah wisman yang masuk ke Kepri. Selain itu, aturan PCR juga sedang di lobi. ”Gubernur sedang meminta agar PCR dikurangi atau digantikan dengan Antigen saja,” ucapnya.

Ia berharap beberapa aturan yang selama ini, semakin mudah dan membuat wisman nyaman datang ke Kepri.

”Semuanya kami usahakan, dan sedang dalam lobi-lobi,” ungkapnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Muhammad Mansyur, memandang aturan yang dikeluarkan Pemerintah Singapura sangat simpel dan jelas. Ia berharap Pemerintah Indonesia juga bisa mengeluarkan aturan sejenis. ”Harus jelas,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ada beberapa aturan yang masih memberatkan wisman datang ke Indonesia. Pertama, mengenai PCR yang masih diterapkan, sedangkan Singapura sudah menggunakan antigen.

Selain itu, wisman masih diminta menunjukkan bookingan hotel dan rencana selama berada di Batam. ”Singapura sudah tidak lagi,” ujarnya.

Mansyur mengatakan, koleganya di Singapura masih mempertanyakan regulasi yang berlaku di Indonesia.

”Semoga kedepan aturannya lebih mudah dan membuat nyaman orang datang. Sebab sejauh ini VoA dan SE No 13 tidak memberikan dampak signifikan terhadap kunjungan wisman ke Batam,” ungkapnya.

Salah seorang pelaku pariwisata, Febriansyah mengaku masih menunggu realisasi aturan tersebut. ”Kami sudah capek, hampir dua tahun seperti ini. Katanya akan buka, tapi tak jadi. Lalu katanya buka, pas buka begini. Kami lihat sajalah dulu realisasinya,” ujarnya.

Pemilik Tour and Travel ini mengaku sampai saat ini bertahan, dengan berjualan paket wisata ke Batam dan Bintan. ”Paling satu paket saja sebulan dan kunjungan wisnus. Kalau kunjungan wisman belum lagi,” ucapnya.

Ia berharap jika memang dibuka, semoga memberikan dampak yang signifikan.

”Saya tahu memang tidak akan bisa membaik seperti sebelum pandemi. Setidaknya sudah dimulailah,” katanya. (*)

UPDATE