Selasa, 13 Januari 2026

MBG Selama Libur Sekolah di Batam Dikeluhkan, Menu Dinilai Dipaksakan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Jajanan MBG yang didapat siswa di Batam dari sekolah. (F.Rengga Yuliandra)

batampos – Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan selama libur akhir tahun di Kota Batam menuai keluhan dari masyarakat. Sejumlah orang tua siswa menilai menu yang diberikan tidak sebanding dengan durasi pembagian serta dinilai minim kandungan gizi.

Salah satunya terjadi di sekolah di kawasan Batam Center. Selama empat hari libur, siswa menerima satu paket MBG yang berisi empat butir telur, dua buah apel, biskuit kemasan, kacang-kacangan, dua lembar keju, serta satu botol minuman soya. Seluruh paket tersebut diberikan sekaligus untuk konsumsi empat hari.

“Ini untuk empat hari, tapi isinya seperti ini. Terasa dipaksakan, apalagi ini dibagikan saat libur sekolah,” ujar Darsih, salah satu orang tua siswa penerima MBG, kemarin.

Menurut Darsih, menu MBG yang diterima mayoritas berupa makanan kemasan dan instan yang kandungan gizinya tidak dijelaskan secara rinci kepada orang tua.

“Kebanyakan makanan sachet. Kami juga tidak tahu kandungan gizinya apa. Katanya makanan bergizi, tapi kami sebagai orang tua jadi bingung melihat menunya,” ungkapnya.

Keluhan serupa juga disampaikan penerima MBG di sejumlah perumahan di kawasan Sambau, Batam. Program MBG untuk balita dan ibu hamil disebut kerap diisi dengan menu makanan instan, sehingga menimbulkan tanda tanya terkait standar gizi yang diterapkan.

Salah seorang penerima MBG lainnya, sebut saja Emi menyebut pembagian menu untuk empat hari sekaligus terasa tidak masuk akal. Ia menilai konsep makanan bergizi justru tidak tercermin dari paket yang dibagikan.

“Kenapa harus dipaksakan untuk empat hari? Katanya makanan bergizi, tapi menunya tidak jelas,” ujarnya.

Emi menyebutkan menu MBG yang sempat diterima di hari tersebut berupa nasi, ayam krispi, sayur, dan jeruk. Namun untuk 3 hari selanjutnya, ia kembali mendapatkan tiga bungkus makanan tambahan yang masing-masing hanya berisi biskuit, telur, sepotong bolu, dan pisang dan susu.

“Kalau yang nasi itu masih masuk akal. Tapi setelahnya isinya biskuit dan telur saja. Satu bungkus isinya ada 3 jenis dan ada 4, dibeda-bedakan. Jadi kami benar-benar heran,” katanya.

Sejumlah orang tua berharap pihak penyelenggara, khususnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, terutama saat libur panjang. Mereka meminta agar kualitas, variasi menu, serta kecukupan gizi benar-benar diperhatikan, terutama bagi anak-anak, balita, dan ibu hamil yang menjadi sasaran utama program.

“Dievaluasi lagi deh menunya, jangan dipaksakan kalau tak bisa. Seperti ladang korupsi kalau menunya seperti ini,” tukasnya. (*)

ReporterYashinta

Update