
batampos – 27 November 2024, Pilkada dilaksanakan serentak. Rudi yang maju memperebutkan kursi Gubernur Kepri kalah cukup telak di Kota Batam. Rudi yang berpasangan dengan Aunur Rafiq hanya mengumpulkan suara sebanyak 203.620 berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Batam. Sementara, Ansar Ahmad yang berpasangan dengan Nyanyang Haris Pratamura mendapatkan 217.962 suara.
Dari 12 kecamatan di Batam, Rudi hanya menang di Seibeduk, Bengkong, dan Batamkota, serat Sagulung. Sedangkan 8 kecamatan lainnya, perolehan suara Ansar jauh lebih tinggi.
Kekalahan Muhammad Rudi di kandangnya sendiri, Batam, mengejutkan banyak pihak. Sosok Rudi dikenal luas oleh masyarakat—pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota selama lima tahun, Wali Kota Batam selama sepuluh tahun, serta Kepala BP Batam. Kiprahnya yang panjang membuat namanya begitu lekat diingatan warga.
Selama menggawangi Pemko dan BP Batam, banyak pembangunan fisik dilakukan Rudi. Mulai dari pelebaran jalan, revitalisasi pelabuhan, bandara, tiga masjid ikonik, dan masih banyak lagi. Sehingga, tidak ada alasan bagi warga Batam untuk tidak memilih Rudi.
Tapi, Pilkada Kepri menjadi saksi kekalahan Muhammad Rudi di kandangnya sendiri, Kota Batam. Kekalahan mengejutkan Rudi di Batam, memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat politik dan pendukungnya.
Meski memiliki modal politik dan finansial yang besar, strategi kampanye yang tidak terorganisir disebut-sebut menjadi salah satu alasan utama kekalahannya. Bahkan, partai pengusung dan tim suksesnya dinilai gagal mengelola kampanye dengan baik.
Hal itu diungkapkan oleh seorang pengurus teras partai pendukung Rudi-Rafiq di Pilgub Kepri 2024. ”Struktur kampanye kurang jelas dan faktor internal,” kata pria yang enggan namanya disebutkan.
Ia mengungkapkan, ketidakjelasan dalam struktur tim kampanye yakni tidak pernah dirinya diundang rapat koordinasi. ”Bahkan daftar tim kampanye pun tidak pernah terlihat. Saya baru lihat susunannya, setelah Anda (Batam Pos) perlihatkan,” ucapnya.
Dia mengatakan, bahwa banyak kegiatan yang seharusnya bisa menjadi momen konsolidasi, seperti deklarasi dan debat. ”Segala informasi, seperti deklarasi atau debat, hanya kami dapatkan dari media,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia menyoroti, bahwa kerja-kerja politik yang dilakukan tidak berjalan efektif. Manajemen kampanye yang buruk menjadi kelemahan mendasar.
Selain itu, kelompok masyarakat yang ingin mendukung Rudi merasa tidak terakomodir dengan baik.
”Contoh nyata terjadi ketika 700 orang dari kelompok ibu-ibu yang ingin hadir dalam acara kampanye batal karena tidak adanya transportasi dan dukungan logistik. Banyak kelompok-kelompok seperti ini. Situasi ini menjadi peluang bagi kubu lawan, Ansar Ahmad dan timnya, untuk merebut dukungan,” ujar pria itu sembari menyeruput kopi hitam kesukaanya di JCO One Batam Mall, Rabu (4/12).
Salah satu kritik tajam yang dilontarkan adalah tidak berjalannya mesin partai. Dia menilai bahwa struktur partai pengusung, gagal memberikan kontribusi signifikan.
“Mesin partai tidak jalan, yang jalan malah mesin kopi,” sindirnya.
Selain itu, tim media yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membangun citra Rudi juga dinilai kacau balau. Informasi yang disampaikan kepada publik tidak sederhana dan sulit dipahami masyarakat.
“Visi misi Rudi itu bagus, tapi penyampaiannya terlalu tinggi. Publik butuh bahasa yang sederhana dan mudah dicerna,” ucapnya.
Dia memberikan penilaian buruk atas kinerja tim media Rudi. “Pemberitaan Rudi terlalu mononton. Dari segi pemberitaan saja, saya menilai kualitasnya hanya 25 persen,” katanya.
Kekalahan Rudi juga dikaitkan dengan kurangnya perhatian terhadap kandangnya sendiri, Batam. Saat Rudi sibuk memperluas dukungan di luar Batam karena sudah yakin menguasai Batam, Ansar Ahmad dan timnya justru fokus menggempur Batam. Tak ada tim Rudi yang berusaha menjaga gempuran Ansar di Batam.
“Rudi seperti menutup diri. Sampai hari H, kami tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan tim kampanye di Batam,” katanya.
Ia menyebutkan, Rudi terlalu bergantung dengan survei yang menunjukkan keunggulan enam persen atau 10 persen. Namun, hasil akhir membuktikan bahwa strategi ini tidak cukup untuk menghadapi stretegi yang dilakukan kubu Ansar.
”Sampai detik ini, saya masih merasa tak mungkin Rudi kalah. Finansial, modal politik, modal kinerja di Batam. Tapi, begitulah faktanya, Rudi kalah di Batam,” ujarnya mengakhiri pembicaraan dengan Batam Pos.
Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Rudi dan Rafiq, Kamaludin, angkat bicara terkait berbagai isu yang mencuat usai kekalahan pasangan tersebut di Pilkada Kepulauan Riau 2024.
Kamal mengatakan, tim pemenangan solid dan bekerja maksimal sesuai arahan konsultan.
”Tim kami solid, semua bekerja dengan baik. Baik tim media, advokat, hingga monitoring data, semua kompak,” ujar Kamaludin kepada Batam Pos, Jumat (6/12).
Ia membantah tuduhan adanya kekacauan internal dalam tubuh tim pemenangan. Menurutnya, seluruh tahapan seperti rapat koordinasi, peluncuran, hingga penutupan kampanye telah dilakukan dengan terorganisir.
”Tahapan sudah kami ikuti, namun waktu memang menjadi salah satu tantangan,” ucapnya.
Saat disinggung mengenai isu bahwa Rudi terlalu fokus di luar Batam sementara lawan politik lebih intensif menggarap Batam, Kamal menjawab diplomatis. ”Kami bergerak sesuai arahan konsultan. Kalau ada tim lain masuk, itu wajar saja,” katanya.
Namun, ia juga mengakui beberapa faktor yang memengaruhi hasil akhir Pilkada. Salah satunya, tidak semua mesin partai bekerja maksimal.
”Hanya sebagian perwakilan pengurus partai yang benar-benar berjalan,” ungkapnya.
Terkait isu bahwa pasangan Rudi-Rafiq kurang menggarap suara minoritas, Kamaludin menyatakan hal itu mungkin saja terjadi.
”Penggarapan kami berbasis TPS. Sebagai contoh, ada 3.710 TPS yang didatangi saat kampanye, mencakup 80 kecamatan. Jadi, kami merasa sudah mengupayakan maksimal dari segi demografi,” ucapnya.
Kamal menilai strategi komunikasi tim Rudi-Rafiq menjadi salah satu kekuatan mereka selama Pilkada. Dia memberikan, apresiasi tinggi kepada tim media Rudi-Rafiq.
”Kami salut. Dari hitungan internal, media kami paling unggul dibandingkan tim lain. Narasi yang dibangun tajam namun tetap santun, tanpa menggunakan pola serangan,” ujarnya.
Kamaludin mengakui, bahwa kekalahan Rudi-Rafiq memang mengejutkan tim.
”Tiga hari menjelang hari tenang, kami masih optimis menang. Hasil survei internal menunjukkan keunggulan di wilayah-wilayah seperti Batam, Tanjungpinang, Karimun, dan Natuna. Bahkan, reaksi masyarakat saat kampanye sangat positif,” ujarnya.
Namun, hasil Quick Count menunjukkan kekalahan bagi pasangan tersebut. Meskipun demikian, Kamaludin menyatakan bahwa tim pemenangan menerima hasil Pilkada dengan lapang dada.
”Kami mengikuti semua tahapan penghitungan, mulai dari pleno PPK hingga tingkat kabupaten/kota. Kami menghormati dan menghargai hasil tersebut,” tuturnya.
Namun, ia juga menyoroti rendahnya partisipasi pemilih yang hanya mencapai 46 persen sebagai salah satu kendala yang memengaruhi hasil akhir.
Tim hukum Rudi-Rafiq, yang sudah dibentuk sejak awal, kini tengah mengumpulkan temuan-temuan terkait dugaan pelanggaran selama Pilkada.
”Proses hukum akan berjalan sesuai tahapan waktu yang ada. Ketika waktunya tiba, kami akan menyampaikan temuan tersebut,” kata Kamaludin.
Mengakhiri wawancara, Kamaludin menegaskan bahwa tim Rudi-Rafiq telah berjuang maksimal mengikuti arahan konsultan pemenangan yang kredibel, termasuk dari LSI.
”Kami menghargai proses demokrasi yang berlangsung jujur dan adil,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Rahmayadi Mulda, mengungkapkan, bahwa kekalahan Rudi di Batam dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.
Salah satu faktor utama, menurutnya, adalah sikap politik Rudi yang berseberangan dengan partai penguasa saat ini, yaitu Partai Gerindra.
Selain itu, melemahnya dukungan dari masyarakat Melayu akibat kasus Rempang Galang juga menjadi pukulan telak.
”Pendukung loyal dan setia Rudi di Batam selama ini berasal dari kalangan masyarakat Melayu. Namun, sejak kasus Rempang Galang pecah, kekuatan Rudi di kalangan masyarakat lokal mulai memudar,” katanya, Sabtu (7/12).
Ia menambahkan, Rudi juga menghadapi keterbatasan dalam membangun jejaring politik di tingkat nasional karena tidak mendapatkan dukungan dari partai penguasa. Hal ini berdampak pada strategi politik Rudi yang sulit berkembang.
”Posisi Rudi tidak memungkinkan untuk melakukan banyak manuver politik. Dukungan dari masyarakat juga semakin menurun,” katanya.
Kekalahan ini menjadi catatan penting bagi Muhammad Rudi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh kuat di Batam. Meski telah berkontribusi besar selama lebih dari satu dekade, dinamika politik dan respons masyarakat terhadap isu-isu tertentu tampaknya menjadi faktor krusial yang menentukan hasil Pilgub Kepri. (*)



