Kamis, 15 Januari 2026

Mengingat Jejak Nong Isa: Pemko Batam Ziarah Menyambut Usia ke-196

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Walikota Batam Amsakar Achmad bersama Wakil Walikota Batam Li Claudia Chandra, Ketua PKK Kota Batam, dan Muspida melakukan ziarah ke makam Zuriat Nong Isa di Nongsa, Jumat (12/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196, suasana Masjid At-Taqwa Nongsa terasa lebih khidmat dari biasanya. Jumat (12/12) pagi, makam Zuriat Nong Isa, tokoh penting yang menjadi penanda awal sejarah Batam, jadi pusat perhatian dalam kegiatan ziarah yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Batam.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra, memimpin langsung prosesi ziarah. Mereka hadir bersama jajaran Forkompinda, serta tokoh zuriat. Kegiatan sederhana itu berlangsung penuh makna, mencerminkan penghormatan pada perjalanan panjang Batam.

Ziarah bukan soal ritual tahunan belaka. Ini adalah ruang untuk merawat memori kolektif tentang lahirnya Batam, jauh sebelum kota ini berkembang jadi pusat industri dan investasi strategis seperti sekarang.

Di sela prosesi, Amsakar mengenang kembali proses penetapan HJB. Menurutnya, penetapan tanggal itu melewati diskusi panjang dengan banyak pihak dan merujuk pada berbagai tokoh sejarah, mulai dari Temenggung Abdul Jamal sampai Raja Ali Kelana.

Baca Juga: RS Awal Bros Batam Catat Sejarah, Lakukan Operasi Robotik Ortopedi Pertama di Sumatera Bagian Selatan

Perdebatan panjang itu akhirnya mengerucut pada sosok Nong Isa atau Raja Isa. Dokumen otentik dari Arsip Nasional menjadi bukti penentu, terutama catatan Sultan Abdurrahman dan Raja Jakfar yang menugaskan Nong Isa pada 22 Jumadil Akhir 1245 Hijriah atau 18 Desember 1829.

“Diskusinya panjang, tiga kali pertemuan besar dan dua seminar. Keputusan akhirnya kita temukan dalam dokumen yang jelas menyebut tanggal dan mandat itu,” kata Amsakar.

Ia menjelaskan, sejak penugasan itulah Batam mulai terbentuk sebagai wilayah dengan struktur pemerintahan lokal. Pada masa awal, Batam bahkan dikenal sebagai tempat singgah para musafir yang hendak menunaikan ibadah haji melalui Singapura.

Dari tempat singgah itu tumbuh pemukiman, aktivitas perdagangan, hingga perjalanan panjang tata kelola pemerintahan. Status Batam meningkat menjadi wakil schap pada era kolonial, lalu berkembang menjadi pusat pemerintahan lokal pada 1882.

Kemajuan Batam semakin terasa setelah kemerdekaan Indonesia. Babak baru hadir melalui Otorita Batam yang mendorong industrialisasi, hingga berlanjut pada status kota otonom yang kini menjadikan Batam sebagai pusat industri, logistik, pariwisata, dan investasi nasional.

Tahun ini, Hari Jadi Batam mengusung tema “Unggul dan Berdaya Saing”. Unggul menggambarkan upaya penguatan pelayanan publik dan sumber daya manusia, sedangkan berdaya saing mencerminkan visi untuk menjadikan Batam sebagai kawasan dengan daya tarik ekonomi internasional.

“Yang kita perlukan sekarang adalah bergerak bersama. Bukan lagi membahas hal-hal yang kontraproduktif. Fokus kita adalah masa depan Batam,” ujar Amsakar.

Baca Juga: BP Batam Tegaskan Aturan, PT Global Pratama Indonesia Harus Pulihkan ROW 30

Dia juga mengajak para tokoh zuriat dan seluruh masyarakat memperkuat kebersamaan menuju usia dua abad Batam. “Kita harus berjalan seirama. Mari gunakan momentum hari jadi ini untuk mempertautkan hati,” tambahnya.

Sementara itu, Li Claudia juga menyampaikan apresiasi dan rasa bahagianya. Ia menilai, ziarah tersebut penting bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

“Kegiatan seperti ini harus terus dilestarikan agar anak-anak muda memahami sejarah Batam. Kita tidak boleh melupakan sejarah,” katanya.

Pernyataan itu menjadi penegas, bahwa pembangunan Batam terus berlari maju, namun tetap berpijak pada jejak sejarah yang menjadi fondasi awal perjalanan kota ini.

Prosesi ziarah ditutup dengan doa bersama. Para peserta tampak memancarkan harapan yang sama: menjadikan Batam semakin maju dan solid menghadapi perkembangan zaman. (*)

ReporterArjuna

Update