Kamis, 15 Januari 2026

Mensos Risma Siapkan Program Pemberdayaan Ekonomi untuk Suku Laut Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini berkunjung ke Pulau Bertam, Selasa (7/6). F.Rengga Yuliandra

batampos – Meski berada di wilayah terluar Indonesia, suku laut Batam ternyata tak lepas dari perhatian Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini. Ia bahkan meluangkan waktu berkunjung ke Pulau Bertam, Kelurahan Kasu, Belakangpadang, Selasa (7/6) kemarin.

Kehadiran Risma di Pulau Bertam, tentunya tidak sekadar melihat, tapi dalam rangka pemetaan potensi wilayah yang ditempati suku laut, yang muara akhirnya membuat program pemberdayaan masyarakat suku laut, agar ekonomi mereka lebih berdaya.

“Saya ingin suku laut yang ada di Batam, khususnya di Kawasan Terluar, Tertinggal, dan Terdepan (3T) lebih sejahtera,” ujar Risma, di sela-sela kunjungan tersebut.

Risma dan tim pun menyiapkan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PKAT) dan Program Kewirausahaan Sosial (Prokus) besutan Kementerian Sosial (Kemensos).

Di Kelurahan Kasu, terdapat tiga pulau yang dihuni Suku Laut yaitu, Pulau Bertam, Lingke, dan Pulau Gara. Jumlah penduduk Suku Laut di Pulau Bertam 57 Kepala Keluarga (KK) atau 153 Jiwa. Mayoritas mata pencahariannya mereka menangkap ikan dan mengolahnya dengan peralatan yang masih sederhana.

Kedatangan Risma ke Suku Laut tidak hanya ditemani oleh jajaran dari Kemensos, tetapi juga di dampingi Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Risma mengatakan, kolaborasi Kemensos dengan ITB ini juga dalam rangka melakukan perencanaan dan penyusunan program pemberdayaan dengan memanfaatkan tekonologi, meninjau sekaligus melakukan survei langsung untuk menggali lebih mendalam kebutuhan warga Suku Laut yang bisa diakomodir dari hasil kolaborasi ini.

“Kita menginginkan masyarakat di wilayah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan (3T) di Batam ini bisa maju dengan memanfaatkan potensi daerah secara maksimal,” ujarnya.

Kemensos bersama ITB melihat potensi yang bisa dikembangkan untuk kemajuan masyarakat Pulau, baik dari sisi perekonomian hingga aksesabiliti yang layak.

“Perencanaan ini sudah dari tahun lalu, namun masih belum puas. Dengan anggaran terbatas, saya meminta bantuan kepada teman-teman Alumni ITB untuk membantu bagaimana membuat desain yang baik yang ramah lingkungan supaya dilihat dari luar itu civilized (layak),” ujar Risma.

Risma melihat perlu adanya upaya maksimal untuk pengembangan kawasan 3T di Batam. Karena ini berhadapan dengan negara lain. Terlebih kawasan tertinggal ini juga merupakan kawasan terluar, jadi pulau ini merangkap statusnya, berhadapan dengan negara lain.

Menurutnya, pengembangan kawasan ini bisa berjalan maksimal, akan berdampak positif terhadap pendapatan warga setempat. Pihaknya menginginkan, daerah-daerah seperti pulau-pulau perbatasan ini juga dapat maju seperti wilayah di kota. Apalagi daerah ini berhadapan langsung dengan negara tetangga Singapura yang notabene negara maju.

“Nanti kita akan lihat, saya belum tahu karena baru melihat lokasi seperti ini, setelah ini akan ada tindak lanjutnya, akan ada staf yang tinggal disini. Kami dari Kemensos ingin ada perbaikan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi,” kata Risma.

Risma juga menginginkan wilayah Pulau ini bebas dari limbah domestik rumah tangga, agar jangan sampai masuk ke laut. Kemudian penanganan masalah sumber daya energi juga jadi perhatian.

Ketua Ikatan Alumni ITB, Gembong mengatakan, konsep penataan di pulau Bertam ini konsepnya yang pertama penataan, akan dimulai dengan yang paling krusial dengan menyelesaikan masalah-masalah mendasar. Seperti aksebilitas.

“Dermaga nanti kita tata dan ada community development,” ujarnya.
Risma meliat potensi wilayah ini sebagai wilayah yang berhadapan dengan Singapura.

Gembong menjelaskan, secara bisnis wilayah ini juga mempunyai nilai komersial yang tinggi, hanya saja kan tidak bisa dibuat tiba-tiba, masyarakat harus diedukasi perlahan.

“Disini ada Pak Wali Kota (Rudi) dan Bu Wagub Kepulauan Riau (Marlin). Kita akan bertahap membangun ini dan ultimate-nya tentunya kita akan menjadikan wilayah ini destinasi wisata baru. Jadi ada masyarakat nelayan, tapi juga ada nelayan-nelayan modern yang ikut beraktifitas disini,” ujar Gembong.

Sementara itu, sebagai langkah awal, pihaknya juga akan mengadakan mesin bank sampah untuk mengelola sampah domestik di area pulau untuk diolah menjadi BBM jenis Bensin.

“Itu sudah ada, satu unit dulu tahap awal, tinggal kami bawa kesini. Nanti sepulang dari sini kami koordinasi, untuk membangun atapnya ini supaya tidak kehujanan,” jelas Gembong.

Sementara itu, Wali Kota Batam Muhammad Rudi menyambut baik kunjungan Mensos Risma. Ia pun tampak mendampingi dari Bandara Internasional Hang Nadim, hingga sampai ke pulau.

Rudi atas nama Pemko Batam dan juga masyarakat Pulau Bertam, juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat.

Pihaknya berpesan kepada masyarakat Pulau Bertam, bantuan yang diberikan Mensos dapat dimanfaatkan dengan baik. Sehingga dapat memajukan Pulau Bertam.

“Siapa tahu anak-anak kita disini nantinya bisa menjadi Menteri seperti ibu Risma,” kata Rudi.

Selain melakukan penyusunan program, Kemensos juga telah memberikan beberapa bantuan pemberdayaan, di antaranya Pembangunan Sarana Usaha Kedai, Perlengkapan Community Center, Kreasi Atensi Usaha Kue, Warung Nasi, dan Bilis Produksi Kreasi Atensi Usaha Hidroponik.

Sementara itu, kedatangan Menteri Sosial Tri Rismaharini disambut antusias para tokoh, pejabat, dan masyarakat suku anak laut. Maklum, Pulau Bertam yang menjadi lokasi kunjungan Mensos, merupakan pulau terluar yang masih perlu sentuhan pembangunan.

Secara umum, Pulau Bertam dihadapkan pada tantangan keterbatasan akses yang membuat pelayanan kebutuhan dasar tidak mudah disediakan. Mensos menyatakan kesiapan menyediakan sarana pendidikan.

Namun, bukan dengan mendirikan sekolah, sebab akan kesulitan mendatangkan guru. “Sementara saya akan pasang tower di 3 pulau. Anak-anak belajar di sekolah cabang yang ditunjuk Pak Wali Kota. Anak-anak sekolah di sini dengan bantuan sarana internet. Itu seperti Suku Anak Dalam di Jambi,” kata Risma.

Untuk memfasilitasi kegiatan belajar, Mensos akan membangun fasilitas berupa bangunan sederhana. “Nanti guru mungkin akan datang 2 bulan sekali untuk mengajar secara tatap muka,” kata Mensos.

Dalam perbincangan dengan para tokoh juga terungkap kebutuhan energi, sebagai kebutuhan dasar. Warga setempat telah menginisiasi alat pengolahan sampah menjadi BBM. Mensos mengapresiasi inisiatif ini dan meminta warga untuk mendirikan koperasi.

Di tempat lain ada yang namanya bank sampah. koperasi itu nanti akan membeli sampah plastik , ditimbang, digunakan dan akan diolah menjadi bahan bakar. Nanti dipakai sendiri untuk kapalnya bapak ibu sekalian. Bukan untuk dijual,” katanya.

Untuk memastikan bank sampah berjalan dengan baik, Mensos akan mengirim perwakilan 3 orang dari masyarakat lokal untuk datang ke Jakarta atau ke Surabaya untuk mempelajari pengelolaan bank sampah di sana. “Di Surabaya setiap kampung ada bank sampah,” katanya.

Selain dari Bank Sampah, kebutuhan energi juga akan dipasok dari tenaga surya (solar cell).

Mensos juga menginstruksikan kepada jajarannya untuk mengecek apakah ibu-ibu setempat sudah mendapatkan program pemberdayaan. Mensos meminta mereka agar didata dan dipertimbangkan mendapat bantuan sosial PKH.

“Saya juga akan menurunkan tim untuk memberikan pelatihan bagi para ibu-ibu membuat sesuatu dan kami akan ajarkan bagaimana cara menjualnya,” katanya.

Tak luput dari perhatian Mensos adalah pengelolaan kualitas lingkungan. Mensos ingin memastikan dibangun suatu sistem pengelolaan limbah rumah tangga termasuk tinja. Mensos merangkul alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengelola limbah.

Dengan begitu, Pulau Bertam diharapkan semakin bersih dan bisa mendukung pembangunan pariwisata yang dicanangkan pemerintah setempat.

Langkah Mensos mendapatkan apresiasi dari Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj. Marlin Agustina dan Wali Kota Batam Muhammad Rudi yang turut hadir dalam kesempatan itu. Marlin mengatakan, Mensos hadir dan membawa program yang sangat luar biasa.

“Keterbatasan kami di provinsi didukung oleh Pemerintah Kota Batam dan ibu Menteri, sungguh sangat luar biasa. Mudah-mudahan dengan program ini membuat kita lebih baik lagi,” katanya.

Marlin berpesan kepada masyarakat Kepulauan Riau, bila dikasih program yang luar biasa ini harus dijaga dan dipelihara secara konsisten.

“Itu yang paling utama. Terima kasih kepada pemerintah pusat yang dari jauh datang kemari untuk memberikan kesejahteraan,” katanya. (*)

 

 

Reporter : Rengga Yuliandra

Update