Rabu, 25 Februari 2026

Menu MBG Ramadan di Sambau Dikritik Warga

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Menu MBG Ramadan yang didapatkan warga Sambau, Kecamatan Nongsa. F.Yashinta

batampos – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan kepada warga di Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menuai keluhan. Sejumlah penerima manfaat menilai menu yang dibagikan melalui kader posyandu pada Senin (23/2) untuk konsumsi selama tiga hari hingga Rabu (25/2), terkesan asal-asalan, monoton, serta tidak memperhatikan kebutuhan gizi anak, khususnya balita.

Keluhan warga muncul karena menu kering yang diterima hampir sama setiap harinya. Pada hari pertama, paket MBG berisi jeruk, serundeng kelapa, dan puding agar-agar. Hari berikutnya, menu terdiri atas telur rebus, pisang, dan kue.

Sementara pada hari ketiga, paket kembali berisi telur, apel, dan kue. Warga menilai komposisi tersebut tidak seimbang dan jauh dari menu bergizi yang diharapkan bagi anak-anak.

Tak hanya soal menu, kemasan paket MBG juga dikeluhkan. Makanan dibungkus menggunakan kantong plastik kresek, dengan tiap paket berisi dua kantong yang masing-masing berisi tiga item menu untuk hari berbeda.

Baca Juga: BI Kepri Buka Layanan Penukaran Uang Jelang Lebaran, Sediakan Kas Keliling di Masjid hingga Mall

Cara pengemasan ini dinilai asal-asalan dan kurang layak untuk program yang menyasar pemenuhan gizi anak.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku miris melihat kualitas MBG yang diterima. Menurutnya, nilai menu per hari terlihat sangat minim dan terkesan sekadar formalitas.

“Kalau dilihat-lihat, menu per harinya sekitar Rp 6 ribuan. Seperti asal ada saja. Tidak kelihatan perhitungan gizinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, menu yang disalurkan seolah tidak disusun berdasarkan standar kebutuhan gizi anak. Warga mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan, namun belum ada perubahan.

“Sudah lelah dengan menu seperti ini, sudah protes tapi tidak ada perbaikan,” katanya.

Bahkan, sebelum Ramadan, warga tersebut mengaku pernah menemukan salah satu lauk berupa tahu yang masih mentah. “Terasa sekali tidak matangnya. Harusnya dicoba dulu. Kalau langsung dimakan anak-anak, kan kasihan,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan penerima manfaat lainnya. Menurut dia, jika kualitas menu MBG tetap seperti saat ini, sebaiknya program dievaluasi secara menyeluruh. “Kalau menunya seperti itu, lebih baik tidak disalurkan. Jelas tidak memenuhi gizi yang baik untuk anak,” katanya.

Baca Juga: Dari Dana IMTA ke Sertifikat Kompetensi, Jalan bagi Pekerja Batam Naik Kelas

Warga menjelaskan, pada hari biasa penyaluran MBG dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. Dalam satu kali penyaluran, paket diberikan untuk konsumsi beberapa hari.

Biasanya, pada hari pertama disertakan menu siap santap, namun tampilannya juga dinilai kurang menarik. Sementara untuk hari kedua dan ketiga, diberikan menu kering yang hampir sama dengan paket sebelumnya. Pola menu ini, kata warga, terjadi hampir setiap pekan tanpa variasi berarti, baik menu siap santap maupun menu kering.

Warga berharap pihak terkait melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, pengemasan, hingga komposisi gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan balita dan anak-anak. Mereka menilai tujuan MBG untuk meningkatkan asupan gizi berisiko tidak tercapai jika kualitas menu terus dibiarkan seperti sekarang.

“Kalau seperti ini, keliatan cari untungnya saja,” tegas warga. (*)

ReporterYashinta

SALAM RAMADAN