Sejumlah perusahaan besar di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kini membalik lembaran lama penggunaan energi berbasis fosil menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menetapkan Batam sebagai salah satu kota percontohan proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), kian melecut gerakan transformasi tersebut. Imbasnya, investasi di wilayah perbatasan ini tumbuh subur dan mencatat lonjakan yang signifikan.
Reporter: RATNA IRTATIK
Di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, transformasi energi ini sudah terlihat secara nyata sejak sekitar tiga tahun lalu. Salah satunya, ketika PT Taman Resor Internet atau PT Tamarin menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT PLN Batam untuk menggunakan EBT dari rencana pengelolaan listrik untuk Data Centre di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Oktober 2022 lalu.

PT Tamarin adalah anak perusahaan dari Citramas Group, yang merupakan pemilik Kawasan Industri Terpadu Kabil di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, yang memegang otoritas untuk mengelola KEK Nongsa.
Sebagai Badan Usaha Pembangun dan Badan Usaha Pengelola KEK Nongsa (BUPP KEK Nongsa) berdasarkan Keputusan Ketua Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Nomor 2 Tahun 2021 tanggal 5 Juli 2021, tentu memerlukan pasokan tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan Data Centre di KEK Nongsa.
“Tamarin telah berhasil menarik investor untuk membangun Data Centre di Nongsa dan memerlukan tenaga listrik yang andal dan berkesinambungan sesuai dengan standar Data Centre untuk TIER 3 dan TIER 4,” ujar Michael Kristian Wiluan atau yang akrab disapa Mike Wiluan, Direktur Utama PT Tamarin.
Standar TIER 3 dengan tingkat uptime hingga 99,982 persen dan TIER 4 hingga 99,995 persen, menuntut infrastruktur yang jauh melampaui sekadar koneksi listrik biasa. Karena itu, PT Tamarin memilih dua sumber utama listrik yakni PLN Batam dan PT Maxpower Indonesia, sambil merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai “cadangan energi hijau”.
Untuk diketahui, PLTS adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan energi dari cahaya matahari untuk menghasilkan energi listrik. Komponen utama dari PLTS adalah panel surya fotovoltaik yang dapat mengonversi energi matahari menjadi energi listrik sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan listrik.
“Dalam perencanaan, akan dibangun PLTS untuk menambah back-up (penopang) sekaligus sebagai green energy untuk Data Centre. Perkiraan kami, diperlukan saluran listrik sebesar 530 Mega Watt (MW) sampai tahun 2030,” tambah Mike.
Kebijakan menerapkan energi bersih di sektor industri di Batam, tidak hanya terbatas di kawasan Nongsa. Di Kecamatan Batuampar, PT McDermott Indonesia, perusahaan yang menyediakan solusi pengembangan lapangan lepas pantai asal Amerika yang sudah beroperasi sejak 1970 di Kota Batam, juga sudah lebih dulu memanfaatkan EBT dari panel surya atap atau PLTS atap yang menghasilkan sekitar 8 MWh per tahun usai penandatanganan kerja sama dengan PLN Batam, November 2021 lalu.
“Pemanfaatan EBT sudah menjadi tuntutan global untuk menurunkan emisi serta mendorong sektor industri menuju industri hijau,” kata Syahrial, Manager Government Affair McDermott, kala itu.
Langkah-langkah transisi energi dari sektor bisnis dan industri tersebut, sejalan dengan kebijakan nasional. Bahkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan Kota Batam sebagai salah satu kota percontohan (pilot project) untuk implementasi proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI). Penetapan ini berdasarkan surat Dirjen EBTKE nomor B-605/EK.02/DJE/2025.
Proyek SETI merupakan inisiatif yang didanai oleh Kementerian Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim (BMWK) Jerman melalui skema International Climate Initiative (IKI), dan dijalankan oleh konsorsium Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Institute for Essential Services Reform (IESR), World Resources Institute (WRI) dan Yayasan Indonesia CERAH, bekerja sama dengan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM.
“Batam sangat menarik karena ini adalah zona industri khusus. Ada pusat data dan kebutuhan listrik yang meningkat,” kata Lisa Tinschert dari GIZ Indonesia/ASEAN, mitra Jerman dalam proyek SETI saat rapat perdana (Kick-Off) dalam rangka implementasi proyek SETI di Batam yang digelar di Swiss-Belhotel, Harbour Bay, Kota Batam, Rabu (25/6/2025) lalu.
Penetapan Batam sebagai salah satu kota percontohan bukan tanpa alasan. Survei awal proyek mencatat 269.864 bangunan di Batam dengan 91 persen residensial dan sisanya sosial atau bisnis, merupakan objek efisiensi energi dan integrasi EBT. Ditambah, potensi penyinaran harian sekitar 4,8-5,0 kWh/m², membuat Batam ideal untuk PLTS atap maupun skala besar.
Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Sahid Junaidi, secara daring mengatakan bahwa Batam menjadi salah satu percontohan nasional bersama Surabaya.
“Melalui proyek SETI ini, kami telah melakukan survei dan membuat beberapa kriteria untuk menentukan kota mana yang akan menjadi pilot project, dengan mempertimbangkan kapasitas sumber daya manusia, konsumsi listrik, potensi energi terbarukan, inisiatif keberlanjutan yang sudah ada, dan potensi pertumbuhan ke depan. Kota yang terpilih satunya adalah Batam,” kata Sahid.
Sementara itu, Pemerintah Kota Batam ikut menyuarakan kegembiraan atas arah perubahan transisi energi tersebut. Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, menyampaikan apresiasi kepada ESDM dan EBTKE atas penetapan Batam sebagai kota percontohan.
“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Batam dengan harapan semoga proyek SETI mampu meningkatkan penggunaan energi berkelanjutan di Kota Batam sekaligus menyosialisasikan pentingnya penggunaan energi hijau tersebut,” ujar Wali Kota yang disampaikan melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Batam kala itu, Jefridin.
Program SETI memang bertujuan mendukung terciptanya ekosistem kelembagaan, regulasi dan pembiayaan yang efektif bagi transisi energi di kota-kota percontohan.
“Saya berharap melalui proyek ini dapat mendorong transisi energi di kawasan lain. Peran Batam sebagai pusat pertumbuhan tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menjadi hub bagi inovasi dan penerapan berbagai macam teknologi, termasuk teknologi energi baru terbarukan,” lanjutnya.
Ia menambahkan, manfaat ekonomi dari transisi energi juga tampak jelas. Dari sisi lingkungan dan sosial, transisi ini menjadi investasi jangka panjang untuk kualitas hidup masyarakat.
“Dari segi lingkungan, dengan beralih ke energi bersih, kita akan berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, memitigasi dampak perubahan iklim, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kota Batam. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup,” ujarnya.
Sedangkan secara ekonomi, transisi energi akan menciptakan peluang investasi baru, lapangan kerja hijau, dan diversifikasi ekonomi.
“Batam bisa menjadi pusat manufaktur komponen EBT, pusat penelitian dan pengembangan, serta tujuan investasi energi bersih. Hal ini tentu akan meningkatkan daya saing ekonomi Batam di tingkat regional dan global,” jelasnya.
Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Moncer
Pengaruh berbagai kebijakan tersebut memang mulai dirasakan hasilnya dalam geliat ekonomi dan investasi di Kota Batam dalam beberapa waktu terakhir.
Merujuk data dari Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), pada Triwulan II 2025, realisasi investasi mencapai Rp9,6 triliun, naik 11 persen dibanding Triwulan I dan tumbuh 97 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
“Sejak awal kami memegang mandat Presiden, kami langsung bekerja memastikan proses investasi berjalan cepat, transparan, dan berdampak. Kenaikan ini menandakan kepercayaan pasar semakin kuat,” ujar Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad.
Dari jumlah itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp3,88 triliun atau 40,6 persen dari target, serta tumbuh 44 persen secara kuartalan dan 105 persen secara tahunan. “Kami menyaksikan perubahan struktur. PMDN tidak lagi menjadi pelengkap, tetapi bagian inti dari sistem produksi di kawasan,” imbuh Li Claudia Chandra, Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam.
Dengan lonjakan investasi ini, Batam mulai mengukuhkan dirinya sebagai magnet global dan domestik. Sektor logistik, pengemasan, dan energi bersih yang sebelumnya didominasi investor asing kini mulai diisi oleh pelaku lokal, menandakan kematangan ekosistem industrial Batam.
Sementara dari sektor pertumbuhan ekonomi, Kota Batam juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 6,66 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan II 2025, melampaui rata-rata pertumbuhan nasional sebesar 5,3 persen.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Batam menyumbang lebih dari 66 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi, melampaui pertumbuhan sektor non-migas provinsi yang tercatat sebesar 5,24 persen.
Sementara itu, sebagai pendorong utama, lonjakan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 9,22 persen, memberikan kontribusi 3,81 poin persentase terhadap total pertumbuhan ekonomi Batam.
Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Francis mengatakan bahwa angka tersebut mencerminkan kepercayaan investor yang kuat. Serta, percepatan pembangunan kapasitas produksi di sektor manufaktur bernilai tambah, logistik, dan ekonomi digital.
“Data ini mengonfirmasi strategi kami bahwa Batam adalah kota yang digerakkan oleh investasi,” ujar Fary Francis.
BP Batam telah meluncurkan Rencana Strategis 2025–2029. Sejalan dengan visi pemerintah pusat yang menargetkan pertumbuhan nasional 8 persen pada 2029, Batam ditargetkan lebih tinggi yakni pertumbuhan ekonomi 10 persen pada tahun yang sama.
Targetkan Peningkatan EBT secara Signifikan
Meski momentum positif mulai terbentuk, realitas transisi energi di Batam masih menghadapi sejumlah tantangan besar.
Manager Komunikasi PLN Batam, Yoga Perdana, menyatakan bahwa sistem kelistrikan Batam masih sangat bergantung pada gas dan batu bara, sedangkan kontribusi EBT belum begitu signifikan. Hingga akhir 2024, komposisi pembangkit masih didominasi oleh gas 83,94 persen dan batu bara 15,86 persen, sedangkan EBT baru sekitar 0,11 persen.
“Ke depan, porsi gas dan batu bara akan dikurangi bertahap dan disubstitusi oleh EBT hingga 2060,” katanya.
Sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034, PLN Batam menargetkan peningkatan signifikan porsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dimulai pada 2026 sebesar 16,4 persen, kemudian naik menjadi 19,1 persen pada 2028, lalu 21 persen pada 2030, dan mencapai 29,4 persen pada 2034.
Kenaikan bertahap ini akan diwujudkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar, pemasangan PLTS atap secara tersebar, penerapan co-firing biomassa, serta pembelian Renewable Energy Certificate (REC) baik secara unbundled pada periode 2025–2030 maupun bundled pada 2031–2034.
“Batam memiliki potensi energi surya yang tinggi dengan rata-rata penyinaran harian mencapai 4,8–5,0 kWh per meter persegi, menjadikannya wilayah strategis untuk pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT),” terang Yoga.
PLN Batam menempatkan energi surya sebagai tulang punggung transisi energi bersih melalui sejumlah proyek besar, antara lain PLTS Tembesi berkapasitas 35 MWac yang direncanakan beroperasi pada triwulan I tahun 2026.
Ada juga PLTS Batam Tersebar dengan total 855 MW hingga 2034 yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 725 MW, terdiri atas 700 MW untuk smoothing dan 25 MW untuk peak shifting. Selain itu, masih ada PLTS terapung di enam waduk utama di Kota Batam, yakni Nongsa, Sei Baloi, Sei Harapan, Sei Ladi, Muka Kuning, dan Duriangkang, dengan potensi daya 754,85 MWp.
Tak hanya itu, akan dibangun pula PLTS ground mounted berkapasitas 1 MWp di Tanjung Uma, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam, disertai perluasan program PLTS atap untuk pelanggan industri dan rumah tangga.
“Kami ingin memastikan transisi energi bersih di Batam berjalan terarah dan konsisten, sejalan dengan komitmen nasional menuju bauran energi hijau,” ujar Yoga.
Transformasi energi seperti ini tidak hanya mengubah pasokan listrik, tetapi juga mengalihkan pusat gravitasi ekonomi di Batam, sebuah kota yang berbatasan langsung dengan negeri tetangga, Singapura dan Malaysia.
Industri yang dulu mengandalkan energi fosil kini melihat nilai tambah dari energi bersih, mulai dari efisiensi operasional, reputasi hijau, hingga akses ke rantai nilai global. (*)



