
UMKM menjadi salah satu sektor paling banyak terdampak akibat pandemi Covid-19, tidak terkecuali di Batam, Kepulauan Riau. Selama ini UMKM sangat bergantung kepada wisatawan mancanegara (Wisman) dari Singapura dan Malaysia.
Penutupan pintu masuk menjadikan sektor UMKM harus beralih, dan bertransformasi agar bisa bertahan. Hal ini membuat ribuan pelaku UMKM di Batam harus menemukan cara untuk bertahan termasuk Mariani yang sudah terbiasa dengan penjualan konvensional dan beralih ke era digital.
Yulitavia-Batam
batampos.co.id – Laju perahu dengan tenaga mesin sangkut mengantarkan penumpang dari Pelabuhan Pancung, Sekupang. Dalam waktu 20 menit, perahu yang memuat 10 penumpang itu bersandar di Pelabuhan Kuning, Belakangpadang, Batam.
Belakang Padang merupakan salah satu Kecamatan di Kota Batam. Pulau Penyangga inisangat mewakili perbatasan atau wilayah terdepan Indonesia, karena letak geografisnya hanya sepelemparan batu dari Singapura.
Pemerintah Kecamatan Belakangpadang mencatat ada 349 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tersebar di enam kelurahan di daerah yang dikenal dengan sebutan Pulau Penawar Rindu tersebut.
Angka itu hanya 0,31 persen dari total jumlah 110.926 UMKM di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang tercatat dalam Online Data Sistem (ODS) tahun 2020. Mayoritas UMKM di Belakangpadang bergerak di sektor kuliner.
Hantaman keras Covid-19 benar-benar dirasakan oleh Mariani, 43, pelaku UMKM Belakangpadang.
Usaha pengolahan makanan berbahan dasar dari laut atau yang sudah dikenal dengan Azzuri Snack yang sudah dijalankan sejak puluhan tahun lalu harus berhenti seketika, karena badai Covid-19.
Produk olahan seperti kerupuk ikan, gong-gong, tenggiri termasuk makanan yang digemari wisatawan asing (Wisman) asal Singapura dan Malaysia.
Sebelum wabah Covid-19 masuk, ia mengatakan penjualan produk miliknya dijual dengan cara konvensional.
Mengandalkan kunjungan wisman dan wisnus yang mencapai ribuan per bulannya, Mariani tidak perlu khawatir soal penjualan produknya.
“Kalau dulu memang begitu. Namun hampir satu tahun lebih belakangan ini, penjualan dari wisatawan merosot tajam. Hal ini disebabkan penutupan pintu masuk dari kedua negara ke Batam. Sehingga ribuan pelaku UMKM gulung tikar, dan tidak sanggup melanjutkan usaha mereka,” kata perempuan 42 tahun ini.
Penutupan pintu masuk menjadikan sektor UMKM harus beralih, dan bertransformasi agar bisa bertahan.
Hal ini membuat ribuan pelaku UMKM di Batam harus menemukan cara untuk bertahan termasuk Mariani yang sudah terbiasa dengan penjualan konvensional dan beralih ke era digital.
Mariani tengah sibuk membuka aplikasi jualannya online miliknya. Sudah sejak setahun belakangan ini, ia sangat aktif menjajakan produk miliknya melalui salah satu market place terbesar di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Shopee menjadi salah satu ladang baru dalam memasarkan produk miliknya.
Mariani merupakan penggiat UKM khas makanan olahan laut di Pulau Belakangpadang, yang berbatasan langsung dengan Singapura.
Sebelum pandemi Covid-19 melanda, ia menjajakan produk miliknya dengan cara konvensional. Untuk menempuh pusat kota, ia harus menggunakan angkutan laut selama 15-20 menit dengan ongkos 150-200 ribu.
Produk miliknya sudah cukup terkenal sebagai salah satu oleh-oleh asal Batam. Kemasan yang bagus, dan rasa yang khas menjadi nilai tambah dalam memasarkan produk miliknya.
Untuk memasuki pasar digital, tentu Mariani mempersiapkan dengan baik, mulai dari kemasan, hingga kualitas produk olahan ikan miliknya.
“Kalau packaging bagus pasti menarik untuk pembeli. Jadi saya tidak main-main agar produk ini bisa layak di pasar digital. Termasuk soal olahan ikan segar, agar produk terjamin,” jelasnya.
Mariani adalah salah satu pelaku UMK yang tetap eksis meskipun dihantam badai pandemi. Memanfaatkan alur digitalisasi membuat produk olahan hasil miliknya saat ini sudah bisa menjajah pasar ke seluruh Indonesia.
Strategi digital memberikan keuntungan yang cukup membantu usahanya bertahan. Sempat terpukul di tiga bulan pertama tahun 2020, perlahan produk olahan makanan mendapatkan pasar baru, bahkan omsetnya meningkat saat ini.
Tak lagi sekedar produk rumahan. Ia menceritakan selama satu tahun lebih pandemi banyak hal yang dilakukan agar produk UMKM bisa diterima dan menarik konsumen. Salah satunya memperbaiki kemasan produk yang akan dijual.
Mariani mengatakan pengemasan produk menjadi salah satu hal yang menjadi penentu daya jual. Meskipun produknya bagus namun jika pengemasan tidak menjual, maka akan sulit dalam memasarkan produk.
Salah satu yang menjadi daya tarik pembeli adalah kemasan produk dampak pengemasan yang baik akan berimbas pada penjualan.
Tidak saja itu, melalui program yang dikeluarkan shopee seperti pemberian diskon produk, juga menggenjot penjualan terhadap produk miliknya.
Selain itu ada juga subsidi ongkos kirim yang menarik minat pembeli untuk berbelanja produk-produk miliknya.
“Itu kan dari shopee semua, kami sebagai penjual tentu sangat senang, karena kan kalau ada diskon atau pemotongan ongkir pembeli jadi berminat, sehingga membuat daya beli meningkat,” sebutnya.
Era digital membantu dia mempertahankan usahanya, bahkan membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga yang berada di sekitar rumahnya.
“Pandemi banyak yang kehilangan pekerjaan. Selama ini penjualan konvensional memang menjadi pemasukan utama, namun karena pandemi semua harus beralih menjadi go digital,” ujarnya saat dijumpai di rumahnya beberapa waktu lalu.
Pemilik usaha makanan Azzuri Snack ini mengatakan pandemi tidak harus menjadi alasan untuk mengeluh, dengan transformasi ke era digital, membuat peningkatan permintaan pasar, sehingga menjadi lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Melalui Shopee kami bisa memperkenalkan UMKM lokal di Pulau Penyangga, Kota Batam ini,” tambahnya.
Direktur Shopee Indonesia, Christin Djuarto, antusiasme masyarakat terhadap berbagai kampanye yang Shopee hadirkan sejak awal tahun 2021 sangat tinggi, salah satunya melalui puncak kampanye Shopee 11.11 Big Sale di Indonesia yang berhasil mencatat peningkatan transaksi terhadap produk UMKM hingga lebih dari 8 kali lipat dibandingkan dengan hari biasa.
Kampanye di penghujung tahun merupakan bentuk apresiasi Shopee terhadap seluruh pengguna setia baik pembeli maupun penjual lokal serta mitra brand yang telah mendukung Shopee hingga dari awal hingga saat ini.
Mulai dari 15 November hingga 12 Desember 2021, pengguna dapat menikmati berbagai hiburan menarik serta penawaran terbaik seperti Tanam ShopeePay 12M, Gratis Ongkir XTRA Lebih Banyak dan Pasti Diskon 50%.
Ia menyampaikan, Tahun 2021 masih menjadi tahun yang penuh tantangan dan perubahan tetapi juga menjadi momentum untuk bangkit dan beradaptasi dengan cara baru.
Sejak awal tahun, Shopee terus berupaya untuk memberikan semangat dan harapan dengan menghadirkan solusi yang dapat mempermudah pengguna maupun pelaku usaha untuk beradaptasi.
Melalui ragam inisiatif, kami berupaya merangkul lebih banyak pelaku usaha lokal agar cerdas digital dan dapat mengembangkan bisnis serta memperkuat potensi produk lokal hingga pasar global bersama dengan Shopee.
Di saat yang sama, fitur-fitur inovatif dan ragam kampanye setiap bulannya kami hadirkan untuk menjawab kebutuhan sesuai dengan preferensi pengguna.
Melalui Shopee 12.12 Birthday Sale, kami tidak hanya merayakan pertambahan usia, tetapi juga kesuksesan yang telah dicapai tahun ini oleh mitra brand, pelaku usaha lokal serta seluruh pengguna.
Shopee terus berkomitmen untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat, peluang baru bagi penjual dan mitra brand, serta pengalaman bersama yang lebih kuat bagi para konsumen, sebagai bagian dari visi yang lebih luas untuk mewujudkan ekosistem e-commerce bagi semua orang.
Rayakan Potensi Produk Lokal
Beberapa tahun terakhir, kehadiran produk lokal berkualitas menjadi semakin digemari yang juga disambut dengan antusiasme yang tinggi dari masyarakat Indonesia dan di saat yang sama semakin banyak bisnis yang memutuskan untuk bergabung ke ranah digital bersama Shopee.
Dalam rangkaian kemeriahan kampanye 12.12 Birthday Sale tahun ini, Shopee bekerjasama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) untuk memperkuat komitmen #ShopeeAdaUntukUMKM guna menjangkau lebih banyak pelaku UMKM di berbagai daerah dan mendukung pemerataan literasi digital.
Produk olahan tangan yang dihadirkan oleh Binaan ASPPUK yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, seperti tas rajut, kain tenun, aksesori dan camilan khas Indonesia, tidak hanya memiliki potensi yang kuat tetapi juga nilai budaya atau kultur lokal Indonesia.
Sehingga untuk memperkuat potensi produk serta mendukung semangat untuk mengembangkan bisnis, Shopee bersama ASPPUK akan menghadirkan pendampingan dan pelatihan.

Dimana materi yang diberikan meliputi konsep bisnis dan cara berjualan online di platform Shopee hingga bagaimana memanfaatkan fitur-fitur pendukung serta pengenalan program ekspor agar para binaan dapat memperkuat bisnisnya di ranah digital.
Emmy Astuti, Direktur Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) memaparkan, pihaknya menyambut baik inisiatif kolaborasi dengan Shopee dalam rangka kemeriahan kampanye 12.12 Birthday Sale kali ini.
“Tantangan utama yang dihadapi oleh dampingan kami yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, Aceh, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan berbagai daerah lainnya adalah minimnya literasi digital. Sehingga menghambat pengembangan bisnis usaha mikro. Padahal yang kami lihat, potensi dari produk olahan tangan yang dihasilkan sangat kuat, apalagi dengan nilai kultur lokal Indonesia yang melekat,” jelasnya.
Melalui kerjasama strategis ini, pihaknya berharap Shopee dapat membuka peluang bagi para dampingan untuk mengembangkan bisnis mereka melalui pendampingan dan pelatihan keterampilan digital.
Sehingga, tidak hanya menciptakan kemandirian dan kreativitas bisnis, para dampingan juga diharapkan dapat memanfaatkan fitur-fitur serta peluang yang dihadirkan oleh Shopee untuk memperluas jangkauan produk ke pasar yang lebih luas.
Apresiasi untuk Seluruh Ekosistem Shopee melalui Shopee Super Awards
Shopee Super Awards 2021 merupakan acara tahunan yang dihadirkan sebagai bentuk apresiasi serta penghargaan kepada berbagai pihak dan figur yang telah mendukung dan menjadi penggerak ekonomi digital di Indonesia bersama Shopee.
Pencapaian Shopee hingga saat ini tidak luput dari kolaborasi dan dukungan dari mitra brand, mitra penjual dan berbagai pihak.
Shopee Super Awards 2021 hadir untuk mengapresiasi seluruh anggota ekosistem Shopee dengan total 29 kategori voting dan non-voting. Untuk kategori voting, pengguna dapat berpartisipasi dan menyampaikan dukungan mulai hingga tanggal 30 November.
Bisnis lokal merupakan bagian penting dari budaya lokal, dan seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan digitalisasi, Shopee berkomitmen untuk mendukung para pelaku usaha dan membantu mereka berkembang.
Hal ini tercermin dari semakin banyaknya pelaku usaha lokal yang berkembang bersama Shopee serta membawa inspirasi bagi masyarakat.
Tahun ini, Shopee Super Awards akan menghadirkan kategori nominasi terbaru khusus untuk UMKM dan Mitra Brand Lokal guna memberikan apresiasi serta semangat untuk terus berkembang dan memperkuat potensi pelaku usaha lokal.
Dorong UMKM Go Digital
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Batam, Suleman Nababan, berharap, agar warga yang habis kontrak kerja hingga PHK, untuk beralih ke UMKM. Potensi pertumbuhan UMKM di Batam dinilai cukup tinggi, dengan pasar seluruh daerah di Indonesia.
Kemudian potensial berkembang dengan masuk pasar negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
“Jadi kita juga bisa mengurangi masuknya makanan dan pakaian dari negara tetangga. Kita bersama untuk masuk pasar Singapura dan Malaysia,” katanya.
Saat ini sesuai data Online Data Sistem (ODS) di Kementerian Koperasi dan UKM RI, tahun 2020 ini, ada 81.486 UMKM di Batam. Dibanding daerah lain di Provinsi Kepri, jumlah UMKM di Batam jauh lebih besar.
Dimana di kota Tanjungpinang sebanyak 19.857unit , 121 unit di Kabupaten Anambas, 3.052 unit di Lingga, 356 unit di Natuna, 1.107 unit di Bintan, dan 373 unit di Karimun. Walau diakui Suleman, akibat pandemi Covid-19 ada 1.305 unit yang tutup.
Namun jumlah UMKM yang bertambah berkisar seribuan. Awalnya, penutupan UMKM terjadi, karena pembatasan pembatasan aktivitas masyarakat.
Sehingga kehilangan omset 25 sampai 75 persen. UMKM yang banyak tutup, lebih banyak yang bergerak disektor pariwisata dan usaha kuliner.
“Tapi bisa kita lihat dari kegiatan promosi UMKM di media sosial. UMKM baru, cukup ramai juga di media sosial. Pelaku UMKM di Batam, sudah melek teknologi,” ujar Suleman.
Diungkapkan, data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sampai Juni 2020, sebanyak 301.115 UMKM di Indonesia, sudah beralih ke usaha digital selama pandemi COVID-19. Didorong, UMKM di Batam juga akan secara sendiri beralih ke pasar online.



