
batampos – Sektor industri mesin dan peralatan listrik masih menjadi tulang punggung ekspor Kota Batam di tengah penurunan kinerja ekspor pada Agustus 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, nilai ekspor bulan tersebut tercatat US$ 1.541,81 juta, turun 11,58 persen dibanding Juli 2025.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, menjelaskan bahwa penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas yang turun 11,88 persen atau sekitar US$ 199,78 juta. Sementara itu, sektor migas turun lebih kecil, yakni 3,53 persen atau sekitar US$ 2,20 juta.
“Walaupun secara bulanan menurun, secara kumulatif Januari hingga Agustus 2025 ekspor Batam tetap tumbuh 22,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini disokong kuat oleh sektor nonmigas, terutama dari industri peralatan listrik,” ujar Eko, Rabu (8/10).
Selama Agustus 2025, komoditas mesin dan peralatan listrik (HS 85) menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai US$ 769,74 juta. Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, komoditas ini mencatat total ekspor US$ 6.493,45 juta atau 52,27 persen dari total ekspor nonmigas Batam.
Baca Juga: Skema Baru UWT di Batam, Investor Bisa Dapat Kepastian Hingga 80 Tahun
“Komoditas ini mencerminkan kekuatan industri elektronik dan komponen di Batam yang masih menjadi basis utama produksi ekspor ke berbagai negara,” jelas Eko.
Selain itu, ekspor mesin/pesawat mekanik (HS 84) berkontribusi US$ 1.574,08 juta, disusul kapal laut (HS 89) senilai US$ 726,33 juta, produk dari besi dan baja (HS 73) sebesar US$ 683,48 juta, serta produk kimia (HS 38) dengan nilai US$ 579,03 juta.
Komoditas ikan dan udang juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 13,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih mendominasi ekspor Batam dengan nilai US$ 431,42 juta pada Agustus 2025. Meski turun 38,33 persen dibandingkan Juli, secara kumulatif Januari–Agustus 2025, ekspor ke Negeri Paman Sam mencapai US$ 3.770,27 juta.
Negara tujuan utama lainnya yakni Singapura (US$ 3.188,93 juta), Tiongkok (US$ 736,51 juta), Arab Saudi (US$ 553,10 juta), dan Jepang (US$ 482,83 juta).
“Amerika Serikat dan Singapura tetap menjadi pasar terbesar bagi produk-produk industri Batam, terutama untuk komponen elektronik dan peralatan mekanik,” ujar Eko.
Dari sisi pelabuhan muat, Pelabuhan Batu Ampar menjadi pintu ekspor terbesar dengan nilai US$ 1.099,80 juta pada Agustus 2025. Sepanjang Januari–Agustus 2025, ekspor melalui pelabuhan ini mencapai US$ 9.406,11 juta.
Selain Batu Ampar, pelabuhan lainnya yang berkontribusi besar yaitu Sekupang (US$ 1.798,11 juta), Kabil/Panau (US$ 1.060,34 juta), Belakang Padang (US$ 528,59 juta), dan Pulau Sambu (US$ 63,03 juta). Kelima pelabuhan ini mencakup 99,30 persen dari total ekspor Batam.
Volume ekspor melalui Pelabuhan Batu Ampar juga meningkat 13,25 persen dibanding Juli, dengan total 196,83 ribu ton.
Eko menambahkan, kinerja ekspor yang masih kuat di sektor industri manufaktur menjadi indikator penting daya saing Batam sebagai kawasan industri berorientasi ekspor. “Meski ada fluktuasi bulanan, struktur ekspor Batam tetap menunjukkan ketahanan di sektor manufaktur berteknologi menengah hingga tinggi,” katanya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



