Selasa, 7 April 2026

Meski Ekspor Batam Turun, Kadin Sebut Industrinya Masih Tangguh

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi komoditas ekspor. f. istimewa

batampos – Kinerja ekspor Batam pada awal tahun 2026 masih menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global. Meski secara total mengalami penurunan, sejumlah sektor utama justru tetap tumbuh dan menjadi penopang.

‎Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepulauan Riau (Kepri) Mustava, mengatakan nilai ekspor Batam pada periode Januari hingga Februari 2026 tercatat sekitar US$3,11 miliar, atau turun sekitar 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar US$3,22 miliar.

‎Penurunan tersebut, kata dia, belum mencerminkan pelemahan secara menyeluruh. “Ini menunjukkan bahwa basis industri ekspor Batam masih bergerak dan masih memiliki kekuatan pada beberapa kelompok produk utama,” ujarnya Selasa (6/4) siang.

‎Ia menjelaskan, beberapa sektor yang mengalami peningkatan antara lain mesin dan peralatan listrik, minyak dan lemak hewan atau nabati, tembakau, produk kimia, perangkat optik, serta bahan kimia organik.

‎Di sisi lain, penurunan ekspor terutama disumbangkan oleh komoditas kapal laut, kakao atau cokelat, besi dan baja, serta mesin dan pesawat mekanik.

‎Dari sisi negara tujuan, penurunan paling terasa datang dari Australia yang turun sekitar 68 persen, serta Vietnam yang turun sekitar 25 persen.

‎“Jadi, penurunan ekspor Batam saat ini lebih dipengaruhi oleh beberapa komoditas dan pasar tertentu, bukan oleh semua sektor secara bersamaan,” kata Mustava.

‎Meski demikian, ekspor Batam ke Amerika Serikat justru menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, ekspor ke negara tersebut tumbuh sekitar 30 persen dan tetap menjadi tujuan terbesar.

‎“Artinya sampai Februari 2026 pasar Amerika masih tetap kuat bagi Batam,” kata dia.

‎Ia menegaskan, penurunan ekspor Batam pada awal tahun ini bukan terutama disebabkan oleh pasar Amerika Serikat, melainkan lebih banyak dipengaruhi turunnya ekspor kapal laut dan kakao yang terkoreksi cukup tajam.

‎Di luar dua komoditas tersebut, kinerja ekspor Batam secara umum masih cukup baik dan sejumlah sektor utama masih mencatat pertumbuhan positif.

‎“Ekspor Batam memang terkoreksi, tetapi kondisinya masih cukup terjaga, dan masih ada banyak sektor yang menunjukkan pertumbuhan positif,” kata dia.

‎Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam menunjukkan tren serupa. Kepala BPS Batam, Eko Aprianto, menjelaskan bahwa nilai ekspor Batam pada Januari–Februari 2026 tercatat sekitar US$3,11 miliar, turun sekitar 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

‎Penurunan tersebut dipicu melemahnya ekspor, baik sektor nonmigas maupun migas. Ekspor nonmigas turun tipis, sementara migas mengalami penurunan lebih dalam.

‎Namun, jika dilihat secara bulanan, kinerja ekspor mulai menunjukkan perbaikan. Pada Februari 2026, nilai ekspor Batam mencapai sekitar US$1,51 miliar, atau naik sekitar 4,4 persen dibandingkan Februari tahun lalu.

‎Kenaikan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh lebih dari 5 persen, sementara ekspor migas masih mengalami penurunan.

‎Dari sisi komoditas, ekspor Batam masih didominasi sektor industri. Mesin dan peralatan listrik menjadi penyumbang terbesar, diikuti mesin dan pesawat mekanik, minyak dan lemak nabati, serta besi dan baja.

‎Selain itu, sejumlah komoditas lain seperti produk kimia, kapal laut, tembakau, kakao, perangkat optik, hingga bahan kimia organik juga turut berkontribusi.

‎Di tengah dinamika tersebut, ekspor ikan dan udang juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, naik lebih dari 30 persen, menjadi salah satu sinyal positif di tengah tekanan yang ada.

‎Dengan kondisi ini, ekspor Batam dinilai masih cukup terjaga, meski menghadapi tantangan dari beberapa komoditas dan pasar tujuan tertentu.(*)

ReporterM. Sya’ban

UPDATE