Sabtu, 24 Januari 2026

Minat Properti di Batam Stabil Awal Tahun, Pasar End User Tetap Kuat

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Perumahan di bilangan Batamcentre. Foto. Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos – Di tengah tren masyarakat yang mulai melirik investasi emas, minat terhadap properti di Kota Batam pada awal tahun ini dinilai masih relatif stabil. Real Estate Indonesia (REI) Batam menyebut, sektor properti khususnya untuk segmen menengah ke bawah masih menunjukkan kondisi yang cukup baik.

Ketua REI Batam, Robinson Tan, mengatakan mayoritas pengembang yang tergabung dalam REI Batam memasarkan hunian untuk konsumen akhir atau end user, bukan semata untuk kebutuhan investasi.

“Kalau di anggota REI, boleh dikatakan mayoritas jual ke end user. Jadi konsumen membeli rumah bukan karena investasi, tapi memang karena kebutuhan,” ujar Robinson, Jumat (23/1).

Baca Juga: Batam Kembali Dipercaya Jadi Lokasi MICE Unggulan

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasar properti di segmen menengah ke bawah masih cukup kuat. Sementara itu, segmen menengah ke atas yang sebagian pembelinya berorientasi investasi, dinilai berpotensi terdampak tren investasi lain seperti emas, meski pengaruhnya tidak signifikan.

“Mungkin segmen menengah atas yang ada sebagian untuk investasi bisa berpengaruh, tapi secara keseluruhan tidak signifikan,” jelasnya.

Robinson menambahkan, kondisi pasar properti Batam saat ini masih cenderung sama seperti tahun lalu. Namun, pihaknya masih akan memantau perkembangan pasar pada kuartal pertama tahun ini untuk melihat respons masyarakat.

“Market masih seperti tahun lalu, tapi kita masih pantau di kuartal satu dulu bagaimana reaksi pasar,” katanya.

Terkait isu nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) yang fluktuatif, Robinson memastikan hingga kini belum ada laporan dari anggota REI Batam mengenai dampaknya terhadap penjualan properti.

Baca Juga: Jalur Mukakuning–Tembesi Macet dan Rawan Kecelakaan, Masyarakat Desak Pelebaran Jalan

“Sejauh ini belum ada laporan dari anggota kita mengenai pengaruh nilai tukar USD,” ujarnya.

Adapun jika terjadi kenaikan harga jual properti, Robinson menegaskan hal tersebut bukan disebabkan oleh faktor kurs, melainkan kenaikan biaya produksi yang bersifat normal.

“Kalau ada kenaikan harga jual, itu karena material dan UMK naik, sehingga biaya produksi ikut naik dan ada penyesuaian harga,” jelasnya.

Ia juga menegaskan hingga saat ini belum terlihat adanya lonjakan harga properti yang disebabkan oleh pelemahan atau penguatan nilai tukar.“Sementara ini belum kelihatan lonjakan kenaikan harga karena kurs,” tutup Robinson. (*)

Update