
batampos – Minyak goreng curah yang harga jualnya diatur dalam harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 14 ribu per liter semakin sulit didapat. Masyarakat pun terkesan dipaksakan untuk membeli minyak goreng kemasan yang harganya jauh lebih mahal yakni diatas Rp 20 ribu per liter.
Ini jadi keluhan serius masyarakat khususnya ibu-ibu di Batuaji dan Sagulung, sebab semakin hari semakin sulit mendapatkan minyak goreng curah. Minyak goreng curah sangat membantu sebab bisa menekan biaya belanja harian ditengah meroketnya harga kebutuhan pokok jelang hari raya Lebaran ini.
“Sayuran dan daging mulai mahal, minyak goreng curah yang diharapkan malah kosong semua. Lengkaplah sudah penderitaan kami kaum ibu-ibu ini. Pusing ngatur biaya belanja harian untuk keluarga di rumah,” ujar Marlina, warga Marina yang berbelanja di Pasar Fanindo, Jumat (15/4).
Menghilangnya minyak goreng curah ini diduga ada permainan pihak-pihak tertentu dengan harapan agar stok minyak goreng kemasan yang sudah didistribusikan ke toko-toko atau kios tetap laris manis.
Jhoni, pemilik kios sembako di Marina menuturkan, penyuplaian minyak goreng curah dari distributor memang macet belakangan ini. Kuotanya juga di kurang. Biasanya sepuluh sampai 15 jerigen (ukuran 25 liter) diantar. Sekarang hanya tiga sampai lima jerigen saja. ”
“Tidak tahu pasti penyebabnya sebab pihak distributor tidak memberikan alasan yang tepat. Paling mereka (distributor) bilang banyak yang cari jadi stoknya menipis,” ujar Jhoni.
Sebelumnya pihak kepolisian setempat sudah melakukan pengecekan di lapangan dan hasilnya memang stok minyak curah sangat sedikit. Banyak toko atau kios sembako yang kehabisan stok minyak goreng curah dengan alasan pasokan dari distributor berkurang. (*)
Reporter : Eusebius Sara



