Sabtu, 3 Januari 2026

Miris! Anak 4 Tahun Dicabuli, Remaja 15 Tahun Dirudapaksa, Orangtua Diminta Lebih Waspada

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi.

batampos – Kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali mencoreng wajah Kota Batam. Dalam sepekan terakhir, dua kasus pencabulan terungkap di dua wilayah berbeda: Batuaji dan Sagulung. Korbannya tragis, masih di bawah umur, bahkan ada yang baru berusia 4 tahun.

Kasus pertama terjadi di kawasan Batuaji. Seorang bocah perempuan berusia 4 tahun menjadi korban pencabulan oleh ayah dari teman sepermainannya. Kejadian tersebut sontak membuat warga sekitar geger.

Sementara itu, di Sagulung, seorang remaja putri berusia 15 tahun menjadi korban rudapaksa oleh pria yang baru dikenalnya selama dua bulan. Pelaku memanfaatkan hubungan pertemanan yang dibangun lewat media sosial hingga akhirnya melancarkan aksi bejatnya.

Kapolresta Barelang, Kombes Zaenal Arifin, angkat bicara soal maraknya kasus ini. Ia menekankan pentingnya pengawasan orangtua terhadap aktivitas anak, terutama saat berada di luar rumah maupun saat berselancar di dunia maya.

“Kami mengimbau orangtua agar lebih waspada dan melindungi anak-anak, baik saat bermain di lingkungan umum maupun dalam penggunaan internet,” ujarnya, Kamis (18/9).

Menurut Zaenal, komunikasi antara orangtua, sekolah, dan lingkungan sangat penting untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak.

Senada dengan itu, Sekretaris LPA Batam, Erry Syahrial, menyebutkan bahwa angka kekerasan seksual terhadap anak di Batam terus mengalami peningkatan setiap tahun sejak 2021.

“Setiap tahun meningkat. Ini sangat mengkhawatirkan,” ucap Erry.

Erry menyebutkan bahwa salah satu faktor pemicu utama adalah bebasnya anak mengakses media sosial. Tak sedikit pelaku yang mencari korban melalui internet, membangun relasi, lalu menjebak mereka.

“Konten-konten di medsos bisa merusak nilai moral anak. Ditambah lagi sekarang pelaku juga makin lihai memanfaatkan teknologi untuk mengincar korban,” jelasnya.

Erry mengingatkan, tugas utama membentengi anak bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Ia menyarankan agar orangtua membatasi penggunaan ponsel, memantau pergaulan anak, dan yang paling penting membangun komunikasi terbuka dengan buah hati.

“Intinya balik lagi ke keluarga. Bagaimana pengawasan dan memberikan anak pemahaman,” tutupnya. (*)

Reporter: Yofi Yuhendri

Update