Sabtu, 17 Januari 2026

Mobil Hias, Syiar Islam, dan Daya Tarik Wisata Religi di Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Sejumlah kendaraan hias menyemarakan pawai Takbir Idul Adha di Dataran Engku Hamidah, Kamis (5/6). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Kamis (4/6) malam, Batam tak hanya bersinar oleh lampu-lampu jalan dan gedung perkantoran. Kota ini bersinar oleh gema takbir dan pawai kendaraan hias yang berkilauan. Dari Dataran Engku Hamidah, hingga Simpang Indomobil Seraya, nuansa spiritual menjelma dalam balutan estetika Islami.

Suasana malam takbiran Iduladha 1446 Hijriah berubah menjadi perayaan kolosal. Ribuan warga memenuhi jalur utama di jantung Batamcentre. Mereka tak sekadar menonton, tapi turut menjadi bagian dari kemeriahan yang membuncah dengan semangat kebersamaan dan keimanan.

Sebanyak 35 mobil hias dan 18 kendaraan pendamping berpartisipasi dalam Pawai Takbir Tingkat Kota Batam tahun ini. Setiap kendaraan tampil dengan identitas visual khas: miniatur Kabah, simbol hewan kurban, ornamen kaligrafi, hingga lampu sorot yang menari-nari di langit malam.

Baca Juga: Kecamatan Nongsa Juara Mobil Hias Bertema Ibadah Haji saat Pawai Takbir Idul Adha

Satu mobil bahkan menampilkan replika padang Arafah lengkap dengan tenda dan unta buatan, lalu ada juga astaka berupa masjid ikonik Batam, Cheng Ho. Sejumlah peserta mengenakan jubah putih dan sorban, menambah kesan autentik ibadah haji dalam perayaan tersebut. Takbir dikumandangkan dengan pengeras suara, menyatu dengan sahutan warga di sepanjang rute.

Bagi sebagian warga, ini bukanlah tontonan tahunan. Ini adalah ajang yang ditunggu-tunggu. Fitriani, warga Batu Aji, mengaku datang sejak bakda Isya bersama dua anaknya untuk mendapatkan tempat duduk strategis.

“Anak saya suka lihat lampu warna-warni. Katanya kayak di dalam mimpi,” ujar dia.

Suasana semarak ini tak lepas dari peran aktif pemerintah setempat. Wali Kota Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra, hadir langsung melepas iring-iringan kendaraan. Beberapa pejabat daerah lainnya turut serta dalam seremoni pembukaan, di antaranya legislator Muhammad Kamaluddin dan Aweng Kurniawan.

Baca Juga: Ribuan Warga Padati Masjid Sultan untuk Salat Idul Adha, Sapi Kurban Presiden Jadi Sorotan

Amsakar menyampaikan apresiasinya terhadap semangat masyarakat Batam dalam menjaga tradisi takbiran dengan damai dan tertib. Iduladha bukan hanya perayaan seremonial, tetapi juga momen dakwah, penguatan nilai, dan sarana memperkuat hubungan sosial.

“Iduladha mengajarkan keikhlasan, kepatuhan, dan pengorbanan. Nilai-nilai ini yang perlu kita hidupkan bersama,” katanya.

Sebenarnya, pawai ini bisa dikembangkan menjadi atraksi wisata religi tahunan. Dengan pengemasan yang lebih profesional dan partisipasi komunitas kreatif, pawai takbir bisa menjadi ikon baru di kalender pariwisata Batam.

Sejak beberapa tahun terakhir, Batam memang tengah mendorong diversifikasi sektor pariwisata. Tak lagi semata mengandalkan belanja dan kuliner, Bandar Dunia Madani mulai menjajaki potensi wisata berbasis budaya dan agama yang selama ini kurang terekspos.

Dalam konteks itu, pawai takbir menjadi panggung ekspresi keagamaan yang penuh daya tarik visual. Parade ini bukan cuma bentuk ibadah, tetapi juga medium edukasi dan hiburan yang membumi. Pesan-pesan agama dibalut seni rupa jalanan yang bisa dinikmati segala usia.

Rute pawai yang dimulai dari Dataran Engku Hamidah, hingga berakhir di Polsek Batuampar memang cukup panjang, namun tak mengurangi semangat peserta. Sepanjang jalan, warga berdiri berjubel di sisi trotoar.

Di sudut lain, para pedagang kaki lima ikut memeriahkan suasana. Jagung bakar, sosis bakar, dan minuman dingin laris manis malam itu. Aroma makanan berbaur dengan suara takbir, menciptakan suasana yang bukan hanya sakral, tetapi juga hidup dan akrab.

Pawai takbir di Batam tahun ini terasa seperti titik temu antara spiritualitas, kebudayaan, dan rekreasi publik. Takbir hari raya menjelma jadi ruang bersama, tempat nilai-nilai agama tampil bukan dalam kesunyian, tapi dalam keramaian yang menggembirakan.

Baca Juga: Momentum Idul Adha 1446 H/2025 M: Tingkatkan Spirit Berbagi dan Kesalehan Sosial

Sejumlah warga menyebut malam takbiran ini sebagai “hari raya kedua.” Bukan hanya karena kemeriahannya, tapi karena rasa pertemuan yang tercipta di antara warga lintas usia dan latar belakang.

Melihat antusiasme dan potensi yang begitu besar, menjadi masuk akal jika pawai ini mulai diposisikan sebagai bagian dari destinasi wisata religi tahunan. Apalagi Batam adalah kota gerbang, titik temu budaya Melayu, Tionghoa, dan urban modern.

Menjelang pukul sepuluh malam, iring-iringan mobil terakhir melintas, dan warga perlahan membubarkan diri. Akan tetapi, semangat yang tercipta malam itu tetap tinggal di udara—semangat yang merekatkan, menginspirasi, dan memberi harapan bahwa syiar Islam dapat terus hadir dalam bentuk yang indah dan membahagiakan. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update