
batampos – Pemerintah terus menata sistem pengendalian banjir di Kota Batam. Salah satu langkah nyata adalah peresmian rumah pompa pengendali banjir di kawasan Jodoh, beberapa hari lalu.
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menyebut bahwa kebutuhan rumah pompa di Batam sebenarnya cukup banyak. Namun hingga kini, belum ada kajian yang memetakan jumlah ideal titik rumah pompa di seluruh wilayah.
“Sementara sampai sejauh ini belum ada kajiannya. Rumah pompa itu cukup besar nilainya, jadi sekarang kita coba meminimalisir penggunaannya dulu. Tapi dengan adanya anggaran dari Pemko, kita tempatkan rumah pompa itu di Jodoh,” katanya, Minggu (5/10).
Menurutnya, rumah pompa umumnya ditempatkan di kawasan yang terdampak langsung oleh pasang surut air laut. Ketika air laut pasang, pembuangan air dari daratan tidak bisa mengalir ke hilir secara alami. Dalam kondisi inilah, rumah pompa berperan untuk menjaga aliran air agar tidak menumpuk dan menimbulkan genangan.
Baca Juga: Buruh Desak Kenaikan UMK 2026 Naik hingga 10 Persen, Ini Tanggapan Apindo Batam
“Kalau dibilang berapa titik yang dibutuhkan, ya, cukup banyak. Tapi karena terkendala anggaran, maka kami tempatkan di lokasi-lokasi yang paling urgent. Sementara yang lain kita akali sebisa mungkin,” katanya.
Mouris menjelaskan, efektivitas rumah pompa memang cukup tinggi di kawasan tertentu, terutama yang berada di dataran rendah atau dekat dengan laut. Meski demikian, rumah pompa bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi banjir di Batam.
“Banjir di Batam ini banyak penyebabnya. Ada karena tidak ada drainasenya, ada juga yang ukuran drainasenya kurang, bahkan ada yang posisi tanah atau perumahannya di bawah, dekat dengan laut,” katanya.
Ia menilai, setiap kawasan memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Karena itu, solusi pengendalian banjir harus disesuaikan dengan penyebabnya masing-masing. Salah satu langkah alternatif yang kini dikaji adalah pembangunan kolam retensi di wilayah-wilayah padat penduduk.
“Kolam retensi ini fungsinya sebagai penampung debit air dalam jumlah besar yang kemudian dialirkan ke saluran selanjutnya. Jadi bisa dibilang, kolam retensi itu berfungsi untuk ‘mengerem’ air hujan agar tidak langsung masuk ke pemukiman,” ujar Mouris.
Selain rumah pompa dan kolam retensi, Mouris menilai pembangunan drainase induk juga sangat penting. Hingga kini, Batam belum memiliki sistem drainase induk yang terintegrasi seperti di kota-kota besar lainnya.
“Drainase induk memang belum ada di Batam. Tapi itu cukup efektif untuk meminimalisir banjir,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, praktik di luar negeri atau kota-kota modern yang menggunakan sistem multi utility box, yakni saluran multifungsi yang bukan hanya menampung air, tetapi juga menampung instalasi pipa dan kabel optik secara terintegrasi.
“Jadi dia berfungsi ganda. Selain untuk drainase, juga bisa dimanfaatkan untuk utilitas. Konsep ini efisien dan bisa jadi contoh bagi Batam ke depan,” katanya.
Lebih jauh, penyebab banjir tidak hanya bersumber dari faktor teknis drainase. Faktor lingkungan seperti praktik cut and fill, serta penebangan hutan lindung juga memberi kontribusi besar terhadap kerusakan tata air di Batam.
Baca Juga: Ibu dan Bayi Nyaris Jadi Korban Ambruknya Ruko di Tanjungriau
“Contoh, cut and fill itu berdampak terhadap sedimentasi. Makanya sekarang saya hentikan konsep izin cut and fill karena kebanyakan setelah dilakukan, malah tidak dibangun. Tanahnya terbawa ke saluran dan menyebabkan pendangkalan,” kata dia.
Penggundulan hutan menjadi ancaman serius bagi daya serap air tanah. Idealnya, kata Mouris, setiap kota memiliki area hutan basah sebagai ruang resapan alami.
“Di setiap kota itu mestinya ada hutan basah. Fungsinya seperti pori-pori kota. Setiap kali hujan, hutan basah ini menyerap air dan menahan limpasan,” katanya.
Dalam jangka panjang, BP Batam juga berencana memanfaatkan sistem drainase primer untuk pengelolaan air baku. Air yang tertampung dalam saluran atau kolam tidak langsung dibuang ke laut, melainkan diolah lagi menjadi pasokan air bersih.
“Dengan sistem itu nanti akan dibuat kolam-kolam yang bisa dijadikan air baku. Jadi tidak semua air hujan terbuang percuma,” ujar Mouris. (*)
Reporter: Arjuna



