
batampos – Pemerintah Singapura membuat gebrakan baru dengan menyederhanakan syarat masuk ke negaranya. Mulai 1 April, syarat masuk Singapura hanya membawa bukti negatif Covid-19 berdasarkan pemeriksaan PCR atau Antigen dari negara asal dan sudah dua kali vaksin. Juga sudah tak ada lagi pembatasan kuota.
Dari rilis yang dikeluarkan Pemerintah Singapura melalui laman https://www.moh.gov.sg/news-highlights/details/easing-of-community-smms-and-border-measures, disebutkan, tes PCR atau Antigen dilakukan minimal 2 hari sebelum keberangkatan.
Vaksinasi dosis lengkap, juga menjadi syarat utama. Namun, ada pengecualian bagi anak-anak usia dibawah 12 tahun atau memiliki alasan medis sehingga tidak dapat divaksin.
Seluruh orang yang akan memasuki Singapura, tidak perlu lagi mengajukan persetujuan masuk atau menggunakan jalur VTL. Para turis yang memasuki Singapura jika terpapar Covid-19, hanya wajib membayar tagihan medis di rumah sakit atau fasilitas kesehatan tempat mereka dirawat.
Dari laman https://safetravel.ica.gov.sg/, Vaccinated Travel Lane (VTL) sea diganti menjadi Vaccinated Travel Framework (VTF) Turis yang masuk Singapura tidak boleh berada di negara yang masuk dalam kategori terbatas. Vaksinasi dosis kedua bisa ditunjukan melalui sertifikat digital.
Seluruh turis yang masuk ke Singapura juga harus membuat surat pernyataan kesehatan melalui layanan elektronik kartu kesehatan Singapura.
Formulir layanan kesehatan ini telah disederhanakan, sehingga sangat mudah diisi oleh para turis yang masuk ke Singapura.
Pengunjung jangka pendek ke Singapura tidak lagi harus menunjukan bukti konfirmasi pemesanan hotel atau pembayaran selama di Singapura. Selain itu, tidak perlu lagi menunjukan tiket feri pulang pergi.
Namun, yang memasuki Singapura dalam jangka pendek harus membeli asuransi perjalanan, dengan pertanggungan minimum 30 ribu Dolar Singapura. Hal ini demi berjaga-jaga jika harus mendapatkan perawatan medis akibat Covid-19 selama di Singapura.
Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar, mengaku belum mendapatkan edaran resmi mengenai aturan ini.
“Melalui beberapa media sudah, tapi resminya dalam bentuk aturan atau surat edaran belum,” kata dia, Kamis (24/3).
Tapi, jika memang kabar penghapusan kuota itu valid, Buralimar mengatakan itu sangat memberikan dampak besar terhadap pariwisata di Kepri.
“Sebab tidak satu atau dua pelabuhan saja bisa beroperasi. Tapi semuanya sudah bisa, pastinya jumlah kunjungan wisman akan meningkat,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, ia mengatakan Gubernur Kepri Ansar Ahmad terus melobi pemerintah pusat untuk memberikan diskresi aturan terhadap Kepri. Ada beberapa aturan yang sedang dilobi oleh Ansar untuk memudahkan mendatangkan wisman ke Kepri.
“Saat ini sudah bebas visa, ditambah VoA,” ujarnya.
Ke depan, jumlah negara yang masuk dalam VoA akan ditambah lagi. Sehingga, dapat meningkatkan jumlah wisman yang masuk ke Kepri.
Selain itu, aturan PCR juga sedang di lobi. “Pak gubernur sedang meminta, agar PCR dikurangi atau digantikan dengan antigen saja,” ucapnya.
Ia berharap beberapa aturan yang selama ini, semakin mudah dan membuat wisman nyaman datang ke Kepri. “Semuanya kami usahakan, dan sedang dalam lobi-lobi,” ungkapnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Muhammad Mansyur memandang aturan yang dikeluarkan Pemerintah Singapura sangat simpel dan jelas. Ia berharap aturan dari Pemerintah Indonesia juga seperti itu. “Harus jelas,” ungkapnya.
Ia mengatakan, ada beberapa aturan yang masih memberatkan wisman datang ke Indonesia. Pertama, mengenai PCR yang masih diterapkan, sedangkan Singapura sudah menggunakan antigen.
Selain itu, wisman masih diminta menunjukkan bookingan hotel dan rencana selama berada di Batam. “Singapura sudah tidak lagi,” ujarnya.
Mansyur mengatakan, koleganya di Singapura masih mempertanyakan regulasi yang berlaku di Indonesia.
“Semoga kedepan aturannya lebih mudah dan membuat nyaman orang datang. Sebab sejauh ini VoA dan SE 13 tidak memberikan dampak signifikan terhadap kunjungan wisman ke Batam,” ungkapnya.
Salah seorang pelaku pariwisata, Febriansyah mengaku masih menunggu realisasi aturan tersebut.
“Kami sudah capek, hampir dua tahun seperti ini. Katanya akan buka, tapi tak jadi. Lalu katanya buka, pas buka begini. Kami lihat sajalah dulu realisasinya,” ujarnya.
Pemilik Tour and Travel ini mengaku sampai saat ini bertahan, dengan berjualan paket wisata ke Batam dan Bintan. “Paling satu paket saja sebulan dan wisnus. Kalau wisman belum lagi,” ucapnya.
Ia berharap jika memang dibuka, semoga memberikan dampak yang signifikan. “Saya tahu memang tidak akan bisa membaik seperti sebelum pandemi. Setidaknya sudah dimulailah,” katanya. (*)
Reporter : FISKA JUANDA



