Kamis, 15 Januari 2026

Museum Raja Ali Haji Batam: Ruang Pembelajaran Identitas

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Bangunan Museum Raja Ali Haji. (Arjuna)

batampos – Sentral Kota Batam, di Dataran Engku Putri, Batamcenter, yang sering dipijak langkah usaha manusia modern, berdirilah sebuah bangunan dengan wajah yang seakan membawa kita menembus relung sejarah.

Bukan sekadar museum biasa, tapi sebuah memoar yang memanggil untuk bertemu dengan masa lalu, bernafas dalam debu buku dan jejak langkah para leluhur. Inilah Museum Raja Ali Haji, rumah bagi cerita-cerita yang teramat rindu untuk dibaca lagi.

Bangunan itu sendiri memulai hidupnya bukan sebagai museum, melainkan sebagai astaka perhelatan besar Musabaqah Tilawatil Quran Nasional ke-25 pada 2014. Setelah riuh tepuk tangan perhelatan usai, bangunan ini diserahkan kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam, dan ide mulia untuk mengabadikannya sebagai tempat pelestarian sejarah pun berkibar.

Gagasan serius mulai dirajut sejak awal 2019; kemudian, pada 31 Juli 2019, Museum Batam resmi terdaftar secara nasional dan pada 10 Oktober 2019 mendapat nama yang kemudian mengundang rasa hormat semua orang.

Baca Juga: Menjaga Rasa, Kopi Lokal Hear Coffee Tembus Pasar Wisatawan

“Awalnya saya kira ini hanya museum biasa. Tapi setelah masuk, saya baru sadar kalau Batam punya sejarah panjang. Selama ini kami hidup seperti kota ini baru lahir kemarin,” kata Fadli (23), mahasiswa di Batam yang datang bersama beberapa temannya, Minggu (21/12).

Museum ini berdiri di area publik yang sering menjadi pusat seremoni dan wisata. Namun, medium tersebut sangat jarang menjadi ruang kontemplasi.

“Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda, tetapi ruang pembelajaran identitas. Kami ingin masyarakat Batam, terutama generasi muda, tahu bahwa kota ini tidak tumbuh dari ruang kosong,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata.

Suasana di dalam Museum Raja Ali Haji. (Arjuna)

Raja Ali Haji Adalah Kesunyian yang Berpikir

Nama Raja Ali Haji tak hadir di museum ini sebagai hiasan kosong. Ia dihadirkan sebagai suara. Lewat Gurindam Dua Belas, dia berbicara tentang akal, adab, dan tanggung jawab. Lewat Tuhfat al-Nafis, ia mencatat sejarah Melayu dengan ketelitian seorang saksi, bukan pembesar yang ingin dikenang.

“Kalau membaca karya Raja Ali Haji, kita seperti sedang ditegur dengan sopan. Beliau itu enggak memerintah, tapi seperti mengingatkan. Anak-anak muda seperti kami ini harus paham, bahwa bahasa itu punya nilai, bukan cuma pelajaran,” kata Fadhli.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dimaknai oleh Ardiwinata. Raja Ali Haji mengajarkan, peradaban dibangun dari bahasa dan pikiran. Museum pun diposisikan sebagai ruang untuk itu.

Artefak yang Tak Pernah Benar-Benar Diam

Di balik etalase kaca, benda-benda tua tersusun rapi: replika cogan kerajaan, meriam kolonial dari Pulau Buluh, keramik asing dari jalur perdagangan, ragam tanjak, hingga foto-foto Batam ketika pulau ini masih sepi, sebelum industri dan reklamasi datang.

Museum ini menyusun koleksi bukan sebagai tumpukan artefak, melainkan sebagai alur kisah. Pengunjung berjalan dari masa Kesultanan Riau-Lingga, kolonialisme, pendudukan Jepang, hingga Batam modern. Setiap benda diberi narasi, sebagian dilengkapi teknologi digital.

“Kami ingin museum ini berbicara. Kalau benda hanya dipajang tanpa cerita, ia mati,” kata Ardiwinata.

Baca Juga: LAZ Batam Bersama Batam Pos Gelar Pemeriksaan Kesehatan untuk Pengungsi di Aceh Tamiang

Bagi sebagian pengunjung muda, museum ini menjadi pertemuan pertama dengan sejarahnya sendiri. Museum Raja Ali Haji memang tak menjanjikan sensasi, dan tidak menawarkan hiburan instan. Tetapi justru di situlah kekuatannya: mengajak pengunjung berpikir, merasa, dan mengingat.

Mungkin museum tidak pernah benar-benar tentang masa lalu. Museum lebih sering tentang masa kini yang takut lupa. Ardiwinata bilang, sejarah bukan barang rapuh yang disimpan di balik kaca, melainkan cermin, tempat kita bercermin dan bertanya: dari mana kita datang, dan ke mana kita hendak melangkah?

Walau Batam jadi kota yang sibuk, tapi Museum Raja Ali Haji memilih diam. Meski demikian, dari diam itulah suara paling jujur sering terdengar merdu. (*)

 

 

ReporterArjuna

Update