
“Untukmu yang selalu membuatku jadi malu, mulutmu yang selalu caci maki tanpa ragu, pukulku pakai palu membuatku terbelenggu. Tapi kini kusadari saatnya ku ‘kan berdiri, dan ku ‘kan terus berlari, kau takkan bisa halangi, ‘kan kuraih mimpi untukmu kujadikan bukti.”
Sepenggal lirik rap itu keluar dari Nabil, siswa kelas 8 SMP Pelita Utama yang tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam konser bertajuk Bukan Konser Biasa pada 24 Agustus 2025 di Grand Ballroom Pacific Palace Hotel, Batam.
Lirik itu bukan sekadar rangkaian kata, tapi jeritan hati seorang remaja yang pernah melihat pahitnya perundungan.
Lagu ini sangat penuh dengan emosional anak remaja. Nabil mengaku, bagian tersulit justru terletak pada latihan koreografi. “Persiapan khusus menjelang konser adalah koreografi. Vokal tetap intensif. Namun deg-degan juga,” kata Nabil.
Koreografi yang ia bawakan bukan sekadar tarian, melainkan gerak bercerita yang menggambarkan pesan dalam lagunya.
Lagu Pemenang dipilihnya sebagai bentuk perlawanan positif terhadap tindakan perundungan.

Alih-alih membalas dengan kemarahan, Nabil ingin menunjukkan bahwa cara terbaik menghadapinya adalah bertahan, melangkah maju, dan mengejar mimpi hingga menjadi pemenang.
“Melalui lagu ini, aku ingin mengajak anak-anak generasi sekarang untuk stop melakukan bully,” kata Nabil.
Pendiri Langkah Awal Music School, Ms Desi Tondang, menjelaskan bahwa aransemen lagu Pemenang dibuat dalam nuansa hip hop dengan sentuhan gamers vibe yang tajam dan bertenaga. “Agar dia merasa seperti berada di dalam game itu,” tutur Desi.
Langkah Awal Music School kembali menggelar Bukan Konser Biasa pada 24 Agustus 2025 mendatang di Grand Ballroom Pacific Palace Hotel, Batam. Tidak hanya menampilkan musik, acara ini menjadi panggung ekspresi sekaligus edukasi tentang kesehatan mental dan problematika remaja di era digital.
Didirikan pada awal 2023, Langkah Awal Music School menawarkan pendekatan pembelajaran musik yang berbeda. Sekolah ini fokus menggali potensi murid melalui pengalaman bermusik otentik, termasuk pertunjukan rutin dan ujian sertifikasi musik bertaraf internasional.
Pada Bukan Konser Biasa, cerita personal para murid akan dikemas dalam pertunjukan teatrikal-musikal. Lebih dari 150 penampil terlibat, mulai dari murid vokal, penari, hingga paduan suara.
“Tema utamanya tentang kesehatan mental dan tantangan yang dihadapi remaja saat ini, seperti hilangnya semangat nasionalisme, kurangnya visi masa depan, dan isu perundungan,” ujar Desi.
Semua aspek kreatif, mulai dari aransemen musik, koreografi, kostum, hingga visual panggung, diproduksi secara mandiri oleh tim Langkah Awal.

Konser ini juga akan menghadirkan penyanyi muda IDGITAF, yang dikenal dengan karya-karya bernuansa relevan dengan kegelisahan generasi muda. Kehadirannya diharapkan memberi inspirasi tambahan bagi penonton, khususnya remaja.
“Harapan kami, penonton dan murid-murid bisa lebih memahami bagaimana merespons situasi dengan bijak, serta melihat sisi positif dari setiap peristiwa,” kata Desi
Lewat Bukan Konser Biasa, Langkah Awal Music School ingin membuktikan bahwa pendidikan musik dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan sosial yang kuat.
Mereka berharap konser ini menjadi awal dari pertunjukan yang lebih besar dan berdampak di masa depan. (*)
Reporter: Juliana Belence



