Selasa, 13 Januari 2026

Nagoya Bersolek, Ditata Menjadi Walkable City

spot_img

Berita Terkait

spot_img
BP Batam melakukan survei pengembangan dan pembangunan kawasan pedestrian di Nagoya. Jumat (2/1). F.Istimewa

batampos – BP Batam melakukan survei pengembangan dan pembangunan kawasan pedestrian di Nagoya. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, bersama jajaran BP Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, serta melibatkan sejumlah pengusaha dan perwakilan perbankan, pada Jumat (2/1).

Survei ini merupakan bagian dari langkah awal penataan kawasan Nagoya yang ditetapkan sebagai salah satu dari lima Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) yang tengah digarap BP Batam. Peninjauan lapangan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi eksisting kawasan sebelum perencanaan penataan dilakukan secara lebih komprehensif.

“Kegiatan hari ini dilakukan dalam rangka survei lokasi. Nagoya Heritage dan New Nagoya merupakan salah satu dari lima WPP yang sedang kita garap. Survei ini menjadi langkah awal untuk melihat langsung kondisi lapangan,” kata Mouris.

Ia menjelaskan, pengembangan kawasan direncanakan membentang dari Harbour Bay hingga kawasan Pakuwon, dengan panjang area pedestrian total sekitar 4,7 kilometer. Kawasan ini akan diarahkan sebagai walkable city, yakni areal ramah pejalan kaki yang nyaman, tertata, dan berorientasi pada aktivitas wisata serta ekonomi kreatif.

Baca Juga: Harga Beras di Batam Melonjak, IRT dan Pedagang Makanan Mengeluh

“Nagoya Heritage akan kita posisikan sebagai destinasi wisata baru di Kota Batam,” katanya.

Pengembangan kawasan tidak hanya difokuskan pada kepentingan pengusaha besar, tetapi juga memberikan dukungan penuh kepada pelaku UMKM. Penataan akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perbaikan kios, penataan ulang tampilan kawasan, hingga pembenahan sistem pengelolaan.

Ke depan, kawasan Nagoya Heritage juga direncanakan memiliki pengelola kawasan tersendiri guna memastikan keberlanjutan penataan dan pengelolaan lingkungan.

Dari sisi infrastruktur, pedestrian akan dirapikan dan ditingkatkan kualitasnya. Selain itu, akan disiapkan kantong-kantong parkir, perbaikan sistem lalu lintas, serta penetapan zona tertentu yang dikhususkan bagi pejalan kaki tanpa akses kendaraan bermotor.

Terkait penganggaran, proyek ini dirancang menggunakan konsep kerja sama atau gotong royong yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari BP Batam, Pemko Batam, pelaku usaha, hingga asosiasi terkait.

Pada fase pertama, fokus utama adalah menciptakan crowd gathered, yakni menghidupkan kawasan dengan menghadirkan keramaian terlebih dahulu. Momentum dua agenda besar, Imlek dan Idulfitri, akan dimanfaatkan untuk menarik kunjungan masyarakat agar aktivitas ekonomi dan sosial di sepanjang Nagoya Heritage mulai bergerak.

“Pada tahap awal ini belum ada pembangunan fisik besar. Fokusnya adalah membangun kebiasaan baru masyarakat untuk datang, berkuliner, dan berbelanja melalui berbagai kegiatan dan event,” ujar Mouris.

Baca Juga: Ingatkan Bahaya Angin Utara dan Pasang Laut Tinggi, BMKG Minta Warga Waspada Saat Beraktivitas di Pantai

Setelah kawasan mulai hidup, BP Batam akan melakukan pembenahan secara bertahap dan organik. Seiring meningkatnya kunjungan, ia mengharapkan para pemilik toko dan pelaku usaha terdorong untuk melakukan renovasi, mempercantik tempat usaha, serta berinovasi secara mandiri. Penataan lanjutan akan dilakukan secara perlahan mengikuti perkembangan kawasan.

Jumlah pedagang kaki lima (PKL) yang terlibat dalam pengembangan kawasan ini masih dalam proses pendataan. BP Batam telah menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) yang menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut dan siap membantu penyediaan data PKL.

Selain itu, peluang kerja sama juga dibuka dengan pihak perbankan, salah satunya Bank BRI yang dikenal sebagai bank pendukung UMKM. Meski masih dalam tahap diskusi dan perumusan konsep, respons dari BRI dinilai positif dan pihak perbankan tersebut turut serta dalam survei lapangan.

Dalam peninjauan lapangan, seluruh area dinilai masih membutuhkan perhatian serius. Survei ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur BP Batam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim), hingga pengembang kawasan. Bersama-sama, mereka mengidentifikasi sejumlah persoalan, seperti fasilitas penyeberangan yang belum nyaman, kondisi pedestrian yang rusak, serta sistem drainase yang belum memadai.

Baca Juga: Kejaksaan Negeri Batam Siap Jalankan KUHP dan KUHAP Baru

“Hasil survei ini akan menjadi dasar penentuan langkah perbaikan ke depan. Penataan yang dilakukan bukan untuk menertibkan atau menggusur, tetapi merapikan dan memperbaiki kondisi yang sudah ada,” kata Mouris.

Ia bilang, penataan juga mencakup peningkatan kualitas kios serta pembaruan sistem pendukung, termasuk metode pembayaran yang saat ini masih banyak dilakukan secara manual.

Dengan konsep penataan bertahap dan kolaboratif, dia berharap Nagoya Heritage dapat tumbuh menjadi kawasan wisata perkotaan yang hidup, inklusif, serta mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. (*)

Update