
batampos– Bagi anak hinterland, bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi apalagi di perguruan tinggi negeri merupakan suatu berkah. Sebab selama ini, pendidikan anak anak di hinterland sering dipandang sebelah mata jika dibandingkan anak anak yang sekolah di mainland Batam.
Namun anak anak hinterland susah masuh perguruan tinggi negeri dipatahkan oleh Nataya Diyandra Calysta. Gadis kelahiran Belakangpadang, Batam ini, behasil masuk ke Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui jalur SNMPTN tahun 2022. Nataya jadi salah satu anak anak hinterland yang bisa masuk perguruan tinggi selain anak anak hinterland yang sudah masuk perguruan tinggi sebelumnya. Padahal gadis kelahiran 30 April 2004 ini asli lulusan SMA Negeri, Batam.
Putri tunggal Pujiman -Nony Riska Susanti ini tak hanya itu, setelah diterima di Unnes, Nataya pun berhasil lolos seleksi kelas internasional Unnes 2022. Nataya adalah salah satu dari 17 mahasiswa yang diterima dari 400 mahasiswa yang bersaing untuk bisa masuk di kelas internasional.
“Alhamdulillah, suatu kebanggan bagi Nataya bisa masuk program studi manajemen kelas internasional dan bergabung dengan mahasiswa dari luar negeri yakni Kyrgyzstan dan Timur Leste. Satu kelas hanya 23 mahasiswa saja dan berkesempatan besar mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri,” ujarnya Nataya, Sabtu (24/9/2022).
Baca Juga: Perguruan Tinggi Dukung Percepatan Penurunan Angka Stunting di Kepri
Sebelum lolos seleksi kelas internasional, Nataya mengaku sedikit minder dengan mahasiswa lain yang berasal dari kota besar. Sebab, selain belajar bahasa Inggris di sekolahnya, Nataya mengaku belajar bahasa Inggris hanya dari les private rumahan di pulau tempatnya tinggal. Sementara ia harus bersaing dengan mahasiswa yang belajar bahasa Inggris di lembaga bimbingan belajar yang kualitasnya jauh lebih baik.
Setelah gigih belajar dan semangat serta tekad yang kuat untuk meraih prestasi, Nataya mampu membuktikan jika anak hinterland juga bisa bersaing hingga berprestasi. Namun demikian, Nataya mengaku jika keberhasilannya meraih mimpi untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri ini tidak terlepas dari bimbingan guru-guru dan kedua orangtuanya.
“Terima kasih untuk semua guru di SDN 01, SMPN 01, SMAN 2, dan juga untuk guru les bahasa Inggris mam Hudayani yang sudah membimbing saya hingga bisa meraih mimpi,” katanya. (*)



