
batampos – Nilai ekspor Kota Batam pada Januari 2026 tercatat sebesar US$1,592 miliar, atau mengalami penurunan 10,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,775 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya ekspor pada sektor nonmigas maupun migas.
“Ekspor nonmigas pada Januari 2026 mencapai US$1,535 miliar, turun 9,78 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$1,702 miliar. Sementara ekspor migas tercatat US$57,05 juta, turun 22,13 persen dari sebelumnya US$73,26 juta,” ujarnya, Jumat (6/3).
Meski mengalami penurunan secara total, beberapa komoditas utama masih memberikan kontribusi besar terhadap ekspor Batam. Komoditas mesin dan peralatan listrik (HS 85) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$840,37 juta atau 54,72 persen dari total ekspor nonmigas.
Selain itu, komoditas lain yang juga memiliki kontribusi cukup besar antara lain mesin dan pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$174,57 juta atau 11,37 persen, disusul minyak dan lemak hewan atau nabati (HS 15) sebesar US$116,17 juta atau 7,56 persen.
Kemudian berbagai produk kimia sebesar US$84,62 juta (5,51 persen), benda-benda dari besi dan baja sebesar US$51,91 juta (3,38 persen), serta kapal laut sebesar US$41,23 juta (2,68 persen).
Komoditas lainnya yang turut berkontribusi yakni tembakau sebesar US$36,80 juta, kakao atau coklat sebesar US$34,41 juta, perangkat optik sebesar US$26,38 juta, serta plastik dan barang dari plastik sebesar US$25,05 juta.
Dari sisi negara tujuan ekspor, Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar bagi produk ekspor Batam. Pada Januari 2026, nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$464,35 juta atau 29,15 persen dari total ekspor Batam.
Menariknya, ekspor ke Amerika Serikat justru mengalami peningkatan cukup signifikan yakni 50,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain Amerika Serikat, negara tujuan ekspor utama lainnya adalah Singapura dengan nilai ekspor US$354,44 juta, India sebesar US$152,57 juta, Tiongkok sebesar US$141,53 juta, serta Jepang sebesar US$63,24 juta.
Selanjutnya Arab Saudi sebesar US$45,86 juta, Vietnam sebesar US$37,79 juta, Taiwan sebesar US$31,26 juta, Jerman sebesar US$25,49 juta, dan Malaysia sebesar US$23,89 juta.
“Sepuluh negara tujuan ekspor tersebut memiliki peranan sebesar 84,15 persen terhadap total ekspor Kota Batam selama Januari 2026,” jelas Eko.
Sementara itu, jika dilihat dari jalur pengiriman, Pelabuhan Batu Ampar masih menjadi pintu utama ekspor Batam. Nilai ekspor melalui pelabuhan ini mencapai US$1,018 miliar, meskipun mengalami penurunan 25,31 persen dibandingkan Januari 2025.
Pelabuhan lain yang juga berperan dalam aktivitas ekspor Batam yakni Pelabuhan Sekupang sebesar US$312,88 juta, Pelabuhan Kabil/Panau sebesar US$193,62 juta, Pelabuhan Belakang Padang sebesar US$58,07 juta, serta Bandara Hang Nadim sebesar US$8,72 juta.
“Kelima pelabuhan tersebut menyumbang 99,95 persen dari total nilai ekspor Kota Batam pada Januari 2026,” ujarnya.
Dari sisi volume, ekspor terbesar juga melalui Pelabuhan Batu Ampar yang mencapai 149,08 ribu ton, meskipun mengalami penurunan 14,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kemudian disusul Pelabuhan Kabil/Panau sebesar 133,69 ribu ton, Pelabuhan Belakang Padang sebesar 127,88 ribu ton, Pelabuhan Sekupang sebesar 17,62 ribu ton, serta Pelabuhan Batam Island sebesar 0,16 ribu ton.
“Total volume ekspor melalui lima pelabuhan utama tersebut mencapai 99,88 persen dari keseluruhan volume ekspor Kota Batam pada Januari 2026,” tutupnya.(*)



