
batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam terus mendorong partisipasi aktif para orang tua dalam upaya pencegahan stunting melalui pemantauan rutin tumbuh kembang balita di pos pelayanan terpadu (posyandu). Rutin membawa anak ke posyandu disebut menjadi kunci utama untuk mendeteksi sejak dini adanya gangguan pertumbuhan.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan bahwa pengukuran balita di Batam dilakukan secara masif di seluruh posyandu aktif yang tersebar di berbagai wilayah. Saat ini, terdapat sekitar 570 posyandu yang rutin melaksanakan penimbangan dan pengukuran tinggi badan anak usia 0 hingga 59 bulan.
“Kami mengimbau para orang tua untuk tidak lalai membawa anak ke posyandu. Ini penting untuk memastikan anak tumbuh sesuai usianya dan mendeteksi secara dini jika ada masalah pertumbuhan,” ujar Didi, Jumat (16/5).
Baca Juga: SPMB di Batam Dimulai 2 Juni, Jalur Afirmasi SD Jadi Tahap Pertama
Data menunjukkan bahwa sepanjang triwulan I tahun 2025, pengukuran telah dilakukan terhadap 56.185 balita dari total 64.562 anak. Angka ini menunjukkan capaian sebesar 87,04 persen, melebihi target nasional yang ditetapkan sebesar 80 persen.
Dari hasil pengukuran tersebut, sebanyak 219 anak masuk kategori sangat pendek (Z score < -3 SD), 643 anak pendek (Z score -3 sampai < -2 SD), 54.881 anak tergolong normal (Z score -2 sampai +3 SD), dan 303 anak memiliki tinggi badan di atas normal (Z score > +3 SD).
“Alhamdulillah, capaian kita sudah melampaui target nasional, meskipun ini masih data triwulan pertama. Tentunya pengukuran akan terus berlanjut hingga akhir tahun,” kata Didi.
Pada tahun 2024 lalu, jumlah balita yang berhasil diukur mencapai 65.844 anak, dengan rincian 256 anak sangat pendek, 584 anak pendek, 64.374 anak normal, dan 630 anak tergolong tinggi.
Menurut Didi, kegiatan pengukuran balita dilakukan dengan pendekatan by name by address, artinya setiap anak didata dan dipantau secara individual. Seluruh data dari posyandu kemudian direkap dan dianalisis oleh puskesmas di wilayah masing-masing, yang kemudian menjadi dasar intervensi dalam pencegahan dan penanganan stunting.
Baca Juga: Sudah 3 Bulan, Penyidikan Dugaan Korupsi Pelabuhan Batuampar Belum Ada Perkembangan Signifikan
“Pengukuran ini bukan hanya formalitas. Ini adalah langkah penting untuk intervensi. Kalau ada anak yang terdeteksi pendek atau sangat pendek, maka kita akan tindak lanjuti dengan pendekatan gizi, pemeriksaan kesehatan, hingga edukasi orang tua,” jelasnya.
Dinkes Batam juga mengingatkan bahwa posyandu tidak hanya tempat menimbang anak, tetapi juga pusat edukasi keluarga. Di posyandu, para orang tua dapat memperoleh informasi tentang gizi, pola asuh, imunisasi, serta pemeriksaan kesehatan dasar untuk ibu dan anak.
“Peran posyandu sangat strategis. Karena itu, kita terus mendorong penguatan kapasitas kader dan dukungan dari masyarakat,” tutup Didi. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



