Kamis, 22 Januari 2026

Orangtua Masih Berjuang, Pemerataan Siswa Baru SMA/SMK Negeri di Batam Terus Diupayakan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Kantor Disdik Provinsi Kepri Cabang Batam, Kasdianto.

batampos — Penerimaan siswa baru tahun ajaran 2024/2025 di Batam masih menyisakan harapan dan kekecewaan bagi sejumlah orangtua. Meski seleksi penerimaan berbasis sistem zonasi dan pemerataan telah selesai, masih ada orangtua yang berharap anaknya dapat diterima di sekolah negeri yang lebih dekat dari rumah. Beberapa di antaranya mengaku keberatan jika anak mereka ditempatkan di sekolah yang jaraknya terlalu jauh.

Di kawasan Batuaji dan Sagulung, sejumlah orangtua mengungkapkan belum mendapatkan sekolah yang sesuai untuk anak mereka. Beberapa bahkan masih menunggu kesempatan bisa masuk ke sekolah favorit seperti SMKN 5 atau SMKN 1 Batam, meski dua sekolah tersebut sudah menyatakan kuota penuh. “Anak saya masih ingin masuk SMKN 5. Kami berharap masih bisa ada peluang, karena memang dekat dan kualitasnya bagus,” ujar Agus, salah satu orangtua di Sagulung.

Kondisi ini terjadi lantaran masih banyak lulusan SMP/MTs yang menaruh harapan besar pada sekolah-sekolah negeri yang dianggap baik atau favorit. Namun karena keterbatasan daya tampung (RDT), mereka harus dialihkan ke sekolah lain melalui sistem pemerataan. Sayangnya, tidak semua orangtua langsung menerima penempatan tersebut, terutama jika dianggap terlalu jauh dari tempat tinggal.

Kepala Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Cabang Batam, Kasdianto, mengatakan bahwa proses pemerataan masih berlangsung. “Untuk SMA negeri, kami masih punya cukup RDT di sejumlah sekolah. Jadi bagi yang belum tertampung atau belum daftar sama sekali, bisa segera mencari sekolah yang masih tersedia kuotanya,” ujarnya.

Namun untuk jalur SMK, hampir semua sekolah negeri di Batam dinyatakan sudah penuh. Satu-satunya opsi yang kini sedang disiapkan adalah rencana konversi SMAN 27 Batam di Batuaji menjadi SMKN 12. “Ini solusi untuk mengatasi penumpukan di SMK. Kita ubah status sekolah untuk menambah daya tampung jalur kejuruan,” kata Kasdianto.

Konversi SMAN 27 menjadi SMKN 12 diharapkan dapat membantu menampung siswa baru yang ingin melanjutkan pendidikan kejuruan, terutama di wilayah Batuaji dan sekitarnya. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerataan akses pendidikan menengah di Batam.

Dinas Pendidikan Kepri menegaskan bahwa prinsip utama dalam penerimaan siswa baru adalah memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat, terutama bagi keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Meski demikian, pihak dinas tetap mendorong masyarakat yang secara finansial mampu untuk mempertimbangkan sekolah swasta sebagai alternatif.

“Tugas kami memastikan semua anak yang ingin sekolah di negeri bisa tertampung. Namun tentu tidak semua bisa masuk sekolah tertentu (favorit). Pemerataan harus jadi solusi bersama,” tambah Kasdianto.

Terkait bantuan pembiayaan pendidikan seperti subsidi SPP di sekolah swasta, hingga saat ini belum ada pembahasan lanjutan. Fokus utama pemerintah masih pada penuntasan penempatan siswa di sekolah negeri. Pihak dinas pun terus membuka layanan informasi dan konsultasi bagi orangtua yang masih mencari solusi pendidikan anaknya. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update