Jumat, 23 Januari 2026

Pasar Properti Batam Tetap Stabil di Tengah Penguatan Dolar

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ketua DPD REI Khusus Batam, Robinson Tan.

batampos – Tren penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) di awal tahun ini belum memberi dampak langsung terhadap pasar properti di Batam. Hingga kini, kalangan pengembang mengaku belum menerima laporan adanya penurunan minat beli maupun gangguan serius pada kinerja penjualan akibat fluktuasi kurs tersebut.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Batam, Robinson Tan, mengatakan, bahwa sejauh ini para anggota REI tidak melaporkan adanya pengaruh signifikan dari kenaikan dolar terhadap transaksi properti.

“Kalau sejauh ini belum ada laporan dari anggota kita mengenai pengaruh karena nilai tukar USD tersebut,” katanya, Kamis (22/1).

Baca Juga: Lonjakan Investasi 115 Persen, Batam Jadi Model bagi Kabupaten Batu Bara, Sumut

Ia menjelaskan, apabila terjadi kenaikan harga jual properti, hal tersebut lebih disebabkan oleh faktor kenaikan biaya produksi yang bersifat normal, seperti meningkatnya harga material bangunan dan Upah Minimum Kota (UMK). Penyesuaian harga merupakan konsekuensi dari kenaikan komponen biaya tersebut, bukan semata-mata dampak langsung dari penguatan dolar AS.

“Kalau adapun kenaikan harga jual properti itu memang karena kenaikan secara normal, karena material dan UMK naik yang menyebabkan biaya produksi naik sehingga ada penyesuaian harga jual,” ujar Robinson.

Meski demikian, dia mengakui bahwa apabila nilai tukar dolar terus mengalami kenaikan dalam jangka panjang, potensi dampak terhadap sektor properti tetap perlu diantisipasi. Terutama jika penguatan dolar memicu kenaikan harga material impor atau menekan sektor industri yang menjadi tulang punggung ekonomi Batam.

Pasar properti Batam sangat erat kaitannya dengan dinamika sektor industri. Ia bilang, selama industri tumbuh dan menyerap tenaga kerja, daya beli masyarakat relatif terjaga dan permintaan hunian tetap stabil. Sebaliknya, pelemahan sektor industri akan berimbas langsung pada kemampuan masyarakat untuk membeli rumah.

“Sebenarnya peminat properti di Batam lebih berpengaruh pada sektor industri. Kalau industri masih terus bertumbuh maka market tetap bagus, tapi kalau sektor industri melemah akan sangat berpengaruh pada daya beli,” katanya.

Baca Juga: Penumpang Internasional Bandara Hang Nadim Naik 64 Persen Sepanjang 2025

Mengenai prospek ke depan, Robinson menilai sektor properti Batam masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Kebutuhan hunian masyarakat dinilai tetap tinggi, seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan perdagangan bebas tersebut.

Ia juga menanggapi isu tata kelola lahan yang kerap menjadi tantangan bagi pengembang. Persoalan lahan bukan hanya terjadi di Batam, melainkan juga menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Meski begitu, ia optimis pelaku usaha akan terus beradaptasi.

“Saya kira soal lahan bukan hanya menjadi tantangan buat Batam saja, tapi secara nasional kurang lebih sama selalu penuh dengan tantangan. Tapi kita percaya sebagai pengusaha akan selalu kreatif dan inovatif dalam menciptakan market karena kebutuhan rumah oleh masyarakat masih besar,” katanya.

Meskipun dalam periode tertentu pasar bisa mengalami perlambatan, siklus properti pada akhirnya akan kembali bergerak naik. Dengan fondasi industri yang masih relatif terjaga, ia menilai Batam tetap memiliki prospek cerah sebagai salah satu pasar properti strategis. (*)

ReporterArjuna

Update