Kamis, 15 Januari 2026

Pasar Seken Aviari: Bertahan di Tengah Gempuran Olshop dan Pasar Kaget

spot_img

Berita Terkait

spot_img

Kondisi Pasar Seken Aviari.
foto: Eusebius Sara / Batam Pos

batampos – Pasar Seken Aviari, yang pernah menjadi ikon pasar barang bekas terbesar di Batam, kini mengalami penurunan aktivitas secara signifikan. Pasar ini meredup karena berbagai faktor, terutama maraknya penjualan barang bekas melalui online shop (olshop) dan menjamurnya pasar kaget di berbagai lokasi.

Sejak pandemi COVID-19 melanda beberapa tahun lalu, kondisi Pasar Seken Aviari semakin terpuruk. Banyak pedagang akhirnya gulung tikar akibat sepinya pembeli dan ketatnya persaingan. Namun, sebagian pedagang yang bertahan mulai beradaptasi, salah satunya dengan memanfaatkan platform online untuk berjualan.

Indra, salah satu pedagang di Pasar Seken Aviari, mengungkapkan bahwa saat ini ia lebih mengandalkan penjualan melalui olshop. “Toko tetap buka, tetapi saya lebih fokus jualan di olshop. Kalau hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke pasar, jelas sulit,” ujarnya.

Pasar Seken Aviari masih beroperasi hingga kini, meski hanya beberapa pedagang yang bertahan dengan menjual pakaian bekas, sepatu, koper, dan aksesori lainnya. Namun, aktivitas perdagangan tidak seramai dulu. Hal ini tak lepas dari kemudahan yang ditawarkan platform online, di mana pembeli bisa mendapatkan barang seken dengan harga bersaing tanpa harus datang langsung ke pasar.

Selain persaingan dari olshop, keberadaan pasar kaget di berbagai lokasi sekitar juga menjadi tantangan besar bagi para pedagang Pasar Seken Aviari. Udin, salah satu pedagang, berharap pemerintah bisa menata kembali sistem perdagangan di Batam agar pasar kaget tidak terus menjamur. “Kalau bisa ditata agar terfokus di satu tempat, biar pembeli tidak bingung dan pasar tradisional seperti Aviari ini bisa hidup lagi,” harapnya.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam sendiri menyadari dampak negatif dari maraknya pasar kaget terhadap pasar tradisional dan resmi. Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, pemerintah mulai mendata dan merencanakan relokasi pedagang pasar kaget ke tempat yang lebih terorganisir. Beberapa wilayah, seperti di Tanjungpiayu, sudah mulai ditata agar pedagang tidak lagi berjualan sembarangan.

Amad Elfasi, Kepala Bidang Pasar Disperindag Kota Batam, menegaskan bahwa keberadaan pasar kaget yang tidak terorganisir berdampak pada perekonomian pasar tradisional yang seharusnya dikelola dengan baik. “Kami sudah melakukan penataan di beberapa wilayah. Ke depan, kami akan terus berkoordinasi untuk merelokasi pedagang pasar kaget ke lokasi yang lebih resmi,” jelasnya.

Salah satu alasan utama mengapa pasar kaget lebih menarik bagi pembeli adalah lokasinya yang strategis dan lebih mudah diakses dibanding pasar resmi. Banyak masyarakat lebih memilih belanja di pasar kaget yang dekat dengan rumah mereka daripada harus pergi ke pasar tradisional yang lebih jauh. Hal ini membuat persaingan semakin ketat bagi pedagang di Pasar Seken Aviari.

Di sisi lain, munculnya pasar kaget yang tidak tertata juga memunculkan masalah lain, seperti kemacetan dan sistem parkir yang semrawut. Beberapa titik, seperti pasar kaget di depan Perumahan Merlion, Batuaji, kerap menjadi sumber kemacetan karena pedagang menggunakan bahu jalan untuk berjualan. Selain itu, keberadaan juru parkir liar semakin menambah keresahan warga.

Dengan adanya rencana penataan dari Pemko Batam, diharapkan aktivitas perdagangan di kota ini bisa lebih tertata, baik untuk pedagang pasar tradisional maupun pedagang pasar kaget. Selain itu, bagi pedagang di Pasar Seken Aviari, adaptasi ke dunia digital tampaknya menjadi langkah utama untuk tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Reporter: Eusebius Sara

 

Update