
batampos – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Tanjungpinang dan Pulau Bintan memicu kritik terhadap pengelolaan interkoneksi kelistrikan Batam–Bintan. PLN Batam dinilai tidak menjalankan komitmen pembagian beban saat defisit terjadi, lantaran tidak menerapkan pemadaman di Batam sehingga seluruh dampak justru dirasakan wilayah Bintan.
Menanggapi sorotan tersebut, Humas PLN Batam, Yoga, menjelaskan bahwa gangguan pasokan listrik dipicu oleh penghentian sementara aliran gas dari Sumur Jambi Merang di Sumatera Selatan sejak Selasa, 6 April. Kondisi yang disebut sebagai zero flow itu menyebabkan penurunan pasokan sekitar 20 BBTUD, setara dengan potensi pembangkitan sekitar 100 megawatt (MW).
“Sebagaimana diketahui, sekitar 85 persen pembangkit di Batam berbasis gas. Ketika pasokan gas terganggu, secara otomatis sistem mengalami defisit,” ujar Yoga, Kamis, (9/4).
Akibat keterbatasan tersebut, PLN Batam melakukan manajemen beban dengan mengurangi transfer listrik ke Bintan. Pasokan dari Batam saat itu tidak dapat disalurkan secara penuh karena pembangkit gas tidak memperoleh suplai dari Jambi.
Namun, kondisi tersebut disebut mulai membaik setelah adanya dukungan pasokan gas dari sumber lain yang difasilitasi PLN pusat. “Saat ini suplai listrik ke Bintan dari Batam sudah kembali normal,” kata Yoga.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasokan energi dalam beberapa pekan ke depan. Perbaikan infrastruktur di Sumur Jambi Merang diperkirakan membutuhkan waktu 20 hingga 30 hari hingga aliran gas kembali normal.
PLN Batam mengaku terus berkoordinasi intensif dengan unit terkait di wilayah Bintan dan pusat guna mengantisipasi potensi gangguan lanjutan. Berbagai langkah mitigasi tengah disiapkan, termasuk mencari alternatif pasokan energi untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan.
“Koordinasi terus kami lakukan untuk memastikan keandalan suplai, termasuk menyiapkan skema jika kondisi serupa kembali terjadi,” ujar Yoga.
Di tengah situasi ini, isu kemandirian energi Bintan kembali mengemuka. Ketergantungan pada pasokan dari Batam dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat wilayah tersebut rentan terdampak ketika terjadi gangguan di hulu sistem pembangkitan.(*)



