
batampos – Upaya menjadikan Kawasan Nagoya-Jodoh sebagai koridor pedestrian bernuansa heritage semakin dimatangkan. Jajaran Pemko Batam dan BP Batam yang dipimpin Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mendampingi Wakil Menteri UMKM RI, Helvi Yuni Moraza, dalam peninjauan langsung ke kawasan Sei Jodoh, Jumat (9/1).
Kunjungan ini menjadi tindak lanjut rencana pembangunan kawasan Nagoya Heritage yang diperkirakan membentang sepanjang 4,7 kilometer, dari Harbour Bay hingga kawasan Pakuwon.
Helvi menyampaikan dukungan penuh dari Kementerian UMKM terhadap rencana revitalisasi yang dinilai mampu memperkuat posisi Batam sebagai etalase investasi nasional sekaligus kota wisata belanja.
“Saya mewakili Menteri UMKM tentu menyambut dan mendukung upaya Pemko dan BP Batam melakukan terobosan. Ini bukan hanya menjadikan Batam etalase investasi nasional, tapi juga mengembalikan Batam sebagai pusat wisata belanja tanpa meninggalkan sejarah masa lalu,” katanya.
Baca Juga: Realisasi IMTA Batam Tembus Rp44,8 Miliar, Target 2026 Naik Jadi Rp50 Miliar
Helvi yang mengaku memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat Melayu, menggarisbawahi konsep pembangunan yang tetap memanusiakan pelaku usaha mikro. “UMKM jangan dipandang hanya pedagang kaki lima. Semua ruko-ruko juga UMKM. Kami berharap dengan konsep baru ini tercipta lingkungan yang mendukung peran serta UMKM dalam pembangunan Batam,” lanjutnya.
Pemerintah siap menyediakan dukungan fasilitas pembiayaan, mulai dari pembiayaan ultra mikro hingga mikro. Skema ini untuk memastikan para pedagang dan pelaku UMKM tetap bisa bertahan serta berkembang selama proses revitalisasi berlangsung.
“Kuliner biasanya masuk pembiayaan ultra mikro di bawah Rp15 juta. Kita duduk bersama agar program pemerintah benar-benar terlaksana,” kata dia.
Revitalisasi yang direncanakan tidak akan menghilangkan pedagang dari lokasi saat ini. Menurutnya, isu penggusuran yang kerap muncul pada proyek penataan seperti ini perlu diluruskan sejak awal.
“Terutama di usaha mikro, kalau ada revitalisasi itu pasti dikira ada penggusuran. Padahal ini tidak. Mereka tetap di sini, tapi dikelola agar lebih menarik, bersih, dan punya akses yang lebih baik,” katanya.
Dia meminta Pemko Batam dan BP Batam memperhatikan dua hal utama dalam penataan kawasan: kelestarian warisan budaya dan kesinambungan UMKM. Ia mencontohkan keberhasilan Kota Bandung dalam menata kawasan belanja tanpa mengorbankan identitas lokal.
Karena itu, Helvi mendorong adanya pertemuan khusus bersama pelaku UMKM, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), Himpunan Bank Negara (Himbara), serta masyarakat sekitar untuk menyepakati konsep penataan, skema pembinaan, hingga struktur pembiayaan. Sosialisasi disebut menjadi kunci agar rencana ini mulus dan memperoleh dukungan penuh publik.
Baca Juga: Li Claudia: Akses TPA Sudah Dibeton, TPST Masih Kekurangan Lahan
“Spot Jodoh ini salah satu yang masuk perencanaan pemda. Kami berharap pelestarian budaya tata hubungan masyarakat tetap terjaga. Kami berharap Jodoh bisa menjadi ikon wisata Kota Batam,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mengatakan, bahwa penataan kawasan masih dalam tahap awal. Pendataan jumlah pedagang pun belum final.
“Di sini kami belum dapat data berapa pedagang yang ada, karena ini masih inisiasi. Namun dukungan-dukungan sudah mulai kelihatan. Dari dukungan itu, bagaimana caranya program ini harus jadi,” katanya.
Ia bilang, kehadiran Wamen UMKM di lokasi memberikan energi baru bagi seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai proyek ini hanya bisa terwujud melalui kerja kolaboratif.
“Dengan kedatangan Pak Wamen ke sini, itu menjadi optimisme baru. Artinya kita serius, bukan main-main. Pokoknya kita kerja sama bareng semua stakeholder. Intinya, superhero enggak bisa kerja sendiri,” kata Mouris. (*)



