
batampos – Psikolog, Irfan Aulia mengatakan aksi bullying akan membuat korbannya menjadi frustasi dan agresi. Sehingga, korban ini akan melakukan kekerasan kepada orang yang membullynya.
“Berdasarkan riset, orang dibully dan tidak punya solusi, maka dia akan cenderung bertindak agresi,” ujarnya, Senin (14/4).
Irfan mencontohkan kasus pembunuhan yang dilakukan Faras Kausar, pegawai di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Batam.
Baca Juga: Sering Dibuli dan Disebut “Bongak”, Honorer di Batam Gorok Sepupunya Sendiri
Irfan menilai pelaku pembunuhan sekaligus korban bullying ini tidak memiliki solusi untuk mengatasinya.
“Jadi mereka belajar bahwa suatu cara mengatasi masalah dengan berprilaku agresi atau kekerasan,” katanya.
Menurut Irfan, korban bullying harus berani speak up soal masalahnya. Karena apabila ia tetap diam secara terus-menerus, maka si pelaku bully itu akan tetap terus melakukan perundungan.
“Oleh karena itu, penikaman itu sudah tidak ada jalan keluar, dan ikut agresi kepada orang yang membullynya,” ungkapnya.
Selain itu, kata Irfan, seseorang tidak hanya harus speak up apabila diri sendiri yang menjadi korban bully. Setiap orang harus speak up apabila melihat teman atau orang di sekitar yang menjadi korban bullying.
“Bukan hanya korban saja, tetapi juga orang di sekitarnya,” tutupnya.
Baca Juga: Rekan Sejawat Tak Percaya Hafiz Pelaku Bullying: “Dia Terlalu Baik untuk Menyakiti”
Diberitakan sebelumnya, seorang pegawai di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Batam, Faras Kausar, 26, nekat menggorok leher rekannya sendiri, Hafiz Rinanda, 29, hingga tewas. Aksi sadis ini dilakukan pelaku karena sakit hati kerap dibuli dan diejek “bongak” oleh korban.
“Motifnya karena pelaku merasa sering dibuli dan dihina korban, termasuk dipanggil dengan sebutan ‘bongak’. Ini sudah berlangsung lama dan pelaku akhirnya tidak tahan,” ungkap Kapolsek Sekupang, Kompol Benhur Gultom, Senin (14/4). (*)
Reporter: Yofi Yuhendri



