Jumat, 16 Januari 2026

Pemaknaan Lain Soal Perjalanan dalam Sastra

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wahid Kurniawan.

batampos – Bagaimana kita memaknai perjalanan? Pertanyaan ini ribuan kali coba dijawab oleh banyak karya sastra. Satu ingatan pun memutar kisah yang tampil di Taman Budaya Lampung pada dua tahun lalu. Pilgrim #2 (Bunyi Tepukan Satu Tangan) arahan sutradara Ari Pahala Hutabarat kembali coba direfleksikan di waktu dan tempat yang sama sekali berbeda.

Kita akan menemukan relativitas yang akrab saat menyimak perjalanan penuh pencarian dan penantian dari ketujuh orang yang memanggul barang lusuh itu. Kita mendapati atribut yang beragam dan segeralah mengerti bahwa hal itu mendasari latar belakang mereka yang beragam pula. Perbedaan itu nyata, tapi mereka disatukan oleh satu tujuan penuh harap: menemukan “cahaya sejati”, Juru Selamat Sejati.

Di barisan depan, seorang juru tanda memegang tongkat menjadi penguat tumbuhnya keyakinan dan harapan yang terembus dalam diri mereka. Tanda-tanda sudah terbaca, perjalanan itu pun dilakukan. Tapi ke mana tujuan itu diarahkan? Bagaimanakah wujud Juru Selamat Sejati? Kita pun terbayangkan perjalanan menahun jelas tak melulu lancar. Setiap aktor menggambarkan jiwa manusia yang senantiasa bergerak, yakin atau sangsi, rindu atau pedih, ingin meneruskan atau ingin menyudahi, berhenti atau tetap melangkah.

Ada satu fragmen ketika kesangsian menebal dalam diri salah satu aktor. Keputus-asaan kian menganak, segalanya tampak sia-sia belaka. Untuk apa mengejar dan mencari sesuatu yang tak pasti? Lagi pula, apa yang dicari? Seperti apa wujudnya? Ketegangan mulai merangkak manakala dialog saling bertukar. Bermula dari satu jiwa, kesangsian atas segala yang telah diperjuangkan merembet dan diamini oleh jiwa-jiwa yang lain. Dua kubu tampak terbentuk. Penyangsian itu kian menebal saat rasionalitas tampil paling depan. Mereka memandang yang kini mereka genggam tak lagi bermakna.

Kendati memang, kerinduan atas Juru Selamat Sejati masih bersemayam di benak, tetapi mereka tak bisa menafikan kesangsian itu pun berbarengan dengan pedih yang selama ini tertahan sepanjang perjalanan. Suara lain pun hadir, jangan-jangan, ini cara bagi-Nya untuk menguji kesetian mereka? Bukankah kesetiaan diuji dengan seberapa lama kita menunggu?

Sang pembaca tanda bersuara, “Yakinlah bahwa matahari sempurna akan muncul dari balik bukit, bahwa bulan jadi sempurna bila dilihat dari beranda rumah, bahwa di dermaga selalu ada satu perahu yang akan membawa kita ke bandar-bandar yang mungkin masih ada di seberang dunia”. Namun, penyangkalan tak bisa dihentikan. Keletihan dan keputus-asaan bisa diterima menjadi alasan bagi tampikan terhadap keyakinan dan harapan. Kalimat itu hanya omong kosong belaka. Mungkin saja hanya sebagai kalimat penghibur selintas lalu yang maknanya pun bisa lekas diembuskan angin dan kembali keputus-asaan itu meraja. Keenam aktor kian menampilkan roman raibnya harapan, selagi sang pembaca tanda tampil teguh dengan keyakinannya.

Pada titik ini, kita terbayang kisah penggembala Santiago dalam novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Bayangan itu bisa dilihat dari kisah perjalanan mencari sesuatu hal yang diimpikan dan diinginkan. Kendati dalam novel pusat cerita ada dalam diri satu karakter saja, tapi peran suara yang menyulihkan keyakinan sama-sama mengambil tempat. Apabila dalam pementasan ini, tugas itu melekat dalam diri sang pembaca tanda, maka dalam novel peran itu diwakilkan oleh sang peramal dan sang Alkemis yang menguatkan karakter utama untuk melakukan perjalanan jauh melintas padang pasir demi sebuah harta karun.

Perbedaan lain, apabila ketujuh pengelana itu hanya diberitahu ihwal zat yang dicari, tanpa secara pasti membayangkan atau mengetahui wujudnya, Santiago paling tidak sudah memiliki bayangan bahwa harta karun itu jelaslah berwujud benda berharga. Dalam perjalanan yang ditempuhnya, ia membayangkan kalau harta itu bisa membuatnya kaya dan makmur. Sementara itu, walau tanpa bayangan jelas “Soal mengenai apa dan bagaimana wujudnya?”, ketujuh pengelana itu pun memiliki keinginan yang tak kalah kuatnya, bahwa saat usainya perjalanan panjang itu, dan tibanya mereka di tujuan itu, akan meluruhlah rindu “pertemuan” yang selama ini mengakar di benak mereka.

Di sisi lain, ihwal ketidakjelasan wujud dan gambaran zat yang dicari, membuat penonton teringat kisah Menunggu Godot karya Samuel Beckett. Bayangan kisah itu muncul mengingat keenam pengelana tiba di titik ragu dan ketidaktahuan ihwal “Apa yang sebenarnya kita tunggu?”; adalah situasi serupa Vladimir dan Estragon dalam kisah Beckett, yang terjebak dalam upaya menunggu yang diisi saling tukar dialog, tetapi tak mengetahui kapan Godot tiba dan seperti apa wujudnya. Situasi itu menjebak dalam lingkaran waktu di situ-situ saja, tanpa jelas kapan berakhirnya. Sehingga, pertanyaan wajar bakal muncul, apa makna dari semua ini? Apa makna dari penantian ini?

Pada puncak klimaks, keputusan mengerucut pada dua hal: meneruskan perjalanan atau pulang. Sang pembaca tanda tentu tak memiliki kewenangan memaksa kawan perjalanannya untuk tetap tinggal. Kendati kata pulang tak berlaku bagi sebagian pengelana mengingat tak semuanya memililiki kampung halaman, tetapi pulang menjadi keputusan yang diambil bersama. Bagi mereka, daripada meneruskan memperjuangkan hal yang tak pasti, lebih baik menyudahinya sama sekali. Toh, untuk apa meneruskan kalau bayangan ketidakjelasan tetap menebal?

Kendati demikian, serupa Santiago yang mengalami katarsis setibanya di tempat harta karun dan menemukan makna sesungguhnya dari hal yang dicari; mereka bertujuh menemukan itu. Pada akhirnya, apa-apa yang dialami; canda dan tangis, kesepian dan kebersamaan, putus asa dan keyakinan bersama, menjadi sesuatu yang paling menguatkan mereka untuk melakukan perjalanan.

Semua itu kuat tersimpul dalam persahabatan sepanjang jalan yang tampil lebih penting dari tujuan itu sendiri. Mereka mencari zat yang dirindukan, tetapi rupanya perjalanan itu menjadi rangka dari kesadaran melihat ke dalam diri. Mereka menemukan entitas yang melebur dalam embus napas dan aliran darah. Sesuatu yang memperkuat jiwa, yang menjadikannya hidup; dan hal itu makin hidup manakala jiwa lain berada di sekitar. Mereka saling bertaut, waktu mengeratkan mereka. Pada titik ini, Pilgrim #2 mencapai pemaknaannya akan arti perjalanan sekaligus mengajak kita berkaca pada dada masing-masing. Sebuah upaya menengok yang primordial di antara apa-apa yang besar tapi kerap kali mewujud kefanaan belaka. (*)

Oleh:Wahid Kurniawan
Alumnus Universitas Teknokrat Indonesia

Update