Senin, 12 Januari 2026

Pemerintah Diminta Perluas Sorotan Penutupan Aliran Sungai Hingga Batuaji dan Sagulung

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, turun langsung ke lokasi untuk inspeksi penutupan aliran sungai di kawasan Perumahan Kezia Residence dan Permata Baloi, Batam, Selasa (25/3). Foto. Arjuna/ Batam Pos

batampos – Sorotan Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam terhadap aktivitas penutupan aliran sungai di kawasan perumahan Baloi diharapkan meluas hingga wilayah Batuaji dan Sagulung. Pasalnya, banyak proyek pematangan lahan dan reklamasi di dua daerah tersebut yang mengganggu drainase serta sungai yang termasuk dalam kawasan daerah aliran sungai (DAS).

Setiap musim hujan, kedua wilayah berpenduduk padat ini kerap dilanda banjir. Penyebab utamanya adalah persoalan drainase yang sudah bermasalah serta aliran sungai yang terganggu akibat aktivitas pembangunan yang tidak memperhatikan ekosistem air. Banyak saluran drainase tersumbat oleh sampah dan material tanah, sementara beberapa lokasi aliran air kini terganggu oleh pembangunan yang mengubah struktur aliran air.

Di Kelurahan Bukit Tempayan, khususnya di sekitar kawasan Mitra Mall Batuaji, pembangunan perumahan semakin padat, menyisakan sedikit area resapan air. Meskipun Pemko Batam telah melakukan normalisasi drainase induk, banjir tetap menjadi momok bagi warga setempat.

Baca Juga: Bangunan Apartemen Langgar PL, Bekas Material Dipakai Timbun Alur Sungai,  Li Claudia: Bapak Tak Boleh Semena Mena

“Dulu katanya kawasan ini akan dijadikan kolam retensi untuk menampung air dari permukiman yang sudah ada. Tapi belakangan, semua lahan dialokasikan untuk perumahan, membuat lokasi resapan air semakin sempit,” ujar Anwar, warga Perumahan Sierra, Bukit Tempayan.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Sagulung. Sungai besar yang membentang dari Seilangkai hingga wilayah Dapur 12 kini semakin padat dengan permukiman dan perumahan. Aktivitas reklamasi yang intensif secara perlahan menimbun lokasi resapan air yang tersisa, menyebabkan wilayah tersebut rutin mengalami banjir saat hujan deras.

“Mudah-mudahan pemerintah turun tangan juga ke lokasi kami ini, karena banyak aktivitas yang mengganggu aliran air,” kata Serino, warga Seilangkai.

Di wilayah Marina, Kelurahan Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, padatnya proyek pematangan lahan juga memperparah kondisi resapan dan aliran air. Setiap kali hujan deras mengguyur, warga Marina harus bersiap menghadapi banjir yang semakin parah.

“Akses keluar air di wilayah Marina ini cuma satu, yakni jembatan di Marina itu. Kalau jalur itu terganggu, tentu banjir akan melanda seluruh kawasan Marina,” ujar Firman, warga Marina.

Masyarakat berharap Pemko Batam dan BP Batam segera turun langsung ke lokasi-lokasi yang terdampak untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Langkah konkret sangat dibutuhkan guna mengatasi persoalan banjir yang semakin parah akibat perubahan tata guna lahan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Warga juga meminta adanya regulasi ketat terkait proyek reklamasi dan pematangan lahan agar tidak semakin mengurangi area resapan air. Dengan langkah tegas dari pemerintah, diharapkan permasalahan banjir yang kerap terjadi di Batuaji, Sagulung, dan wilayah lainnya dapat segera diatasi. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update