Jumat, 3 April 2026

Penduduk Miskin Kepri Turun

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Sejumlah warga memlih sayuran dan sembako saat berbelanja di pasar Botania 1 Batamkota, Minggu (2/1). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Pandemi tidak menjadi halangan bagi masyarakat untuk berusaha. Hal ini dibuktikan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri di September 2021. Sebanyak 6.710 orang perekonomiannya naik dari garis kemiskinan.

“Garis kemiskinan Kepri itu di September 2021 di angka Rp 653.853 per kapita per bulannya,” ujar Kepala BPS Provinsi Kepulauan Riau, Darwis Sitorus, Rabu (19/1).

Dari data BPS Kepri ini, tercatat juga penduduk miskin Kepri turun dan berada dititik terendah sejak 2015 silam. Periode September 2021, penduduk miskin di Kepri tercatat 137.750 orang atau sekitar 5,75 persen. Sedangkan periode Maret 2021, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sebanyak 6,12 persen atau 144.460 orang.

“Peranan komiditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar, dibandingkan peranan komiditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan),” kata Darwis.

Tidak hanya secara umum, penduduk berada dibawah garis di bawah garis kemiskinan wilayah perkotaan dan desa mengalami penurunan. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan di Maret 2021 sebesar 5,72 persen. Turun menjadi 5,37 persen di September 2021.

Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2021 sebesar 11,10 persen. Turun menjadi 10,45 persen pada September 2021.

Komponen garis kemiskinan yang menyumbang dampak terbesar adalah makanan, sebesar 66,19 persen. Sedangkan yang bukan makanan, 33,81 persen.

BPS mencatat komiditi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan diperkotaan adalah beras, rokok, daging ayam, telur ayam, dan ikan (tongkol, tuna, cakalang).

Sedangkan di perdesaan yakni beras, rokok, kue basah, telur ayam dan gula pasir. Dari data BPS ini terlihat, bahwa beras dan rokok merupakan komoditi yang penting di perkotaan maupun pedesaan.

“Sedangkan 3 komoditi teratas bukan makanan baik perdesaan maupun perkotaan itu, perumahan, listrik dan bensin,” ucap Darwis.

Ia mengatakan, persoalan kemiskinan bukan sekedar jumlah dan presentase penduduk saja, tapi ada suatu dimensi yang perlu diperhatikan yakni tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

Periode September 2021, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan mengalami penurunan. Indeks kedalaman kemiskinan di Maret 2021 sebesar 1,070, sedangkan di September 2021 menjadi 0,953. Indeks keparahan kemiskinan turun dio Maret 2021 sebesar 0,280 dan di September 2021 sebesar 0,218.

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

“Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk,” ujar Darwis. (*)

 

Reporter : FISKA JUANDA

UPDATE