Senin, 16 Februari 2026

Pengungsi di Batam Kembali Unjuk Rasa, Bawa Keranda

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pengungsi Afghanistan yang ada di Batam kembali menggelar demonstrasi, Kamis (6/1). F. Cecep Mulyana

batampos – Pengungsi asal Afganistan kembali melakukan unjuk rasa depan Perumahan Royal Grande, Batamcenter, Rabu (12/1) siang. Mereka meminta IOM (International Organization for Migration) yang diduga berkantor dalam perumahan tersebut untuk menemui mereka.

Dalam aksinya pengungsi Afganistan yang diperkirakan berjumlah puluhan orang itu membawa spanduk, keranda, hingga membagikan selebaran yang berisikan tuntutan mereka.

Salah seorang pengungsi Afganistan, Ali Akbar mengatakan, mereka tidak meminta untuk segera dipindahkan ke Australia karena adanya aturan baru di sana yang tak menerima pengungsi. Mereka hanya meminta untuk segera dipindahkan ke negara mana pun yang bisa menerima mereka.


“Kami tak bilang kami harus ke Australia. Kami hanya ingin dikirim ke negara ketiga, negara yang bersedia menerima agar hidup secara layak dan manusiawi,” ujar Ali.

Ia mengatakan, dirinya bersama dengan pengungsi yang lain sudah 10 tahun berada di Batam tanpa ada kepastian apapun. Selama ini, jumlah pencari suaka yang mendapatkan jatah menuju negara tujuan hanya satu sampai dua orang setiap tahunnya.

“Dari 200 orang (pengungsi) yang di Sekupang hanya satu sampai dua orang (diikrim) dalam setahun,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pencari suaka lainnya, Abdullah. Ia dan pencari suaka lainnya sudah sangat depresi karena tidak bisa bekerja dan mendapatkan hak sebagaimana seorang warga negara.

Ia mengaku, sudah ada 15 kasus bunuh diri di beberapa penampungan pencari suaka, dan 100 kasus percobaan bunuh diri. Sementara untuk di Batam sudah ada satu kasus bunuh diri oleh pengungsi Afghanistan.

“Kami tak peduli lagi dengan bantuan UNHCR. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa kami akan tinggal di jalanan. Kami butuh hidup layak. Apalagi sudah 10 tahun luntang lantung di negara Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, unjuk rasa ini tidak ada masalah dengan pemerintah Indonesia dan pihaknya mengaku hanya menyuarakan pendapat dan tuntutan kepada UNHCR.

“Kami mengucapkan Terimakasih kepada negara dan Pemerintah Indonesia. Unjuk Rasa yang kami lakukan ini kami suarakan ke UNHCR, karena kami sudah terlalu lama di Indonesia,” imbuhnya.

Pantauan Batam Pos aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh pengungsi ini menimbulkan kemacetan di Jalan Raja Ali Haji dari Simpang Gelael menuju Simpang Bundaran Madani. Aksi mereka juga dijaga ketat dengan sekuriti Perumahan Royal Grande. (*)

 

Reporter : Eggi Idriansyah

Update