
batampos – Perang sarung kerap dilakukan anak-anak dan remaja saat malam Ramadan atau selesai salat tarawih. Aksi anak-anak ini menimbulkan kemacetan hingga meresahkan masyarakat.
Seperti di kawasan Bida Ayu, Seibeduk pada awal Ramadan kemarin. Terlihat dua kelompok anak saling menyerang menggunakan sarung di tengah jalan.
Kapolsek Seibeduk, Iptu Alex Yasral mengatakan perang menggunakan sarung tersebut dapat dicegah dengan perhatian dan edukasi orangtua terhadap anaknya.
“Orangtua harus memberika edukasi, karena yang terlibat perang sarung ini anak-anak,” ujarnya.
Baca Juga: Dengan Stimulus Diskon 30 Persen, Pelni Batam Proyeksikan 679 Ribu Penumpang
Alex menilai perang menggunakan sarung ini membahayakan nyawa anak karena dilakukan di tengah jalan. Selain itu, sarung yang digunakan kerap diisi batu dan membuat anak tersebut terluka.
“Untuk itu harus ada pencegahan. Kepada perangkat RT/RW juga bisa memberikan imbauan kepada sekuriti untuk mengawasi lingkungan masing-masing,” katanya.
Selain edukasi orangtua, kata Alex, pencegahan juga dilakukan dengan kegiatan patroli rutin. “Kalau kedapatan, anak-anak ini akan kita data dan dipanggil orangtuanya,” ungkapnya.
Sementara Afrizal, warga Bida Ayu, mengatakan perang sarung ini dinilai membahayakan bagi anak-anak. Sebab, dapat menimbulkan korban luka.
“Ini (perang sarung) berbahaya. Karena sarung itu biasanya diisi batu,” katanya.
Ia berharap selama Ramadan, kegiatan ini bisa dicegah polisi. Seperti melakukan patroli khususnya setelah salat tarawih.
“Kami berharap agar hal ini menjadi perhatian kita semua,” tutupnya. (*)



