Sabtu, 10 Januari 2026

Perangi Stigma, Dinkes Batam Jemput Bola Lakukan Skrining HIV di Lokasi Berisiko

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinkes Batam dr. Didi Kusmarjadi, SpOG.

batampos – Upaya menekan penyebaran HIV/AIDS di Kota Batam kini tidak lagi hanya mengandalkan layanan kesehatan di fasilitas resmi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam memilih strategi jemput bola dengan turun langsung ke tempat-tempat yang selama ini sulit dijangkau layanan kesehatan formal, termasuk lokasi hiburan malam.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan metode ini dilakukan bukan semata untuk mengejar target pemeriksaan, tetapi untuk memutus stigma yang selama ini menjadi hambatan terbesar bagi masyarakat dalam melakukan skrining.

“Banyak orang malu datang ke puskesmas karena takut ditatap berbeda. Dengan turun ke lapangan bersama komunitas, mereka merasa lebih nyaman,” ujarnya, Selasa (9/12).

Melalui pendekatan kolaboratif dengan komunitas pendamping, pemeriksaan dilakukan langsung di lokasi yang dekat dengan populasi kunci, seperti pekerja seks, waria, dan kelompok rentan lainnya. Menurut Didi, keberanian untuk memeriksakan diri adalah langkah awal menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Baca Juga: Delapan Kasus Korupsi Ditangani Polda Kepri di 2025, Satu Tersangka Masih Buron

Hingga Oktober 2025, Dinkes Batam mencatat 573 kasus HIV dari 15.060 orang yang menjalani skrining. Dari jumlah tersebut, 438 adalah laki-laki dan 135 perempuan, dengan usia 25–49 tahun menjadi kelompok paling terdampak sebanyak 399 kasus.

Mayoritas yang terdeteksi merupakan karyawan atau pegawai (331 kasus) serta 285 orang tidak teridentifikasi pekerjaannya.

Meski angka tersebut lebih rendah dari tahun 2024 yang mencapai sekitar 700 kasus, Didi menegaskan penurunan bukan berarti ancaman berkurang.

“Semakin banyak skrining dilakukan berarti program berjalan. Justru kalau angka terdeteksi tinggi, itu menunjukkan makin banyak yang berani diperiksa dan bisa segera ditangani,” katanya.

Selain pemeriksaan, Dinkes memastikan mereka yang positif dapat langsung diarahkan ke layanan pengobatan ARV serta mendapatkan pendampingan psikososial.

“Tujuan utama bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan mereka tidak merasa sendirian dan mendapatkan akses pengobatan secepatnya,” tegasnya. (*)

 

Reporter: Rengga Yuliandra

Update