
batampos – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Batam pada Maret 2022 sebesar 0,73 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi pada Maret 2021 yang mengalami deflasi sebesar 0,02 persen.
Tingkat inflasi tahun kalender Maret 2022 sebesar 0,98 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender Maret 2021 yang sebesar 0,06 persen. Tingkat inflasi tahun ke tahun Maret 2022 terhadap Maret 2021 sebesar 3,39 persen, lebih besar dibandingkan dengan inflasi tahun ke tahun Maret 2021 terhadap Maret 2020 sebesar 1,57 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam Rahmad Iswanto mengatakan, inflasi Maret 2022 terjadi karena kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,50 pada Februari 2022 menjadi 108,2 pada Maret 2022. Inflasi tahun kalender 2022 sebesar 0,98 persen.
Inflasi ini juga terjadi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 1,81 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau naiknya sebesar 1,22 persen, kelompok transportasi naik sebesar 1,21 persen.
Lalu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,85 persen, kelompok pakaian, alas kaki naik sebesar 0,49 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,16 persen, serta kelompok kesehatan naik 0,03 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, kelompok pendidikan; serta kelompok penyediaan makanan minuman, restoran.
Rahmad menambahkan, dari 370 komoditas yang menyusun inflasi Kota Batam, 103 komoditas mengalami kenaikan harga dan 51 komoditas mengalami penurunan harga. Adapun dari kelompok makanan dan minuman, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu, minyak goreng sebesar 0,27 persen, cabai merah sebesar 0,20 persen, daging ayam ras sebesar 0,07 persen, rokok kretek filter sebesar 0,02 persen; dan rokok kretek sebesar 0,02 persen.
“Dari 24 kota IHK di Sumatera, tercatat semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Jambi sebesar 1,35 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Tanjungpinang sebesar 0,36 persen. Kota Batam menduduki peringkat ke-15 dari 24 kota yang mengalami inflasi di Sumatera,” terang Rahmad.
Selanjutnya bila dilihat dari 90 kota IHK, tercatat 88 kota mengalami inflasi dan 2 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Merauke sebesar 1,86 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Kupang sebesar 0,09 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 0,27 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Kendari sebesar 0,07 persen. Kota Batam dan Tanjungpinang menduduki peringkat ke-51 dan ke-83 dari 88 kota yang mengalami inflasi se-Indonesia. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra



