Selasa, 17 Maret 2026

Perceraian, Pintu Darurat Penuh Risiko

spot_img

Berita Terkait

spot_img
ilustrasi (pexels)

batampos – Perceraian ibarat pintu darurat dalam sebuah pesawat. Pintu darurat baru dibuka jika kondisi pesawat benar-benar sedang genting dan tidak stabil. Demikian analogi yang dikemukakan pemerhati anak di Batam, Mahmud Syaltut.

“Beberapa kasus yang kami tangani, orangtua sama-sama menangis atas persoalan yang dihadapi. Tapi, akhirnya bercerai juga, meskipun mereka memahami dampaknya terhadap anak,” kata Syaltut, Minggu (21/8).

Rata-rata orangtua, kata Syaltut, paham dampak perceraian terhadap anak. Meskipun begitu, tetap saja orangtua memilih jalan pahit itu. Jika akhirnya memilih cerai, Syaltut mengatakan, ada cara-cara untuk meminimalisir dampak buruknya terhadap anak.

“Perceraian memberikan dampak ke anak, secara psikologis, mental, dan emosional,” ujarnya.

Saat perceraian terjadi, anak-anak rentan dibawa ke dalam permasalahan tersebut. Contohnya berhubungan dengan hak asuh anak. “Urusan ini sangat njelimet. Bapak atau ibu secara tidak langsung akan membawa anak ke dalam pusaran perceraian mereka. Sehingga hal ini membuat anak tidak nyaman,” ucapnya.

Sebenarnya, kata Syaltut, jika orangtua bercerai, tetaplah menjalin komunikasi. Tapi, terkadang ego, harga diri, orang ketiga atau keluarga, menjadi terganggunya komunikasi antar orangtua.

“Jika memang bercerai menjadi salah satu jalan yang perlu ditempuh, orangtua haruslah memikirkan dampak terhadap anak. Paling penting bagi mereka menjaga komunikasi,” tuturnya.

Persiapan dampak psikologis, hak asuh anak, sangat perlu dibicarakan para orangtua. Sehingga anak-anak tidak terbawa permasalahan perceraian. “Jika memang harus bercerai, bercerailah. Perhatikan hak anak-anak, hak mendapatkan kasih sayang ibu dan bapaknya, hak pendidikan, hak kesehatan dan hak-hak lainnya,” ujar Syaltut.

Ia menjabarkan, secara usia, anak di bawah 10 tahun biasanya kurang paham apa yang terjadi dengan orangtuanya. Sedangkan jika sudah memasuki usia belasan tahun, anak-anak semakin paham bahwa orangtuanya bercerai.

“Tapi situasinya dan cara menghadapinya sama, komunikasi. Komunikasi orangtua terhadap anaknya jangan sampai ada yang hilang. Ke anak yang lebih dewasa, berikan pemahaman dan bicarakan secara baik-baik,” ungkap Syaltut.

Pengelola Embun Pelangi Batam, Irwan, mengatakan sering mendampingi remaja-remaja yang menjadi korban eksploitasi seksual. Beberapa kasus yang ditangani Embun Pelangi, para korban adalah korban dari perceraian orangtuanya.

Anak-anak, kata Irwan, kadang berusaha mencari sosok ibu atau bapaknya di luar. Saat menemukan sosok yang lebih dewasa dianggap bapak atau ibu bagi mereka. Akan tetapi, terkadang orang dewasa yang mereka temukan memanfaatkan kerentanan anak-anak.

“Mereka menjadi korban eksploitasi seksual, karena menemukan orang dewasa yang salah,” tuturnya.

Selain itu, anak-anak yang menjadi korban perceraian dapat lari ke hal-hal yang salah, narkoba atau berhadapan dengan hukum.

Bagaimana cara mengatasi atau meminimalisir dampak perceraian? Senada dengan Syaltut, Irwan mengatakan, komunikasi dan tetap hadirnya kedua orangtua dalam kehidupan anak.

“Jangan sampai anak kehilangan figur bapak atau ibunya. Orangtua harus memahami itu, jika anak di bawah penguasaan ibu. Bapaknya diberikan akses, atau sebaliknya. Sehingga anak masih merasakan kasih sayang orangtuanya,” ujarnya. (*)

 

 

Reporter: FISKA JUANDA

SALAM RAMADAN