Jumat, 2 Januari 2026

Pertumbuhan Ekonomi Kepri: Tertinggi di Sumatera, Nomor Tiga Nasional

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Ronny Widijarto memaparkan pertumbuhan ekonomi Kepri pada acara bincang bareng media di kawasan Batam Center, Selasa (30/12). F.Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatatkan kinerja yang impresif sepanjang tahun 2025 di tengah tantangan global yang masih berlanjut. Pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 7,48 persen year on year (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,04 persen (yoy).

Capaian tersebut menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dan peringkat ketiga secara nasional. Pertumbuhan ekonomi juga terakselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan bahwa kinerja positif ini ditopang oleh sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan.

“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri terutama didorong oleh investasi, kinerja net ekspor yang solid, serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga,” ujar Rony.

Selain pertumbuhan ekonomi yang kuat, stabilitas harga di Kepri juga tetap terjaga. Pada November 2025, inflasi Kepri tercatat sebesar 0,23 persen (month to month/mtm) atau 2,31 persen (year to date/ytd), dengan inflasi tahunan mencapai 3,00 persen (yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi.

Baca Juga: Amsakar Apresiasi PAD Parkir Dishub Batam yang Capai Rp15 Miliar Tahun Ini

Rony menyampaikan bahwa terkendalinya inflasi tidak lepas dari konsistensi implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi yang efektif.

“Sinergi pengendalian inflasi yang dilakukan secara berkelanjutan terbukti efektif dalam menjaga stabilitas harga di Kepri,” katanya.

Di sisi stabilitas sistem keuangan, peran intermediasi perbankan di Kepri terus berjalan dengan baik. Pertumbuhan kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap terjaga di tengah rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang rendah.

Indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan, antara lain penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Meski demikian, Rony mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama, seperti meningkatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan rasio gini.

Dalam mendukung kelancaran sistem pembayaran, Bank Indonesia Kepri memastikan ketersediaan uang layak edar, khususnya pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui kegiatan Semarak Rupiah di Hari Natal Penuh Damai (SERUNAI) 2025 dengan total penukaran mencapai Rp2,01 miliar.

Di sisi non-tunai, akselerasi digitalisasi sistem pembayaran terus diperkuat melalui perluasan akseptansi QRIS, termasuk pengembangan QRIS lintas negara (cross-border) yang mendukung sektor pariwisata.

“Jumlah pengguna dan merchant QRIS di Kepri terus meningkat, diikuti pertumbuhan volume dan nominal transaksi yang signifikan,” jelas Rony.

Baca Juga: Disnaker Kota Batam Sebut Belum Ada Pengusaha yang Keberatan dengan Besaran UMK yang Baru Disahkan

Bank Indonesia Kepri juga aktif mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan. Sejumlah event strategis digelar sepanjang 2025, seperti Gebyar Melayu Pesisir (GMP) yang menghasilkan komitmen ekspor sebesar Rp1,4 miliar, serta penjualan UMKM mencapai Rp12,85 miliar.

Selain itu, kegiatan Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) mencatatkan penjualan UMKM lebih dari Rp2,7 miliar dan pembiayaan sebesar Rp2,19 miliar, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, event Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL) mencatatkan lonjakan transaksi QRIS lebih dari 400 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Memasuki 2026, perekonomian Kepri masih dihadapkan pada tantangan global, seperti dinamika perdagangan internasional dan konflik geopolitik. Namun, peluang tetap terbuka seiring penurunan suku bunga, kepastian regulasi, dan peningkatan promosi investasi.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kepri berada pada kisaran 6,5–7,3 persen (yoy) pada 2025 dan 6,4–7,2 persen (yoy) pada 2026, dengan inflasi tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen.

“Kami optimistis, dengan sinergi dan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, momentum pertumbuhan ekonomi Kepri dapat terus dijaga agar berkelanjutan dan inklusif,” kata dia. (*)

ReporterM. Sya'ban

Update