Senin, 16 Maret 2026

Pesona Mancing Ngarong, Dulu untuk Mencari Lauk dan Kini Jadi Daya Tarik Wisata

spot_img

Berita Terkait

spot_img

Tradisi mancing Ngarong sudah lama dilakukan warga yang mendiami Tanah Melayu di wilayah pesisir Batam ini. Tak sekadar untuk mencari ikan, mancing Ngarong juga dinilai unik karena orang yang memancing berendam langsung di air laut. Seperti apa aktivitasnya?

Reporter : Ratna Irtatik

batampos – Warga Teluk Mata Ikan, Kelurahan Sambau, Nongsa, Kota Batam, punya tradisi menarik ketika mencari ikan. Tak melulu ke laut dengan naik perahu dan membawa jaring atau alat pancing untuk menggaet ikan, warga di sini malah langsung terjun ke laut demi mendapatkan ikan. Aktivitas itu disebut Mancing Ngarong.

Mancing Ngarong adalah aktivitas mencari ikan dengan berjalan di dalam air. Jika terus berjalan ke tengah, ketinggian air bisa mencapai betis, pinggang bahkan hingga dada si pemancing.

Adapun, alat yang digunakan adalah pancing tradisional yang terbuat dari bambu. Ukuran panjangnya sekitar 2-3 meter dengan diameter seukuran ibu jari tangan.

Alat ini dilengkapi dengan tali pancing dan mata kail. Di ujung mata kail, akan diberi umpan berupa pumpun atau cacing laut maupun sotong, kemudian dilempar ke titik memancing.

“Ketika pemancing berjalan di dalam air itulah dinamakan Ngarong. Nah, jika sudah ketemu tempat air yang dalam, namanya Mancing Jeron,” tutur Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Muhammad Zen.

Tradisi memancing ini biasanya dilakukan paling lama dua jam dan dipilih momen jelang air pasang. Itu karena, pada waktu tersebut ikan juga sedang mencari makan.

“Seiring air pasang, pemancing ikut mundur (ke tepi pantai), kalau enggak bisa tenggelam. Syarat Mancing Ngarong ini pemancing juga harus pandai berenang,” kata dia.

Menurut Zen, Mancing Ngarong adalah tradisi masyarakat Melayu di Kota Batam yang sudah berlangsung lama. Dulunya, kata dia, Mancing Ngarong dilakukan warga untuk mencari lauk makan untuk kebutuhan hari itu saja.

Warga Teluk Mata Ikan, Kelurahan Sambau, Nongsa, Kota Batam, punya tradisi menarik ketika mencari ikan. Mancing Ngarong adalah aktivitas mencari ikan dengan berjalan di dalam air. Foto: Ratna Irtatik/Batam Pos

“Jadi hasilnya itu tidak sampai dijual tapi untuk lauk. Biasanya, ikan yang didapat ikan tokak, ikan tanda, ikan mentimun dan ikan karang,” sebutnya.

Hanya saja, Zen melanjutkan, akhir-akhir ini Mancing Ngarong tidak lagi diminati. Penyebabnya, tradisi ini sudah banyak berganti dengan peralatan baru yang modern.

“Pemancing sekarang sudah menggunakan perahu mesin, bahkan pakai feri dengan menyewa bersama-sama atau sendirian,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Biro Penelitian, Pengkajian, Penulisan Adat dan Budaya Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam tersebut.

Karena aktivitas Mancing Ngarong dinilai unik, kegiatan ini kemudian dijadikan lomba. Sestiap peserta dibekali joran dan umpan serta seutas tali.

“Pemenangnya adalah pemancing dengan jumlah ikan terbanyak atau terberat ikannya setelah ditimbang,” ujarnya.

Perlombaan ini biasanya memantik keinginan masyarakat untuk menonton karena dinilai menarik dan tak banyak lagi dijumpai di sembarang tempat. Bahkan, Mancing Ngarong juga berpotensi menjadi daya tarik wisata di Kota Batam.

Wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustina, mendorong Mancing Ngarong jadi acara tahunan. Menurutnya, kegiatan ini harus menjadi kalender tetap sehingga selalu dinantikan para pemancing.

“Peminatnya kami harap terus meningkat. Karena, event (kegiatan) seperti ini akan menggerakkan ekonomi masyarakat,” kata Marlin saat membuka acara Mancing Ngarong di Teluk Mata Ikan, Kelurahan Sambau, Nongsa, Kota Batam, Sabtu (6/8/2022) lalu.

Menurut Ketua TP-PKK Kota Batam ini, festival ini juga menjadi ajang mempromosikan Teluk Mata Ikan sebagai tujuan wisata yang penuh pesona. Karena itu, dia pun akan mendorong kegiatan ini menjadi kalender pariwisata.

Marlin menambahkan, kegiatan yang terkait dengan kemaritiman memang sangat layak diselenggarakan di Kepri. Karena, 96 persen luas daerah ini merupakan lautan. Laut yang luas itulah dapat dijadikan sarana untuk kegiatan yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Pariwisata bahari kita harus semakin berkembang dengan berbagai event. Sebagai sebuah destinasi, begitu banyak pesona yang memikat wisatawan, baik asing maupun nusantara,” ujarnya.(*)

SALAM RAMADAN