
batampos – Petani di Barelang, Tembesi ataupun Marina, enggan menanam sayur lantaran harga pupuk naik dua kali lipat sejak awal tahun. Kenaikan harga pupuk, membuat pengeluaran bertambah sehingga menanam sayur lebih besar biayanya dibandingkan dengan hasil yang didapat.
Sebagian petani pun beralih ke tanaman lain yang tidak terlalu membutuhkan biaya perawatan seperti singkong, tebu dan pepaya. Ada juga yang fokus merawat tanaman cabai lantaran harga cabai cukup tinggi saat ini.
“Untuk sayur istirahat dulu. Tak sanggup karena pupuk sekarung mendekati Rp 800 ribu sekarang. Biasanya sekarung sekitar Rp 350 ribu. Tanam yang lain dulu yang tidak membutuhkan biaya perawatan,” ujar Jhoni, petani sayur di Marina.
Saat harga pupuk normal, kata Jhoni, sekitar satu hektar kebunnya mampu produksi 30 hingga 50 kilogram sayur perhari. Itu sudah cukup baginya sebagai petani yang setiap hari mengurus kebun.
“Segitu dengan harga yang stabil tapi pupuk juga murah masih bisa lah bertahan. Sekarang susah karena pupuk mahal. Tak terkejar lagi. Rugi malah yang ada kalau maksa tanam sayur. Belum cuacanya lagi yang kurang bersahabat,” kata Jhoni.
Begitu juga dengan Suyatno, petani sayur lain di Tembesi yang mengaku fokus dengan menanam singkong. Dengan menanam singkong dia bisa beralih ke profesi lain sebagai buruh serabutan. Itu dilakukan karena memang biaya pembelian bibit dan pupuk tidak sebanding dengan hasil yang didapat.
“Mau mahal pun sayur kalau hasilnya tak bagus tetap rugi. Makanya sekarang saya ikut kerja proyek bangunan dulu. Tak sanggup karena pupuk mahal sekarang,” katanya. (*)
Reporter : Eusebius Sara



