
batampos – Pandemi Covid-19 lalu berdampak besar bagi pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM). Mulai dari penurunan aset, penurunan omset, pengurangan tenaga kerja, bahkan gulung tikar.
“Hasil pendataan pelaku UMKM yang terdampak hingga 20 Juli 2020 ada 8.010 pelaku UMKM. Paling banyak itu penurunan aset serta penurunan omset,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Suleman Nababan.
Menurutnya, UMKM yang bergerak di bidang makanan minuman menjadi yang paling banyak terdampak. Apalagi dengan adanya pembatasan dan larangan makan di tempat membuat sektor kuliner tersebut yang paling banyak terdampak.
Namun begitu, ada juga UMKM yang omsetnya malah bertambah seperti jamu herbal eceng gondok dan kuliner online. Jamu herbal eceng gondok, misalnya, permintaannya banyak dari hotel-hotel besar dan bahkan sampai ke luar negeri.
Begitu juga dengan pengiriman makanan minuman secara online meningkat tajam selama pandemi Covid-19. Permintaan naik seiring adanya imbauan pembatasan ke luar rumah.
“Jadi tak semua juga terdampak, ada beberapa sektor UMKM yang naik malah,” tambahnya.
Lalu bagaimana dengan kondisi UMKM di tahun 2022 ini? Suleman menjawab, melandainya kasus Covid-19 membuat sektor UMKM semakin bergeliat. Bahkan, dari binaannya saja, pelaku UMKM di Batam terus mengalami penambahan.
“Hingga semester 1 Tahun 2022 ini yang menjadi binaan kita sebanyak 860 UMKM. Naik dibanding tahun lalu yakni sebanyak 730 UMKM. Saat ini mereka sudah punya NIB, sertifikat halal, dan perizinan lainnya,” ungkap Suleman.
Suleman memprediksi pelaku usaha di Batam akan meningkat. Hal ini tidak lepas dari UMKM di Batam yang sangat variatif serta memiliki link yang kuat baik di dalam dan luar negeri. “Ya, walaupun saat ini BBM naik saya yakin mereka tidak akan diam. Terlebih lagi banyak pelaku usaha kita yang sudah masuk pasar modern,” ujarnya.
Kepala UPT Dana Bergulir Pemko Batam, Zulfahmi, mengatakan penyaluran bantuan permodalan bagi pelaku usaha sejak pandemi Covid-19 mengalami penurunan yang cukup siginifikan. Adanya pertimbangan kondisi usaha yang masih sulit di tengah pandemi menjadi alasan pelaku usaha ragu untuk mengajukan bantuan permodalan.
Menurutnya, ada ketakutan dari pelaku usaha, jika tidak berhasil membayar cicilan ketika bisnis belum berjalan dengan baik. Selain itu, masih belum pulihnya perekonomian, membuat sejumlah usaha gulung tikar, namun tidak sedikit yang mampu bertahan.
“Masih adanya pasar yang disasar menjadikan usaha bisa bertahan. Meskipun belum bisa pulih 100 persen. Untuk itu, Pemko Batam menurunkan suku bunga, agar bisa mendongkrak minat pelaku usaha untuk mengajukan bantuan permodalan,” kata dia saat dijumpai di ruangannya di Kantor Wali Kota Batam, Kamis (15/9).
Ia menyebutkan, untuk saat ini, nilai bantuan permodalan yang sudah disalurkan kurang lebih senilai Rp 2.2 miliar dengan jumlah nasabah 33 orang. Sedangkan di kas saat ini masih ada dana sebesar Rp 7 miliar lebih.
“Estimasi penyaluran sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 7 miliar nantinya. Biasanya mendekati akhir tahun itu banyak yang mengajukan pinjaman. Bisa jadi karena momen tertentu seperti persiapan akhir tahun dan awal tahun,” ujarnya.
Ia memaparkan, bantuan permodalan ini memiliki persyaratan yang sama dengan perbankan. Pemohon wajib melampirkan dokumen usaha, aset, termasuk agunan yang berupa sertifikat bangunan yang dimiliki sebagai jaminan.
“Harus sertifikat bangunan. Kalau dulu masih bisa BPKB kendaraan. Namun beberapa tahun ini diubah, karena berbagai pertimbangan,” sebutnya.
Zul mengakui penyaluran masih cukup rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelum pandemi. Untuk itu, pihaknya berupaya memberikan sosialisasi di setiap acara atau pertemuan dengan masyarakat.
“Mereka masih membaca situasi yang ada saat ini. Karena mereka khawatir juga, kalau nanti tidak bisa mengembalikan. Sedangkan bisnis mereka belum terlalu berkembang karena kondisi Covid-19,” imbuhnya.
Penurunan suku bunga dari 6 menjadi 4 persen juga merupakan upaya memudahkan pelaku usaha dalam permodalan. Ia menyebutkan berdasarkan data, tahun 2019 Pemko Batam bisa menyalurkan hingga Rp 5 miliar. Setelah itu turun menjadi Rp 2 miliar di tahun 2020, dan 2021 sedikit mengalami kenaikan menjadi Rp 4 miliar.
“Untuk periode sekarang baru mencapai Rp 2 miliar lebih. Sebagian juga masih dalam tahap verifikasi dan survei tim di lapangan. Jadi kemungkinan bisa bisa bertambah untuk penyaluran ini,” terangnya.
Terkait bidang usaha yang mendominasi dalam pengusulan bantuan permodalan yaitu perdagangan dan jasa. Batam, menurutnya, memiliki jenis usaha yang beragam. Untuk besar pinjaman yang bisa disalurkan adalah Rp 100 juta untuk perorangan, dan Rp 300 juta untuk koperasi, dengan lama tenor maksimal tiga tahun. (*)
Reporter: RENGGA YULIANDRA, YULITAVIA



