
batampos – Langit di Batam dalam beberapa pekan terakhir lebih sering tampak cerah tanpa hujan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan datangnya periode kemarau lebih awal, bahkan mendorong pemerintah kota Batam menggelar salat meminta hujan sebagai ikhtiar menghadapi kekeringan.
Namun, di balik langit yang kering, prakiraan cuaca menunjukkan dinamika yang belum sepenuhnya stabil.
Forecaster dari BMKG Kelas I Hang Nadim Batam, Annisa, menjelaskan bahwa rendahnya kelembapan udara di lapisan atmosfer atas menjadi faktor utama yang menghambat pembentukan awan hujan di wilayah Kepulauan Riau.
“Pembentukan awan hujan menjadi tidak optimal karena kelembapan di lapisan atas rendah,” ujar Annisa, Jumat, (3/3).
Kendati demikian, peluang hujan belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan prakiraan untuk Sabtu, 4 April, hingga Minggu, 5 April 2026, cuaca di wilayah Kepulauan Riau umumnya diprediksi berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang di sejumlah daerah.
“Hujan ini dipicu oleh aktivitas konvektif lokal—fenomena yang kerap terjadi secara sporadis dan tidak merata,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah. Kabupaten Karimun dan Kabupaten Lingga diperkirakan berpeluang mengalami hujan dengan akumulasi curah hujan kategori sedang, berkisar 20 hingga 50 milimeter per hari. Kondisi tersebut dapat disertai petir dan angin kencang.
Di satu sisi, peringatan ini menjadi penanda bahwa ancaman kekeringan belum sepenuhnya menghapus risiko cuaca ekstrem.
“Di sisi lain, ketidakmerataan hujan memperlihatkan tantangan pengelolaan sumber daya air di wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada curah hujan,” katadia.
Dalam situasi ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat. Informasi prakiraan cuaca hingga tingkat kecamatan dan desa dapat diakses melalui kanal resmi BMKG, sebagai rujukan aktivitas harian maupun mitigasi risiko cuaca.(*)



