
batampos – Namanya Dintara Larasati Rohandi. Siswi kelas VI SDN 001 Batam ini sukses mengharumkan nama Kepulauan Riau setelah meraih juara II tingkat nasional dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Atas prestasi gemilang itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam memberikan penghargaan khusus kepada Dintara berupa piagam penghargaan, yang diserahkan langsung oleh Ketua PWI Batam, M A Khafi Anshary, di Kantor PWI Batam, Batam Center, Jumat (3/10).
Penyerahan dilakukan di hadapan Kepala SDN 001 Batam, H Yendri Sarman, dan ibunda Dintara, Fuji Rahayu, dalam suasana hangat dan penuh kebanggaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa wartawan juga peduli pada dunia pendidikan. Selama ini berita soal sekolah cenderung negatif. Padahal banyak prestasi yang layak diangkat, seperti yang diraih Dintara,” ujar Sekretaris PWI Batam, Romi Chandra.
Ia menambahkan, penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berprestasi, sekaligus menjadi ajakan bagi pemerintah daerah agar turut memberi apresiasi pada generasi muda yang berprestasi.
“Kami harap Wali Kota Batam dan seluruh pihak ikut ambil bagian dalam memberi ruang dan penghargaan bagi anak-anak hebat seperti Dintara,” imbuh Romi.
Kepala SDN 001 Batam, H Yendri Sarman, mengaku bangga sekaligus terkesan dengan Dintara. Baginya, Dintara bukan hanya cemerlang dalam akademik, tapi juga aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
“Dia ini seperti ‘joker’ di permainan kartu. Bisa di mana saja. Aktif di paskibra, dokter kecil, senam, dan tentu saja, juara di akademik. Sejak kelas V, kami sudah melihat potensinya,” kata Yendri.
Saat ditanya soal keberhasilannya, Dintara menjawab dengan nada rendah hati.
“Tahun lalu saya cuma sampai tingkat kota. Nggak nyangka tahun ini bisa sampai nasional dan juara dua. Alhamdulillah, saya senang sekali,” ucapnya dengan mata berbinar.
Meski aktif di banyak kegiatan, Dintara mengaku tetap membagi waktu dengan baik. Ia rajin belajar, berdoa, dan tak lupa membantu sang ibu di rumah. Soal gawai? Tetap ada, tapi dibatasi.
“Kalau di sekolah lebih banyak belajar. Di rumah istirahat, bantu mama, baru kadang main HP. Tapi tetap diselingi belajar juga,” ungkapnya.
Ibunda Dintara, Fuji Rahayu, tak menyangka anaknya bisa sampai sejauh ini.
“Awalnya saya pikir cuma ikut ekskul atau cerdas cermat biasa. Ternyata sampai nasional. Kami nggak kasih les tambahan. Dia belajar dari minatnya sendiri,” ujar Fuji, haru.
Bagi Fuji, prestasi Dintara adalah bukti bahwa dukungan keluarga dan semangat belajar anak jauh lebih penting dari tekanan akademik.
“Kami ingin anak tetap menikmati masa kecilnya. Dan ternyata, dengan semangat dan disiplin, dia bisa buktikan semuanya,” tambahnya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



