Sabtu, 10 Januari 2026

QRIS Menembus Batas

Dari Warung Kopi hingga Lintas Negara

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. BI) secara resmi meluncurkan QRIS Antarnegara yang dapat digunakan di 4 negara Asean, yaitu Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Foto: jawapos.com

Di pasar tradisional, kedai kopi hingga ritel modern di Kepulauan Riau, aktivitas orang memindai barcode dengan ponsel untuk membayar sudah menjadi pemandangan umum. Mulai beli lontong pagi di Tanjungpinang sampai beli baju di Batam, semua kini tinggal pindai. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjelma menjadi kebutuhan wajib. 

Reporter: FISKA JUANDA

Di sebuah warung kopi sederhana di Tiban, Kota Batam, seorang ibu muda mengangkat ponselnya, membuka aplikasi mobile banking, lalu memindai barcode kode batang yang tertempel di sisi etalase. 

Dengan sekali klik, secangkir kopi hitam dan sepiring goreng pisang seharga Rp35.000 pun lunas dibayar. Tak ada uang tunai berpindah tangan, hanya bunyi notifikasi yang mengonfirmasi, transaksi berhasil.

“Tidak ribet. Saya tak perlu bawa uang tunai setiap hari,” kata Rahmawati, ibu muda tersebut, Rabu (25/6).

Kepada Batam Pos, dia mengatakan, sejak ada QRIS, hampir tak pernah membawa dompet atau pegang uang tunai.

“Semuanya tinggal tap-tap saja. Selesai semua pembayaran,” ujarnya. 

Hal yang senada diucapkan oleh Alamudin Hamapu, warga Kabil. Dia mengatakan, jarang membawa uang dalam bentuk fisik. Cukup bawa ponsel, semuanya sudah berada dalam genggaman. 

“Kemana-mana cukup bawa ponsel,” ucapnya. 

Alasannya, setiap tempat yang dikunjunginya menyediakan layanan QRIS.

“Di Batam saya tak khawatir tak bawa tunai. Di kedai kopi pun sudah ada QRIS, tinggal barcode (pindai) selesai sudah,” tuturnya. 

Odi Nazar, Warga Tanjungpinang, mengaku, kebiasaan itu juga dilakukannya. Kedai-kedai kopi yang disinggahinya usai bekerja, selalu menyediakan QRIS.

“Jadi tak usah bawa duit (uang kartal). Beli lontong aja bisa pakai QRIS,” ucapnya. 

Pemakaian QRIS bukan lagi sesuatu yang langka di Kepri. Berdasarkan data dari Bank Indonesia Perwakilan Kepri, di caturwulan pertama tahun 2025, jumlah pengguna QRIS di Kepri sebanyak 539.337 pengguna.

Ada penambahan sebanyak 9.010 pengguna baru di periode Januari hingga April.

Tak hanya pengguna QRIS saja yang bertambah. Para pelaku usaha juga berbondong-bondong bergabung dalam ekosistem digital ini.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Adidoyo Prakoso, mengatakan, sebanyak 48.812 merchant baru terdaftar sepanjang Januari-April 2025.

Sehingga, total merchant di Kepri mencapai angka 628.056. Jika dibandingkan tahun lalu, naik hampir 20 persen. 

Sebagian besar berasal dari sektor mikro dan informal. Pedagang kaki lima, warung kecil, hingga toko kelontong di hinterland mulai mengenal kode QR sebagai alat transaksi sehari-hari. QRIS bukan lagi barang kota, tapi sudah menyentuh sudut-sudut terjauh di provinsi ini.

“Kami ingin siapa pun, dari warung kopi di hinterland sampai pelaku UMKM di kota, bisa terkoneksi dalam satu sistem pembayaran,” kata Adidoyo. 

Dari sisi transaksi, dampaknya terasa nyata. Dari Januari hingga April 2025, volume transaksi QRIS di Kepri telah mencapai 18 juta.

Tumbuh lebih dari 104 persen, dibanding tahun sebelumnya. Nilainya mencapai Rp2,6 triliun, meningkat 345 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ini bukan tanpa usaha dan kerja keras. Bank Indonesia Kepri membangun strategi literasi dan promosi yang masif. 

Mulai dari iklan QRIS di Bandara Hang Nadim, Trans Batam, bioskop, hingga edukasi dalam festival rakyat seperti Creative and Innovative Riau Islands Carnival (CERNIVAL).

CERNIVAL tak sekadar festival musik dan bazar UMKM. Di dalamnya, masyarakat diajak berinteraksi langsung dengan QRIS lewat aneka permainan, simulasi pembayaran, hingga kompetisi merchant

Bank Indonesia juga membawa QRIS masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya tak tersentuh teknologi transaksi digital, rumah ibadah, sekolah, komunitas UMKM, hingga para pramuwisata.

Masyarakat diajak mengenal transaksi yang bukan hanya praktis, tapi juga aman dan tercatat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto. F. Humas Bank Indonesia untuk Batam Pos

Beberapa waktu lalu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto, mengatakan, QRIS menjadi alat baru yang menawarkan kemudahan dan kepercayaan. 

Meskipun begitu, belum semua pihak nyaman meninggalkan uang tunai. Di beberapa pulau, masih ada yang belum sepenuhnya paham manfaat QRIS.

Untuk itu, kata Rony, BI Kepri menempuh jalur kolaboratif, menggandeng pemerintah daerah, komunitas, hingga media lokal untuk menyebarkan pemahaman mengenai QRIS. 

Dia yakin, ke depan QRIS akan menjadi standar baru transaksi.

“Koordinasi antar pemerintah, sektor usaha, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan daya tahan ekonomi daerah menghadapi dinamika global,” ucap Rony. 

Saat ini, Kepri juga menjadi pelopor QRIS lintas negara (cross-border), sebuah inisiatif yang memudahkan wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2023, transaksi lintas negara menggunakan QRIS terus menunjukkan geliat pertumbuhan yang menjanjikan. 

Tak sekadar menjadi alat pembayaran domestik, QRIS kini menembus batas negara dan memudahkan wisatawan mancanegara bertransaksi di Indonesia, khususnya di daerah perbatasan dan destinasi wisata seperti Kepri.

Setahun terakhir, Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau mencatat total 21.715 transaksi yang dilakukan wisatawan asal Malaysia mencapai Rp6,96 miliar.

Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya, tumbuh hingga 384 persen secara frekuensi dan 789 persen dari sisi nominal.

Sementara itu, wisatawan dari Singapura juga aktif memanfaatkan QRIS. Di periode yang sama, sebanyak 4.883 kali transaksi tercatat dengan nilai total Rp1,69 miliar.

Pertumbuhan penggunaannya bahkan lebih tinggi dalam hal jumlah transaksi, yakni 445 persen, dan ada peningkatan sebesar 412 persen dari sisi nominal.

Penggunaan QRIS oleh wisatawan asal Thailand mulai menunjukkan geliat. Meski masih terbatas, transaksi dari wisatawan Thailand mencapai 198 kali dengan nilai Rp14,76 juta.

Namun, jika melihat pertumbuhannya, justru inilah yang paling mencolok. Sebab, naik 761 persen dari sisi jumlah transaksi, dan 255 persen secara nominal dibanding tahun sebelumnya.

QRIS cross border dinilai sebagai kunci untuk meningkatkan daya saing sektor pariwisata di Kepri. Apalagi Kepri merupakan salah satu wilayah perbatasan yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. 

Keberadaan QRIS cross border dapat menjadi jembatan perbedaan platform pembayaran antarnegara. Hal ini membuat transaksi lebih mudah serta efisien.

Hal yang senada disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Batam, Ardiwinata. Dia  membenarkan, bahwa QRIS memberikan dampak besar terhadap pariwisata. “Iya (saat ditanya Batam Pos mengenai transaksi QRIS yang memudahkan transaksi wisatawan saat berkunjung ke Batam),” ucap Ardi.

QRIS, kata Ardi, sangat memudahkan wisatawan nusantara, maupun mancanegara dalam bertransaksi. “Karena wisata itu identik dengan sesuatu yang seru, menyenangkan, dan bikin happy,” ujarnya. (*)

Update