Jumat, 23 Januari 2026

Rupiah Melemah, Kunjungan Wisman ke Batam Meningkat

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Sejumlah wisatawan asyik bermain gokar di kawasan wisata Golden City Bengkong. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing dalam sepekan terakhir justru memberi dampak positif bagi sektor pariwisata Batam. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tetap stabil, bahkan menunjukkan tren kenaikan.

Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI), nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) tercatat berada di level Rp16.964,40 per USD (kurs jual) dan Rp16.795,60 (kurs beli). Sementara dolar Singapura (SGD) menguat ke Rp13.168,05 (jual) dan Rp13.031,97 (beli).

Adapun ringgit Malaysia (MYR) berada di kisaran Rp4.184,61 (jual) dan Rp4.137,87 (beli).
Kondisi tersebut dinilai membuat Batam semakin kompetitif di mata wisatawan asing, khususnya dari negara-negara tetangga.

Sekretaris PHRI Batam sekaligus pemilik Biz Hotel Nagoya, Teddy, mengatakan pelemahan rupiah sejak awal tahun berdampak langsung pada meningkatnya kunjungan wisatawan lintas negara ke Batam. Berdasarkan pantauan sejumlah hotel, tingkat hunian naik signifikan.

Baca Juga: Kisah Warga Tanjung Sengkuang Segel Meteran Air di Kantor DPRD Batam

“Dengan tukar rupiah yang melemah, segmen tamu lintas batas meningkat. Dari beberapa hotel, kenaikannya berkisar 20 hingga 25 persen secara year on year dibanding Januari 2025 lalu,” ujar Teddy saat dihubungu Batam Pos, Kamis (22/1) sore.

Menurut Teddy, wisatawan asal Singapura masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan ke Batam. Namun, peningkatan juga terlihat dari wisatawan Malaysia.

“Masih didominasi Singapura, tapi kenaikannya signifikan. Bahkan ada satu hotel yang mencatat tamu asal Malaysia naik lebih dari 30 persen dibanding Januari tahun lalu,” katanya.

Kenaikan tersebut tercatat sejak minggu pertama Januari 2026. Untuk data kumulatif kunjungan wisatawan ke Batam secara keseluruhan, Teddy mengaku masih menunggu rilis resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).

“Di Biz Hotel sendiri, okupansi naik sekitar 30 persen. Untuk sementara kami hanya bisa sampaikan dalam persentase,” ujarnya.

Baca Juga: Pasar Properti Batam Tetap Stabil di Tengah Penguatan Dolar

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardi Winata, menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak mengganggu arus kunjungan wisatawan ke Batam. Sebaliknya, Batam justru diuntungkan karena posisinya sebagai kota MICE (Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions).

“Batam ini kota MICE. Banyak pertemuan bisnis, kegiatan pemerintahan, organisasi, komunitas, hingga reuni yang digelar di sini,” kata Ardi.

Ia menjelaskan, kekuatan Batam terletak pada dukungan infrastruktur pariwisata yang lengkap. Saat ini, Batam memiliki sekitar 238 hotel dengan fasilitas yang memadai dan lokasi strategis

“Hotel-hotel kita mendukung. After meeting-nya juga banyak pilihan, mulai dari kuliner, golf, bersepeda, wisata religi ke masjid atau vihara, sampai ke kawasan wisata bahari seperti Bengkong Laut,” jelasnya.

Menurut Ardi, dalam konsep kota MICE, aktivitas pasca pertemuan menjadi faktor penting. Batam dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut.

“Setelah meeting, orang mau ke mana? Di Batam semuanya ada. Itu sebabnya Batam menarik sebagai kota pertemuan. Ini juga sejalan dengan 15 program prioritas Wali Kota Batam dalam mendorong investasi dan pengembangan destinasi MICE,” tegasnya.

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, Ardi memastikan arus wisatawan ke Batam tetap terjaga. Bahkan, dari hasil pemantauan sementara, kunjungan menunjukkan tren peningkatan.

“Pantauan kami, kunjungan wisatawan meningkat. Arusnya tetap normal dan cenderung naik. Untuk angka detail dan persentasenya, nanti akan dirilis resmi oleh BPS,” pungkasnya.(*)

ReporterM. Sya'ban

Update