
batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing hingga sekitar Rp4.290 per ringgit Malaysia dan Rp13.325 per dolar Singapura memberi dampak beragam bagi dunia usaha.
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, menilai sektor yang paling merasakan tekanan adalah pelaku usaha yang bergantung pada impor namun menjual produknya di pasar domestik.
Kenaikan biaya impor akibat kurs yang melemah membuat harga pokok produksi meningkat. Sementara daya beli masyarakat dalam negeri belum tentu ikut naik. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan bahkan memicu kenaikan harga jual.
Baca Juga: RI-AS Bangun Ekosistem Industri Chip, Rp500 Triliun Mengalir ke Galang
Sebaliknya, pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak bagi pelaku usaha yang mengimpor bahan baku tetapi menjual produknya kembali ke pasar luar negeri. Bahkan, eksportir justru memperoleh keuntungan tambahan karena pendapatan dalam mata uang asing meningkat saat dikonversi ke rupiah.
“Pengusaha di Batam yang berorientasi ekspor cenderung diuntungkan, karena sebagian besar biaya operasional mereka dibayar dalam rupiah, sementara pendapatan diterima dalam mata uang asing,” katanya, Kamis (19/2).
Beban berat turut dirasakan oleh pelaku usaha yang memiliki utang dalam mata uang asing kepada bank luar negeri. Ketika rupiah melemah, nilai cicilan dan pokok utang otomatis meningkat dalam rupiah.
Selain dunia usaha, dampak signifikan juga dirasakan oleh konsumen domestik, terutama yang gemar mengonsumsi produk impor. Harga barang impor berpotensi naik, sehingga menekan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Konjen Singapura Apresiasi Lompatan Investasi Batam
Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai tidak menghambat rencana ekspansi usaha, khususnya di Batam sebagai kawasan industri dan perdagangan internasional. Justru kondisi ini dapat mendorong ekspansi karena perusahaan berorientasi ekspor memperoleh tambahan keuntungan dari selisih kurs.
Di sisi lain, melemahnya rupiah berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan asing, terutama dari negara dengan mata uang lebih kuat seperti Malaysia dan Singapura. Fenomena meningkatnya wisatawan tersebut, kata Rafki, mulai terasa di wilayah Kepulauan Riau dalam beberapa bulan terakhir.
“Ketika mata uang mereka menguat, biaya berwisata ke Indonesia menjadi lebih murah, sehingga kunjungan wisatawan meningkat,” kata dia. (*)



