
batampos – Nilai tukar Rupiah ditutup di level Rp 15.634 per dolar AS pada Rabu (4/10) sore. Mata uang negara Indonesia ini melemah 54 poin atau 0,35 persen dari perdagangan sebelumnya. Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Interbank Spot Dollar Rate menempatkan Rupiah di posisi Rp 15.636 per dolar AS.
Ada beragam faktor yang menyebabkan melemahnya kurs Rupiah. Mulai dari diferensiasi inflasi, diferensiasi suku bunga, defisit neraca berjalan, utang publik, ketentuan perdagangan, sampai dengan stabilitas politik dan ekonomi di suatu negara.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan, perubahan nilai tukar (kurs) mata uang suatu negara tidak selamanya berdampak buruk atau negatif. Ada hal positif yang bisa diambil dari melemahnya kurs rupiah.
“Bagi perekonomian Kota Batam dengan pelemahan rupiah ini malah lebih bagus. Apalagi di Batam hampir 90 persennya itu orientasi ekspor,” ujar Rafki kepada Batam Pos, Kamis (5/10).
Baca Juga: BP Batam Pegang HPL Rempang dan Galang
Akibat kurs rupiah melemah maka banyak permintaan dari luar terhadap produk-produk Indonesia. Meningkatnya pembelian produk dalam negeri tentu saja meningkatkan keuntungan eksportir di Batam.
Kondisi ini adalah hal yang logis karena bila barang-barang dalam negeri dijual dengan mengacu kepada rupiah, sudah tentu importir yang membelinya dengan mengonversi dolarnya ke rupiah akan mendapatkan barang dalam jumlah lebih besar dari pada sewaktu rupiah menguat.
“Jadi ketika mata uang rupiah melemah terhadap dolar, maka barang dari Batam (ekspor) itu akan lebih murah ketika sampai di luar negeri, ketika dikonversi ke dolar AS, sehingga tentu harga barang tersebut akan semakin kompetitif,” sebut Rafki.
Tidak hanya itu saja, harga yang kompetitif ini juga berimbas pada permintaan barang ekspor dari Batam. “Yang terbebani itu perusahaan yang melakukan importir, tentu harga barang yang dibeli menyesuaikan nilai kurs dolar. Sebagaimana diketahui Batam, selain melakukan eksportir juga mengimport bahan baku, dan mesin dari luar tentu berdampak,” tuturnya.
Namun demikian, bagi pengusaha yang melakukan importir ini tentu akan menutup selisih pelemahan rupiah ketika mereka melakukan ekspor atau menjual kembali produk ke luar negeri.
Baca Juga: BMKG Sebut Batam Tak Terdampak Kabut Asap, Tapi Cenderung Berawan
“Artinya pelemahan rupiah ini membuat pengusaha di batam atau pelaku usaha di Batam itu lebih diuntungkan dibandingkan dengan pelaku usaha di daerah lain, semiaalnya mereka yang menjual produk ke dalam negeri,” ungkap Rafki.
Selain dua hal ini lanjut Rafki, pelemahan rupiah juga akan berdampak kepada biaya yang dibayar dengan menggunakan rupiah. Hal ini tentu saja akan meringankan bagi pengusaha Batam, karena pengahasilan yang didapatkan dari dolar dan dikonversikan menjadi rupiah tentu akan lebih besar dibandingkan dengan sebelum adanya pelemahan rupiah ini.
“Seharusnya dengan adanya pelemahan rupiah ini bisa mendorong aktifitas perusahaan di Batam untuk lebih kencang lagi. Mendorong pertumbuhan ekonomi Batam karena permintaan produk dari luar tentu akan bertambah,” tutupnya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



