
batampos – Siang itu, jalanan di kawasan Mukakuning, Batamindo, mendadak berbeda. Di antara deru kendaraan dan kesibukan kawasan industri, pohon-pohon tabebuya tiba-tiba bermekaran.
Kelopak bunga berwarna merah muda, putih, hingga kuning berguguran pelan. Sebagian jatuh di aspal jalan, sebagian lagi menempel di rumput hijau. Pemandangan itu membuat warna jalanan seolah berubah menjadi karpet bunga.
Beberapa pengendara bahkan memperlambat laju kendaraannya. Ada yang berhenti sejenak, ada pula yang turun untuk mengabadikan momen yang jarang terjadi itu.
Mariah Anita, seorang pengendara motor yang melintas, termasuk yang tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Ia memarkir kendaraannya di tepi jalan, lalu mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto. “Bagus bang buat ambil foto-foto,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: Puncak Arus Mudik Diprediksi 18 Maret, Penumpang Bandara Hang Nadim Diproyeksikan 285 Ribu
Fenomena bunga tabebuya yang bermekaran memang selalu menarik perhatian warga Batam. Tidak sedikit orang menyebutnya sebagai “sakura-nya Batam”, karena bentuk dan keindahan bunganya yang mirip dengan bunga sakura di Jepang.
Ari Pradana, salah satu karyawan di kawasan Batamindo, mengatakan bunga tersebut memang hanya mekar pada waktu tertentu setiap tahun. “Sekali setahun saja dia ini bang. Kayak sakura,” katanya
Pohon dari Amerika Latin
Tabebuya sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Pohon ini berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan, seperti Brasil, Meksiko, dan Paraguay.
Nama ilmiahnya Handroanthus atau Tabebuia, dan termasuk dalam keluarga Bignoniaceae. Di beberapa negara, pohon ini dikenal sebagai pink trumpet tree atau golden trumpet tree, karena bentuk bunganya yang menyerupai terompet.
Baca Juga: Kendaraan Bisa Dititip di Kantor Polisi, Polresta Barelang Siapkan Parkir Aman bagi Pemudik
Di Indonesia, tabebuya mulai populer sekitar dua dekade terakhir sebagai tanaman penghijauan kota. Banyak pemerintah daerah menanamnya di pinggir jalan karena pohon ini relatif kuat, tahan panas, dan memiliki bunga yang indah
Batam menjadi salah satu kota yang cukup banyak menanam tabebuya, terutama di kawasan industri dan beberapa jalan utama.
Mekar Hanya Sekali Setahun
Keunikan tabebuya terletak pada pola mekarnya. Pohon ini biasanya mekar satu hingga dua kali dalam setahun, tergantung kondisi cuaca dan jenisnya.
Menariknya, bunga tabebuya sering muncul ketika pohonnya hampir tidak memiliki daun. Karena itu, ketika musim berbunga tiba, seluruh cabang pohon dipenuhi warna bunga yang mencolok.
Musim mekarnya biasanya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu saja. Setelah itu, bunga akan berguguran dan pohon kembali menghijau dengan daun-daunnya. Itulah sebabnya momen tabebuya mekar sering dianggap istimewa.
Bukan Sekadar Indah
Selain mempercantik kota, tabebuya juga diyakini memiliki sejumlah manfaat.
Dalam pengobatan tradisional di Amerika Latin, kulit batang tabebuya sering digunakan sebagai bahan herbal yang dipercaya memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri.
Sementara secara psikologis, pemandangan bunga yang indah juga dipercaya memberi efek positif bagi kesehatan mental.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Industri Batam Aman
Warna-warna cerah seperti merah muda, kuning, dan putih dapat memberi rasa tenang dan memperbaiki suasana hati. Tidak heran jika banyak orang merasa lebih segar ketika melihat pohon tabebuya bermekaran.
Bagi warga Batam yang sehari-hari disibukkan aktivitas kota industri, momen ini menjadi semacam jeda kecil yang menyenangkan.
Sejenak, hiruk-pikuk kawasan industri berubah menjadi latar foto yang romantis.
Kelopak bunga yang jatuh perlahan di jalanan seperti mengingatkan bahwa bahkan di tengah kota yang sibuk, keindahan alam masih bisa muncul, meski hanya sebentar.(*)



